Organda Ogah Turunkan Tarif

Rabu, 21 Januari 2009 (Jurnal Nasional)

Sudah menjadi ‘tradisi’ masyarakat Indonesia jika kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) selalu diikuti dengan naiknya harga kebutuhan barang dan lainnya, serta tarif angkutan umum. Namun, ketika situasi berbalik, yaitu harga BBM sudah turun seperti sediakala sebesar Rp 4.500, harga berbagai macam kebutuhan rumah tangga tidak serta merta ikut turun. Bahkan yang lebih menjengkelkan lagi tarif angkutan umum tidak bereaksi dengan turunnya harga BBM sebagai komponen utama penyumbang pengeluaran operasional sopir. Kondisi itu patut kita sayangkan dan tidak boleh dibiarkan karena akan merugikan masyarakat sebagai pemakai jasa transportasi dan hanya menguntungkan segelintir sopir angkutan umum dan bus.

Karena itu langkah pemerintah mengecam keras Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda), yang dinilai lamban menurunkan tarif angkutan umum, padahal harga premium dan solar sudah turun sangat tepat. Kebijakan pemerintah menurunkan harga BBM bersubsidi meskipun dinilai banyak kalangan mengandung muatan politis tetap saja dinilai dari sudut mana pun meringankan beban hidup rakyat kecil. Sehingga dengan turunnya harga premium sebesar 25 persen dan solar 18,2 persen selayaknya disikapi Organda sebagai wadah naungan sopir untuk segera merespon dengan menurunkan tarif angkutan umum. Pasalnya jika Organda tidak segera menurunkan tarif angkutan, itu sama saja organisasi induk transportasi umum jalananan itu telah melanggar aturan dan ketetapan pemerintah.

Di situ lah letak akar permasalahannya. Ketika pertengahan tahun lalu harga BBM dinaikkan pemerintah dalam hitungan hari kalangan sopir dengan seenaknya sendiri menaikkan tarif angkutannya. Bahkan banyak yang melakukan perbuatannya itu sebelum tarif resmi yang ditetapkan Organda hasil konsultasi dengan Departemen Perhubungan (Dephub) membuat tarif resmi baru. Sehingga banyak konsumen pemakai jasa transportasi umum dirugikan saat itu.

Boleh saja waktu itu kalangan sopir berpendapat bahwa kenaikan BBM otomatis membuat pengeluaran membengkak hingga jalan satu-satunya agar sopir tidak rugi adalah dengan membebankan kenaikan tarif pada penumpang. Hal itu cukup dimaklumi mengingat banyak kalangan menaruh simpati pada sopir angkutan kota dan bus yang penghasilannya akan habis jika tidak segera menaikkan tarif.

Namun yang terjadi sekarang, langkah berkebalikan dilakukan kalangan sopir. Jangankan menurunkan tarif angkutan, diajak membahas penurunan tarif transportasi saja sempat kurang kooperatif. Sehingga kalangan Organda yang menaungi sopir bisa disebut telah melakukan dua kesalahan terhadap masyarakat. Pertama, dengan seenaknya memungut bayaran lebih kepada penumpang meskipun tarif resmi belum diberlakukan ketika tahun lalu harga BBM naik. Kedua, Organda dinilai tidak mematuhi aturan pemerintah untuk segera menurunkan tarif angkutan ketika harga BBM sudah turun. Karena itu dilihat dari segi mana pun tidak ada alasan bagi kalangan sopir untuk tidak menurunkan tarifnya.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: