Menggugat Peran Mahasiswa

Suara Konsumen, Senin, 2 Maret 2009 (Surabaya Post)

Apa yang ada dibenak masyarakat bila ditanya tentang mahasiswa? Jawaban yang muncul pasti tak jauh dari mahasiswa adalah agent of change, calon pemimpin, generasi penerus bangsa, pengawal demokrasi hingga sekelompok kaum terdidik yang masa depannya cerah karena berpendidikan tinggi.

Mahasiswa yang digadang-gadang sebagai calon pemimpin bangsa adalah kelompok yang memperoleh status tinggi di masyarakat karena terikat harus menmpuh pendidikan di perguruan tinggi (PT). Seorang disebut mahasiswa hanya jika ia belajar di PT. Sehingga yang berhak menyandang titel mahasiswa adalah jika seseorang itu terikat dan menempuh studi pada salah satu PT.

Semua label yang melekat tersebut tentu saja membawa konsekuensi tersendiri bagi mahasiswa. Mereka menyandang beban berat yang ditimpakan masyarakat kepadanya karena tak sedikit masyarakat yang menaruh harapan besar kepada mahasiswa untuk dapat melakukan sebuah gerakan perubahan ke arah yang lebih baik dalam kehidupan berbangsa.

Sepanjang sejarah bangsa Indonesia, banyak peran penting yang dilakukan mahasiswa dalam menentukan arah sejarah perjuangan bangsa ini. Era Orde Lama, mahasiswa turut berjasa atas pelengseran Presiden Soekarno dari tampuk kepemimpinannya. Pada masa kekuasaan Orde Baru pun, mahasiswa yang menjadi aktor utama yang menyebabkan Soeharto melepaskan jabatannya sebagai presiden pada medio Mei 1998.

Mahasiswa yang sudah terlanjur dikenal masyarakat sebagai agen perubahan berdampak baginya untuk bertindak dan mengembangkan sikap kritisnya (social control) sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya dalam kehidupan bermasyarakat. Mahasiswa harus dapat menganalisis berbagai permasalahan yang dihadapinya. Karena dengan menjaga sikap kritisnya, diharapkan mahasiswa bisa memunculkan sikap korektif dan pengontrol bagi pemerintah.

Mahasiswa yang dalam satu dasawarsa ini, tepatnya sejak awal pasca reformasi sudah tak terdengar lagi gaungnya dalam percaturan peristiwa penting yang menentukan arah perjuangan bangsa, menimbulkan sebuah tanda tanya besar bagi masyarakat akan perannya. Tak dimungkiri peran mahasiswa nyaris tak ada sama sekali di masa reformasi ini, dan itu menimbulkan kegelisahan di kalangan akademis dan masyarakat yang menaruh harapan besar bagi mereka untuk dapat menyumbangkan ide kreatifnya bagi pembangunan bangsa.

Malahan akhir-akhir ini yang muncul dipemberitaan adalah kasus tawuran mahasiswa. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak kasus tawuran atau perkelahian yang melibatkan mahasiswa. Semua itu tentu saja memperburuk citra mahasiswa. Mahasiswa seolah seperti preman yang tampil beringas dengan lebih mengedepankan fisiknya daripada menggunakan pemikirannya dalam menghadapi setiap masalah.

Mahasiswa akhir-akhir ini pola pikirnya juga sudah terbawa arus globalisasi dan menjadi agen liberalisme yang melenakannya, membuatnya tak peduli lagi (apatis) terhadap perkembangan dan nasib bangsa ini ke depannya. Memang tak semua mahasiswa corak pemikirannya seperti itu, namun kekuatan besar yang bernama kapitalisme telah merasuki alam bawah sadar dan menggerakkan kehidupan mahasiswa.

Mahasiswa banyak yang menerapkan gaya hidup hedon-materialis yang menghambat perkembangan daya nalar kritisnya. Kehidupannya yang dipenuhi dengan gaya hidup senang dan santai membuatnya lupa diri akan tugas utamanya menyandang nama mahasiswa, yakni belajar (menuntut ilmu).

Pemikiran prospektif ke arah masa depan harus ditanamkan kembali dalam pola pikir mahasiswa agar mampu -setidaknya mendekati—nama-nama besar mahasiswa tempo dulu, seperti Soetomo, Soekarno, Sutan Syahrir, Muhammad Hatta dan Agus Salim. Mereka adalah gambaran generasi mahasiswa ideal dari tempo dulu yang menjadi motor penggerak kemerdekaan yang memiliki filsafah hidup dengan mengabdikan dirinya kepada bangsanya. Sehingga selayaknya mahasiswa sekarang memiliki pandangan seperti tokoh di atas yang mampu membawa perubahan positif bagi bangsanya dengan pemikiran cerdas yang diusungnya. Karena pada dasarnya mahasiswa adalah generasi yang digadang-gadang untuk menjadi pemimpin masa depan Indonesia.

Sudah selayaknya mahasiswa harus berperan aktif dalam segala kegiatan pemikiran ilmiah dan pencarian solusi atas permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia. Tugas utama mahasiswa adalah belajar dan berdiskusi ilmiah mengembangkan tradisi akademik di lingkungan kampus, bukannya malah nongkrong di warung kopi saja. Sehingga diharapkan mahasiswa benar-benar paham arti dari pendidikan akademis (kuliah) agar bisa melihat realitas kehidupan dilingkungannya dan memberikan solusi pemikiran yang mendalam bagi pemecahan masalah itu. Namun hal itu dapat tercapai jika mahasiswa bisa mengembangkan budaya ilmiah dan mengasah kemampuan berpikir kritisnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: