Birokrat Jatim Korup

Opini Hukum, Sabtu, 3 Desember 2009 (Surabaya Pagi)

Kata korupsi semakin akrab ditelinga masyarakat Indonesia. Hal itu terjadi karena peristiwa pengungkapan tentang korupsi tiada henti. Media massa (cetak maupun elektronik) terus memberitakan kasus terungkapnya korupsi diberbagai lini kehidupan masyarakat. Baik, elite negara hingga pejabat daerah mulai terbongkar kebejatannya dan konsekuensinya diseret ke penjara oleh aparat penegak hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Semakin banyak koruptor di tangkap aparat penegak hukum membuktikan jika moral pejabat negara Indonesia semakin menipis. Dari segi mana pun, tidak ada pembenaran bahwa tindak pidana korupsi bisa diterima masyarakat. Karena itu, sungguh menyedihkan jika melihat perilaku pejabat negara yang sudah bobrok dan tidak bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya merugikan negara.

Lucunya, banyak pejabat hidup bergelimang harta dengan materi haram hasil korupsi ternyata adalah seorang intelektual dan taat beragama. Bukannya merasa malu dan takut, banyak di antara para koruptor yang menikmati gelimang harta hasil korupsiny. Tidak adanya penyesalan itulah yang membuat koruptor tidak ada bedanya dengan binatang. Sehingga banyak pejabat yang tidak bisa menjadi teladan masyarakat.

Jika dianalisa lebih lanjut, koruptor biasanya mencari segala peluang untuk bisa mendapatkan uang. Semua usaha dikerahkan hanya untuk mencari kepuasan duniawi semata, tanpa pernah sadar bahwa perbuatannya menyimpang. Karena itu, sangat pas jika disimbolkan dengan Tikus yang suka mengendap-endap untuk mencari kesempatan kabur. Mencuri uang diam-diam dan membelanjakannya untuk kebutuhan konsumtif adalah tuntutan sehari-hari yang harus dipenuhi.

Padahal Nabi Muhammad Saw. pernah berujar bahwa yang membedakan manusia dengan binatang adalah akal pikirannya. Manusia dibekali Allah Swt. dengan diberikan akal pikiran untuk membedakan mana perbuatan baik dan buruk. Sehingga dengan segala konsekuensi logis, setiap orang bakal mampu membedakan perbuatan baik atau buruknya dan dampak yang ditimbulkannya.

Manusia yang diberikan akal pikiran untuk membedakan perilaku baik dan buruk, malah pegangan itu tidak digunakan koruptor untuk menilai perbuatannya. Hal itu menandakan jika moral koruptor sudah berada pada titik nadir dan rusak. Karena itu, sangat pantas jika perilaku koruptor itu sama dengan binatang, yang hanya menuruti kesenangannya dan nafsunya belaka. Tanpa pernah memikirkan akibat buruk akibat perbuatan yang ditimbulkannya.

Uang hasil korupsi dinikmati untuk memenuhi segala keinginan pribadinya yang terus membesar. Jika pemasukan dari gaji sudah tidak mampu lagi memenuhi segala nafsunya. Jalan lain ditempuh dengan menghalalkan segala cara demi mengeruk keuntungan pribadi. Asalkan keinginan tercapai maka tidak jadi soal apakah hasil uang yang didapatkan halal atau tidak.

Sehingga dari asumsi di atas, bisa dianalogikan jika koruptor sangat cocok disandingkan dengan binatang. Karena perilakunya tidak ada bedanya dan hanya menuruti nafsunya belaka tanpa pernah sadar akibat yang ditimbulkan perbuatannya. Buktinya jika merasa berdosa pastinya mereka akan mengembalikan uang hasil curiannya dan tidak menunggu aparat penegak hukum turun lapangan.

Perilakunya yang merusak dan tidak pernah timbul penyesalan, serta yang penting keinginan terpenuhi, entah tindakan yang telah dilakukan baik atau buruk, bukan jadi soal. Sehingga dapat dikatakan jika perilaku koruptor itu seperti binatang! Dan masyarakat pasti tidak ada yang menyangkalnya.

Erik Purnama Putra

Anggota Forum Diskusi Ilmiah Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: