Komoditas Itu Bernama PT

Citizen Journalism, Rabu, 21 Januari 2009 (Surabaya Post)

Di tengah masih terpuruknya dunia pendidikan Tanah Air dan makin mahalnya biaya masuk ke perguruan tinggi, muncul lagi polemik mengenai rencana pemerintah yang ingin agar ada perguruan tinggi (PT) di Indonesia yang bisa masuk dalam jajaran world class university. Kebijakan pemerintah (Depdiknas) yang ingin memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, yaitu dengan cara salah satunya menargetkan PT di Indonesia bisa masuk 500 Top University adalah sebuah langkah maju yang patut diapresiasi. Kebijakan pendidikan di PT tersebut dapat dikatakan sebagai terobosan yang dapat mengangkat kualitas lulusan mahasiswa Indonesia di mata internasional.

Namun sayangnya, kebijakan pemerintah itu mengesampingkan esensi pokok dari pendidikan itu sendiri, yakni makin sulitnya masyarakat mengenyam pendidikan sampai jenjang PT. Karena target agar salah satu PT di Indonesia dapat termasuk jajaran world class university adalah dengan membebankan biaya operasional yang dipakai PT kepada para mahasiswa. Sehingga mahasiswa harus mengeluarkan biaya yang sangat besar demi dapat diterima di PT tersebut.

Mengapa kebijakan yang seharusnya dapat bermanfaat meningkatkan kualitas output mahasiswa di PT ternyata malah memberatkan mahasiswa untuk memperoleh ilmu. Dimanakah letak keadilan yang seharusnya menjadi tanggungjawab pemerintah yang ingin mencerdaskan setiap generasi bangsanya. Mengapa demi mengejar titel world class university sampai harus mengorbankan masyarakat yang ingin menuntut ilmu. Untuk menjadi world class university tentu membutuhkan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi yang lebih dan tentu saja membutuhkan modal besar untuk menggapainya.

Tetapi langkah yang ditempuh pemerintah dengan membebankan biaya operasional PT kepada mahasiswa sama saja dengan melakukan penindasan akademik dan melukai kebijakan yang ingin agar kualitas sumber daya manusia (SDM) meningkat. Karena di satu sisi pemerintah ingin meningkatkan kualitas SDM dengan mengupayakan berdirinya world class university di Indonesia, sementara di sisi lain masyarakat yang ingin kuliah di PT tersebut terkendala biaya yang mencekik. Sehingga hanya golongan tertentu saja yang dapat mengenyam pendidikan secara berkualitas dan baik.

Seperti yang dilansir UNESCO tahun 2007 di mana menempatkan Indonesia pada posisi 62 dari 130 negara dalam bidang pendidikan atau turun empat posisi dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara Brunei Darussalam dan Malaysia menempati urutan di atas Indonesia, yaitu posisi 43 dan 56. Padahal data yang dilansir UNESCO tersebut menggambarkan rata-rata kemajuan pendidikan yang dicapai suatu bangsa. Sehingga dapat dikatakan pendidikan Tanah Air masih belum bisa lepas dari keterpurukan.

Mengapa trend untuk masuk PT Tanah Air dari waktu ke waktu semakin mahal saja, sedangkan di sisi lain pemerintah ingin meningkatkan kualitas pendidikan. Mengapa PT di Indonesia dijadikan sebuah dagangan akibat kebijakan pendidikan nasional yang cenderung mengikuti neoliberalisme. Padahal pendidikan adalah pilar bagi sebuah negara untuk membangun peradabannya. Namun kontradiksi muncul di Indonesia, di mana pendidikan malah tak terjangkau semua kalangan dan hanya dapat dinikmati orang-orang tertentu yang kadang hanya mengejar gelar semata dengan syarat mampu membayar sejumlah uang.

Tak ada satu negara pun yang tak menjadikan pendidikan sebagai pilar dalam membangun bangsa. Krisis multidimensial yang masih menggelayuti Bangsa Indonesia sebenarnya dapat diatasi hanya dengan satu cara asalkan pemerintah mau berkomitmen untuk memajukan dunia pendidikan nasional. Dan yang paling penting, PT jangan dijadikan sebagai sebuah dagangan yang jika ada orang yang mau kuliah syaratnya harus membayarkan sejumlah uang, bukannya dilihat dari hasil prestasi akademiknya dan kapasitas intelektualnya.

Erik Purnama Putra

Aktivis Pers Koran Kampus Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: