Jangan Salah Memilih Pemimpin

Forum Pembaca, Rabu, 11 Maret 2009 (Duta Masyarakat)

Rencana Partai Golkar mengusung calon presiden (capres) sendiri dalam pemilihan umum (pemilu) dan berpisah dari Partai Demokrat (PD), membuat atmosfer dunia politik tanah air memanas. Tak hanya itu, kebijakan Partai Golkar tersebut juga akan mengakhiri duet SBY-JK yang selama 5 tahun pemerintahan ini bergandengan tangan menjalankan roda pemerintahan.

Namun, di balik itu semua ada kabar bagus bagi masyarakat karena dengan berakhirnya duet SBY-JK, maka masyarakat akan mempunyai banyak pilihan dalam pencoblosan pemilihan presiden (pilpres). Di samping itu, dinamika perpolitikan Indonesia bakal lebih mencair karena pasangan capres yang akan bertarung tidak lagi hanya didominasi SBY dan Mega.

Sehingga capres yang akan bertarung memperebutkan RI-1 bisa lebih dari 2 pasang dan munculnya peluang capres alternatif bisa lebih dimungkinkan. Tak hanya itu, berpisahnya SBY-JK membuat calon pemimpin Negara Indonesia bukan dari orang yang mewakili status quo. Sehingga harapan terpilihnya presiden baru bisa terjadi.

Pendapat tersebut bukan asal-asalan mengingat selama ini dari berbagai hasil lembaga survei politik didapatkan data bahwa pasangan SBY-JK menempati unggulan teratas dan mengungguli pasangan lainnya, serta menjadi kandidat kuat penghuni Istana Negara karena selalu berada pada posisi pertama survei.

Sementara hasil survei politik berbagai lembaga tentang capres selama ini didapatkan info bahwa SBY dan Mega merupakan tokoh teratas sebagai kandidat kuat Presiden RI. Sehingga dapat disebut pemilu 2009 hanya menjadi ajang status quo untuk menikmati kekuasaan lagi, mengingat saingannya masih jauh di bawah dan tidak bakal mampu mengejar.

Oleh sebab itu kondisinya perpecahan koalisi PD-Golkar tersebut dapat disebut berkah bagi partai politik kecil. Dan kita tentu patut mengapresiasi secara khusus jika pada akhirnya partai berlambang Pohon Beringin itu berani memunculkan capres sendiri dan tidak hanya berada pada posisi kedua seperti sekarang. Karena itu berarti rakyat mempunyai semakin banyak pilihan pemimpin.

Di samping akan membuat kompetisi capres menjadi lebih seru. Masyarakat juga bisa mendapatkan pilihan alternatif sebab diperkirakan akan muncul 4 capres di luar SBY yang dijagokan PD, Mega yang diusung PDI-P, dan JK yang didukung Golkar. Sehingga pesta demokrasi semakin semarak dan peta kekuatan partai akan semakin dinamis karena partai kecil akan banyak didekati 3 partai besar. Dan partai menengah macam Gerindra, PKS, PAN, PKB, dan Hanura, bisa berkoalisi mengusung capres alternatif.

Yang terpenting dari realitas politik yang berkembang saat ini masyarakat harus cerdas dalam memilih presiden supaya Indonesia tidak dipimpin orang yang salah. Karena apabila elite politik lebih disibukkan pemenuhan kekuasaan, maka bangsa ini tidak akan maju karena rakyat bakal diabaikan. Untuk itu, rakyat harus bisa menilai capres mana yang memiliki track record bagus ketika harus dipilih agar ketika menjadi presiden, capres bersangkutan memiliki kompetensi dan responsibility mumpuni dalam menangani berbagai permasalahan Indonesia.

OLEH: ERIK PURNAMA PUTRA

Pelajar Psikologi Kampus III Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: