Menyoal Program Konversi Elpiji

Forum Pembaca, Jumat, 2 Januari 2009 (Duta Masyarakat)

Program pemerintah melaksanakan kebijakan konversi energi untuk masyarakat dengan mengganti bahan bakar minyak tanah menjadi elpiji banyak menemui kendala dan tidak berjalan mulus. Jika ditarik benang merah, persoalannya klise, yaitu ketidaksiapan Pertamina sebagai penanggungjawab yang diberi mandat pemerintah untuk melaksanakan konversi elpiji, ternyata kurang tanggap dengan kondisi di lapangan.

Tersendatnya pendistribusian tabung dan kompor gas gratis hingga sulitnya masyarakat mencari pengisian tabung adalah masalahnya. Hal itu jelas menjadi permasalahan pelik di masyarakat. Pasalnya, sudah banyak rumah tangga yang sudah berganti elpiji dan ketika tabung gas elpiji habis dan perlu diisi ulang, persediaan elpiji menghilang di pasaran. Untuk ganti menggunakan minyak tanah juga bukan pilihan mudah. Karena harganya juga melambung tinggi dan pasokannya terbatas. Akibatnya, masyarakat menjadi korban ketidaksiapan Pertamina mengantisipasi program konversi.

Program konversi energi adalah sebuah terobosan baru dan perlu didukung banyak pihak. Karena itu, masyarakat juga perlu ikut proaktif mengawasi kinerja Pertamina supaya pelaksanaan program ini lancar dan masyarakat dapat menikmati keuntungan program ini.

Jika dicermati, munculnya berbagai hambatan di lapangan karena belum siapnya tenaga dan infrastruktur yang dimiliki Pertamina. Buktinya, elpiji tabung tiga kilogram (kg) sulit didapatkan. Padahal, hampir semua masyarakat sasaran program konversi sudah siap dan mulai menggunakan elpiji sebagai bahan bakar.

Kondisi itu berakibat naiknya permintaan elpiji, seperti dituturkan, Wapres Jusuf Kalla, hingga 400 persen. Dan kenaikan drastis itu di luar dugaan Pertamina. Sehingga berakibat Pertamina tidak mampu mengimbangi pasokan elpiji, khususnya tabung tiga kg di pasaran. Dampaknya, masyarakat kelimpungan dan harga tabung melonjak drastis. Lagi-lagi masyarakat yang menjadi korban.

Menyikapi itu, sudah saatnya Pertamina mulai menata manajemen dan mengatur pola distribusi peredaran elpiji guna menciptakan iklim distribusi lebih baik di lapangan. Di samping mencegah langkanya peredaran elpiji. Juga, supaya program konversi bisa cepat dituntaskan, dan masyarakat semua bisa menggunakan elpiji sebagai bahan bakar memasak.

Idealnya pemerintah perlu turun tangan untuk melakukan intervensi guna mencari penyebab langkanya elpiji di pasaran. Jika saat ini pelaksanaan konversi kurang lancar, Pertamina harus bertanggungjawab dan mengevaluasi kinerjanya. Pertamina harus melaksanakan instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menginginkan kinerja Pertamina lebih ditingkatkan dan profesional. Jangan sampai masyarakat sudah beralih dan tidak mengonsumsi minyak tanah, namun elpiji ukuran 3 kg langka di pasaran, yang dapat menimbulkan kekecewaan masyarakat.

Karena program ini sangat bagus bagi perjalanan bangsa ke depannya dalam rangka memenuhi kebutuhan energi masyarakat. Hal itu mengingat jumlah gas alam yang dimiliki Indonesia masih berlimpah. Berbeda dengan jumlah cadangan minyak bumi yang sudah sangat menipis dan dalam hitungan belasan tahun akan habis jika tidak ditemukan cadangan minyak baru.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM

e-Mail: erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: