Jangan Beri Ampun Bandar Narkoba

Suara Konsumen, Senin, 9 Februari 2009 (Surabaya Post)

Terungkapnya pabrik produksi sabu-sabu (SS) di daerah Cengkareng Timur, Jakarta Barat oleh Polri sangat mengagetkan masyarakat. Pasalnya tempat pembuatan SS itu berupa rumah yang disamarkan menjadi warung internet dan luasnya tidak terlalu besar. Sehingga meskipun berada di perumahan padat penduduk masyarakat sekitar tidak menaruh curiga terhadap segala aktivitas yang terjadi di dalamnya.

Tetapi, pepatah lama berbunyai sepandai-pandainya menutupi bau bangkai pada akhirnya tercium juga pantas dialamatkan pada kasus ini. Karena meskipun kedok itu sudah berusaha ditutup rapat, namun akhirnya aparat kepolisian berhasil membongkar dan menangkap tersangka pemilik pabrik SS, Edy Handoyo, yang disinyalir termasuk dalam jaringan sindikat narkoba internasional.

Temuan hasil polisi di lapangan sangat di luar dugaan mengingat ketika digerebek polisi dalam pabrik SS itu ditemukan SS siap edar dan setengah jadi sebanyak 75 kg beserta prekusornya (bahan pembuat SS) 400 kg. Dan itu bila diuangkan jumlahnya senilai Rp 120 miliar. Sehingga kasus menghebohkan itu sampai mengundang perhatian Presiden SBY untuk ikut meninjau langsung kondisi pabrik pembuatan SS.

Berkaca dari peristiwa sebelumnya di mana banyak sekali pelaku utama narkoba yang tidak mendapat ganjaran setimpal, maka sudah seharusnya sekarang pemilik narkoba di hukum maksimal. Pasalnya selama ini hukuman yang diberikan pengadilan kepada bandar narkoba dapat dikatakan ringan dan tidak sebanding dengan dampak buruk akibat kerusakan yang ditimbulkan narkoba.

Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak produsen maupun bandar narkoba kelas kakap yang tertangkap dan diadili pengadilan, namun tidak mendapatkan ganjaran hukuman setimpal atas perbuatan yang dilakukannya. Kondisi itu bertolak belakang dengan Singapura, di mana jika seseorang tertangkap aparat akibat kedapatan membawa beberapa gram narkoba hukumannya sangat berat dan terancam dihukum mati.

Di Indonesia sebaliknya, karena banyak sekali kasus narkoba yang tidak mendapatkan hukuman setimpal. Padahal daya rusak akibat narkoba lebih membahayakan dibanding kasus kejahatan lainnya karena narkoba merupakan zat berbahaya jika dikonsumsi akan dapat menghancurkan generasi muda. Sehingga dampak negatif narkoba sangat besar dalam memengaruhi kekuatan kualitas generasi sekarang. Jika banyak pemuda menjadi budak narkoba bisa dipastikan masa depan sebuah negara akan suram dan tinggal menunggu kehancurannya.

Sayangnya meskipun sudah seringkali bandar narkoba ditangkap, namun banyak pula yang hanya mendapatkan hukuman penjara dalam tempo tidak lama dan akan segera bebas. Untuk itu, sudah sewajibnya jika pemerintah melalui lembaga peradilan tidak main-main dalam menyikapi kasus narkoba. Aparat penegak hukum harus mengupayakan agar pelakunya bisa dituntut dengan hukuman maksimal supaya bisa menciptakan dampak mengerikan bagi pelaku lainnya. Jika bandar narkoba kelas kakap saja dihukum cuma penjara itu sangat tidak adil dan dianggap remeh oleh bandar lainnya sehingga mereka terus mengembangkan bisnis haramnya itu karena resiko yang ditanggung tidak besar.

Karena itu, sudah tidak bisa ditawar lagi di Indonesia harus dibuat hukum lebih tegas dan keras dalam menyikapi pelaku narkoba. Saya usul jika memungkinkan penerapan hukuman mati wajib diberikan kepada bandar pemilik pabrik narkoba atau pelaku utamanya agar banyak pelaku narkoba lainnya takut dan tidak lagi berani bermacam-macam membuat narkoba.

Penerapan hukuman maksimal harus tegas dan mutlak dijalankan demi mewujudkan pengendalian peredaran narkoba agar tidak semakin menjerumuskan generasi muda dalam lingkaran hitam. Jika setiap bandar narkoba hanya dihukum masuk hotel prodeo saya khawatir peredaran narkoba di masyarakat akan semakin meningkat pesat Sehingga jalan satu-satunya adalah tidak memberi ampun kepada pelaku utama bos narkoba. Karena aturan yang ada saat ini kurang kuat untuk memberikan efek takut kepada pihak yang terlibat narkoba.

Erik Purnama Putra

Pegiat Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: