Asingkan Koruptor ke Pulau Terpencil

Opini Hukum, Senin, 12 Januari 2009

BANYAKNYA koruptor yang dtitangkap aparat penegak hukum membuat penjara penuh sesak dijejali pencuri uang rakyat. Menyikapi itu, sudah selayaknya jika dibuat aturan terhadap koruptor supaya ketika sudah dinyatakan bersalah dan harus mendekam di tahanan, koruptor tidak menjalaninya di penjara umum seperti sekarang. Usul saya, mendingan koruptor yang sudah terbukti bersalah dijebloskan ke sebuah penjara khusus yang bertempat di pulau terpencil.

Ide itu bukannya tanpa dasar. Kita tentu masih ingat dengan peristiwa pengasingan tahanan politik (tapol) di era Orde Baru (Orba), di mana ketika itu banyak tapol yang dipenjarakan Presiden Soeharto. Semua lawan politik Soeharto dipindahkan ke Pulau Buru. Sebuah pulau khusus terpencil yang menampung semua lawan politik Orba. Tak hanya itu. Pelaku teroris, macam Amrozi dkk. juga dimasukkan hotel prodeo di Pulau Nusakambangan. Semua penjara itu berada di pulau asing yang jauh dari keramaian.

Untuk itu, tidak ada salahnya bagi pemerintah untuk melakukan hal sama kepada koruptor. Jika teroris diasingkan dan dipenjarakan di pulau yang jauh dari peradaban. Maka layak juga bagi pemerintah untuk membuat kebijakan memenjarakan koruptor di pulau terpencil supaya memberikan bentuk pelajaran berharga kepada tikus koruptor bagaimana hidup terbatas dan jauh dari kemewahan.

Itu lebih manusiawi dan adil dibanding jika memenjarakan mereka di rumah tahanan umum. Di samping untuk menghindari pemberian fasilitas mewah di luar standar. Juga, demi memunculkan dampak pembelajaran kepada pribadi bersangkutan supaya lekas tobat dan menyesali perbuatannya.

Setidaknya diharapkan jika dipenjarakan di pulau asing, koruptor tidak bisa mendapatkan kehidupan enak dan mau tidak mau harus terbiasa menjalani hidup keras yang serba terbatas. Pasalnya dengan hidup terbiasa di daerah yang jaug peradaban, kondisi itu bisa membentuk jiwa koruptor supaya mengingatkannya bahwa banyak rakyat yang hidupnya miskin, yang diakibatkan ulah koruptor bersangkutan mencuri uang negara.

Lagian, banyak pulau di Indonesia yang tidak berpenghuni dan belum terurus. Seandainya pemerintah mau membuat sebuah penjara di pulau yang jauh dari keramaian, kebijakan itu merupakan langkah progresif bagi upaya perang melawan korupsi. Karena dengan memenjarakan koruptor di pulau asing, hal itu bisa memberikan dampak ketakutan ekstra kepada koruptor lainnya supaya tidak berbuat macam-macam.

Pemerintah sangat diuntungkan jika koruptor dikumpulkan dalam satu penjara yang berada di pulau asing. Di samping tidak memerlukan penjagaan ekstra karena keamanan terjaga dan peluang kabur lebih sedikit. Juga, bisa dijadikan sebagai langkah memaksimalkan potensi pulau yang belum terurus daripada tidak berpenghuni. Kondisi itu bakal tidak terjadi jika koruptor dimasukkan dalam penjara di kota besar. Karena pasti akan menciptakan peluang besar bagi terwujudnya peluang pemberian fasilitas dan perlakuan lebih kepada koruptor. Dan pihak sipir penjara (mungkin) bakal sering diintervensi dengan pejabat lebih tinggi lainnya jika memperlakukan koruptor seperti penghuni penjara lainnya.

Beda jika penjara di pulau terpencil berdiri. Diskriminasi fasilitas bakal lenyap dengan sendirinya. Pasalnya, bakal sulit menemukan tahanan yang diperlakukan istimewa jika berada di penjara terpencil itu. Karena memang kondisi alamnya tidak memungkinkan bagi koruptor untuk mendapatkan berbagai fasiitas dan sarana lain.

Apalagi jika penjara di bangun di pulau kecil dekat dengan perbatasan negara lain. Hal itu bisa dijadikan solusi masalah Bangsa Indonesia dalam menghadapi sengketa dengan negara lain. Yang kadang dengan seenaknya sendiri mengklaim pulau tidak berpenghuni itu sebagai bukan milik Indonesia.

Erik Purnama Putra

Aktivis Pers Kampus Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: