Tidak Butuh Pemimpin Instan

Suara Konsumen, Selasa, 13 Januari 2009 (Surabaya Post)pemimpin

Panggung politik di Indonesia selalu menawarkan berbagai sensasi dan berita baru. Kali ini, perbincangan masyarakat merebak terkait dengan maraknya munculnya politikus muda, yang namanya cepat mencuat dan meraih popularitas tinggi. Yang kebanyakan dari mereka itu dapat disebut muka baru dalam dunia perpolitikan Tanah Air.

Sayangnya, jika diruntut ke belakang, berbagai politikus muda itu ternyata terkenal dan mampu meraih nama bukan karena hasil kerja keras dan melalui proses kerja panjang. Melainkan karena mendompleng nama orang tuanya yang sudah terlebih dulu menjadi elite politik nasional.

Jika boleh menyebut nama, Puan Maharani, putri Megawati, Eddy Baskoro, putra Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Hanafi Rais, putra dari Amien Rais, yang termasuk golongan politikus muda calon legislatif, yang juga anak polikus tenar. Mereka semua adalah muka baru dalam panggung politik yang sekarang namanya sudah familiar di mata rakyat Indonesia.

Namun, banyak kalangan beranggapan bahwa politikus muda itu merupakan polikus ‘jadi’, yang bisa besar seperti sekarang karena terbantu orang tuanya. Hal itu jelas merupakan dampak kurang baik bagi sistem perpolitikan Indonesia. Pasalnya, dapat disebut jika konsidi itu adalah cerminan politik dinasti pada era modern, yang berpeluang menimbulkan sistem oligarkhi, yang sangat bertentangan dengan prinsip demokrasi.

Idealnya, politikus harus dibentuk dengan cara melalui proses panjang, yang dilalui dengan pendidikan kaderisasi supaya menjadi politikus yang berintegrasi dan teruji. Karena itu, masyarakat perlu untuk memperjuangkan suaranya agar menolak pemimpin instan. Orang seperti itu jangan dipilih sebagai upaya bentuk perlawan rakyat Indonesia.

Bahkan, hal itu sampai mengundang B.J. Habibie untuk turut berkomentar menanggapi fenomena itu. Menurut Presiden Republik Indonesia ke tiga itu, berkembangnya politik dinasti jelas kabar kurang baik bagi perkembangan demokrasi di Indonesia. Karena akan menghambat terciptanya sistem kaderisasi yang sudah terbentuk dalam internal partai. Sehingga tidak ada kata lain jika harus dilawan demi menciptakan kompetisi politik secara fair. Pasalnya jika politik dinasti dibiarkan berkembang, maka dunia perpolitikan akan dikuasai oleh kelompok tertentu yang berpeluang menciptakan sistem oligarkhi.

Menurut Azyumardi Azra, bangsa ini membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menjadi solidarity maker sekaligus problem solver. Jika hal itu dapat dipenuhi, Indonesia bisa lepas dari keterpurukan dan menjadi bangsa disegani di dunia. Dan ciri pemimpin seperti itu adalah seseorang yang memiliki karakter, yang bisa menyatukan bangsa hingga berintegrasi. Juga memiliki kapasitas untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi bangsa.

Syarat itu jelas bertentangan dengan politikus muda anak elite petinggi negara. Bangsa ini sebenarnya membutuhkan sosok pemimpin sejati bukannya calon pemimpin yang disebabkan faktor keturunan. Sehingga Indonesia tidak membutuhkan pemimpin instans yang memiliki popularitas tinggi, namun tidak mempunyai kemampuan memadai dalam dunia politik.

Karena tidak ada ceritanya anak pejabat yang dibesarkan dengan lingkungan berada dan bergaul dalam tataran elite akan mampu menjadi pemimpin yang bisa mengerti masalah rakyat. Sehingga sangat sulit mengharapkan pemimpin instant bisa menjadi pemimpin besar. Dan ditakutkan kebijakannya jauh dengan rakyat kecil. Karena itu, masyarakat Indonesia wajib menolak pemimpin instan.

Erik Purnama Putra

Jurnalis Koran Kampus Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: