BBM Langka dan Buruknya Kinerja Pertamina

Forum Pembaca, 6 Januari 2009 (Duta Masyarakat)bbm-langka1

Memasuki tahun baru 2009, sebagian masyarakat dihadapkan pada kenyataan tidak mengenakkan berkaitan dengan sulitnya masyarakat mendapatkan premium di pasaran. Faktanya, beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, Cirebon, Semarang, Tulungagung, dan Banjarmasin, serta banyak daerah lain yang mendapati keadaan kekosongan premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Kondisi itu membuat masyarakat menjadi pihak yang dirugikan karena aktivitas ekonominya menjadi terhambat dan terganggu.

Hilangnya premium di pasaran disinyalir pihak SPBU karena alur distribusi dari Pertamina mengalami perubahan hingga membuat pasokannya menjadi telat. Pasalnya, sekarang Pertamina memberlakukan aturan sistem teknologi informasi baru pemesanan Bahan Bakar Minyak (BBM) kepada setiap SPBU. Sehingga kondisi itu berakibat tersendatnya dan terjadinya ketidaklancaran pengiriman BBM ke setiap SPBU.

Kondisi itu layak disesalkan. Pasalnya, jika Pertamina memberlakukan aturan baru, namun mengapa tidak diikuti dengan sosialisasi dan kesiapan infrastruktur guna mencegah timbulnya dampak negatif yang ujungnya merugikan masyarakat banyak. Jelas di sini terbukti Pertamina tidak antisipatif dengan resiko di lapangan dengan keluarnya aturan baru pembelian BBM pada tiap SPBU.

Janji Pertamina yang menyatakan bahwa pasokan akan cepat normal ternyata tidak terbukti. Malahan, banyak SPBU di banyak kota yang mengalami kekurangan pasokan BBM. Harusnya Pertamina mengantisipasi dampak di lapangan jika menerapkan aturan pembelian BBM baru pada setiap SPBU. Hal itu supaya masyarakat sebagai konsumen tidak dirugikan.

Jika menengok dan merekam kinerja ke belakang, kejadian Pertamina merugikan masyarakat sudah bukan barang baru. Kesalahan fatal bersifat klise sudah tak terhitung lagi dilakukan Pertamina, yang menandakan kinerja dan manajemen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) minyak dan gas (migas) itu tidak profesional.

Pasalnya, belum lama ini perusahaan migas milik negara itu juga tidak bisa menunjukkan kinerja bagus ketika program konversi energi dari minyak tanah beralih ke elpiji tersendat. Kesiapan Pertamina yang akan menjaga pasokan elpiji juga tidak terbukti. Sehingga elpiji di pasaran sulit dicari yang membuat harganya melambung. Dan sekali lagi hal itu membuat masyarakat menjadi korban karena harus mengeluarkan dana lebih untuk mendapatkan tabung elpiji yang harganya melambung tinggi.

Sayangnya, meskipun kinerjanya masih sering tidak beres jika tidak boleh disebut buruk, namun hingga saat ini belum ada good will (niatan baik) dari Pertamina untuk meningkatkan pelayanan dan performance kinerjanya guna melayani rakyat sebagai pemilik saham sebenarnya Pertamina.

Sudah menjadi tugas Pertamina untuk membantu menunjang sektor kehidupan aktivitas masyarakat.

Erik Purnama Putra

Reporter Koran Kampus Bestari UMM

Gedung SC Lt.1 Bestari Kampus III Unmuh Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: