Kebijakan Pemkot Malang Sebabkan Banjir

Suara Konsumen, Rabu, 25 Fabruari 2009 (Surabaya Post)

Berada di dataran tinggi sekarang Kota Malang tidak bisa lepas dari banjir ketika musim hujan tiba. Meskipun banjir tidak separah kota besar lainnya, macam Surabaya maupun Jakarta, nam kota terbesar ke dua di Jawa Timur (Jatim) ini tidak sepatutnya bisa terkena banjir mengingat wilayah geografisnya sangat tidak memungkinkan bisa mengakibatkan meluapnya air.

Sejalan dengan perkembangannya menjadi kota modern, Malang menjadi kota yang padat dan penuh dengan bangunan toko (ruko) yang berdiri kokoh di pinggir jalan. Hal itu jelas sekali menunjukkan, Malang sekarang telah menjadi kota modern dengan mengedepankan pembangunan fisik. Sayangnya, seiring laju perkembangan ruko yang tidak terkontrol masalah mulai muncul dan dampak negatif mulai dirasakan masyarakat.

Warga yang tinggal di pusat kota dengan jumlah penduduk sangat padat harus menuai dampak buruk akibat pembangunan gedung berlebihan. Efek dari pembangunan yang hanya mementingkan faktor pertumbuhan ekonomi saja telah membuat lingkungan sekitar menjadi terancam. Akibatnya, tentunya degradasi kualitas lingkungan hidup mulai terjadi dengan segala dampak bawaan yang akan berakibat kurang menguntungkan bagi manusia ke depannya.

Gejala itu cenderung akan terus meningkat, dan sulit dibayangkan keadaannya seandainya masalah itu diabaikan tanpa mendapatkan penanganan secara serius. Salah satu efek negatif dari adanya pembangunan yang tanpa mengindahkan lingkungan salah satunya adalah banjir. Namun harus dipahami bahwa persepsi banjir di Kota Malang bukanlah banjir yang diakibatkan oleh meluapnya air dari sungai besar yang tidak mampu menampung debit airyang tinggi. Sederhananya banjir yang terjadi adalah genangan-genangan air yang tidak menemukan saluran yang memadai.

Penduduk Malang mungkin yang dulunya menganggap banjir tidak akan bisa terjadi di kota dingin, sekarang anggapan tersebut tak terbukti. Bila ditilik lebih jauh, posisi kota yang sempat dijuluki sebagai Paris Van East Java ini, wilayah terendahnya adalah 400m. dpl sampai dengan ketinggian 662,5 m. dpl, dapat lah ditarik kesimpulan bahwa dengan ketinggian tersebut hampir mustahil kota Malang akan terkena banjir. Dengan berada di daerah dataran tinggi, air tentu akan selalu mengalir terus menuju ke daerah yang lebih rendah, jadi sungguh aneh bila Malang bisa terkena banjir.

Malahan sekarang, menurut pemberitaan dari salah satu surat kabar lokal, terungkap di Kota Malang terdapat 11 lokasi yang rawan terkena banjir. Wilayah yang termasuk berpotensi terkena banjir diantaranya yaitu, Jalan Kawi, Jl. Bendungan Sutami, JL. Letjen Sutoyo, Jl. Soekarno-Hatta, dan beberapa jalan utama di dalam kota.

Fakta tersebut sungguhlah mencengangkan dan membuat miris berbagai pihak. Pembangunan yang selama ini digembar-gemborkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, ternyata menyisakan masalah yang cukup pelik. Itu semua terjadi karena selama ini banyak berdirinya rumah toko (ruko), pusat perbelanjaan (mall), atau perumahan baru yang dibangun, komposisi luas bangunannya tanpa menyisakan dan menyediakan untuk digunakan sebagai ruang terbuka hijau yang nantinya itu juga sebagai daerah resapan air. Maka sudah pasti bangunan yang berdiri itu akan mengakibatkan kerugian bagi masyarakat yang hidup di lingkungan sekitarnya, bila pembangunannya tak memperhatikan lingkungan.

Selama ini terkesan bila Pemerintah Kota (Pemkot) Malang kurang perhatian dalam mengatasi banjir dan itu benar adanya. Pemkot hanya sekedarnya dan bertindak reaktif jika hujan deras mengakibatkan banjir di beberapa kawasan kota. Setelah itu tidak ada tindak lanjut berarti.

Pembangunan yang terus dilakukan dalam rangka mengejar pertumbuhan ekonomi pembangunan sarana fisik, ternyata mengesampingkan dimensi kelestarian alam dan lingkungan hidup. Tak terkendalinya genangan air dan banjir yang terjadi di kawasan yang rawan adalah akibat dari semakin sempitnya lahan hijau karena beralih menjadi bangunan. Sehingga Pemkot Malang harus bertanggungjawab apabila nanti banjir semakin meluas dan Kota Malang terendam. Dari permasalahan itu, apakah masyarakat akan diam saja menyikapi kebijakan yang dibuat pemkot dan bisa meterima dengan lapang dada tanpa ada keinginan untuk mengkritisinya?

Erik Purnama Putra

Aktivis Pers Kampus UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: