Hasil Survei Membingungkan

Suara Konsumen, Rabu, 7 Januari 2009 (Surabaya Post)

Mendekati pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu), semakin banyak lembaga survei melakukan tugasnya. Sayangnya, dari berbagai hasil yang dikeluarkan lembaga survei politik, antara satu dengan lainnya tidak sama. Bahkan hasilnya saling bertolak belakang antar lembaga survei.

Terbaru, Indonesian Political Marketing Research (IPMR), sebuah lembaga baru bentukan Hermawan Kertajaya, di bawah naungan korporasi Markplus membeberkan hasil surveinya, Selasa (23/12). Kegiatan penelitian politik itu sendiri dilakukan selama Bulan November, dan melibatkan jumlah responden terbesar hingga mencapai 16.800. Yang diambil dari 77 daerah pemilihan (dapil) di 33 provinsi seluruh Indonesia.

Hasil publikasi IPMR sungguh mengejutkan. Partai Golkar menempati urutan teratas daftar partai politik (parpol) paling populer di mata masyarakat yang berpeluang dicoblos dengan mengantongi 22 persen responden. Posisi selanjutnya diikuti Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP) dengan nilai 20,2 persen. Sedangkan Partai Demokrat (PD) mendapatkan angka popularitas sebesar 16 persen.

Hasil itu jelas mematahkan data survei yang dilansir Reform Institute (RI) sehari sebelumnya. Di mana, saat itu RI menempatkan PD didaftar teratas partai populer di mata masyarakat dengan nilai 26,36 persen. Diikuti PDIP yang mendapatkan 17,8 persen, dan Partai Golkar yang hanya meraih 14,16 persen. Belum lagi lembaga survei politik lainnya yang sudah memublikasikan hasil surveinya, yang hasilnya juga jauh berbeda dengan lembaga survei lain. Hal itu menjadi cerminan bahwa proses pelaksanaan survei terkesan asal-asalan.

Menyikapi kondisi itu, sebagai masyarakat kita patut mempertanyakan metode setiap lembaga survei politik guna mendapatkan jawaban keabsahan data yang dipublikasikan. Pasalnya, sangat enah dan menimbulkan pertanyaan jika kita mengacu pada dua lembaga survei yang mempublikasikan hasil risetnya, yang antara satu dengan lainnya hasilnya berbeda jauh.

Jika kita cermat dan berpikir logis, tidak mungkin data penelitian antara RI dan IPMR bisa berbeda jauh, meskipun menggunakan metode penelitian berbeda. Mengacu pada ilmu statistik yang digunakan riset, tidak mungkin hasil penelitian dengan tujuan sama memiliki hasil berbeda yang saling bertentangan. Karena itu, masyarakat wajib mempertanyakan validitas dan reabilitas data survei.

Memang benar semakin banyak lembaga survei yang melakukan publikasi terkait popularitas parpol akan berimbas pada semakin tingginya kesadaran masyarakat akan proses pendewasaan publik. Namun, apalah artinya jika ternyata hasil survei itu tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Malah, lembaga survei melakukan penelitian berdasarkan pesanan internal partai tertentu. Hal itu jelas bukan kabar baik dan membuat masyarakat menjadi bingung harus percaya kepada lembaga survei siapa.

Untuk itu, masyarakat mulai sekarang perlu lebih cermat dan tidak langsung percaya dengan hasil penelitian lembaga survei politik. Karena harus dilakukan proses cross check dulu demi mendapatkan data valid. Pasalnya, banyak lembaga survei saat ini tidak bisa mempertanggungjawabkan penelitiannya dan kredibilitasnya belum teruji benar. Sehingga jalan satu-satunya menyikapi maraknya publikasi lembaga survei adalah dengan cuek dan tidak menelan mentah-mentah hasil publikasi yang disebarluaskan.

Erik Purnama Putra

Reporter Koran Kampus Bestari Unmuh Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: