Menyaksikan Terjun Payung

Citizen Journalism, Selasa, 3 Maret 2009 (Surabaya Post)

Menyambut hari ulang tahun (HUT) Kostrad, pada 6 Maret, satuan Brigade Infanteri Lintas Udara (Brigif Linud) 18 Kostrad, Jabung, Malang, mengadakan latihan terjun payung di lapangan markas Infanteri, Minggu (1/3). Tentara yang menjadi penerjun berjumlah 30 orang dan dibagi dalam 3 kloter. Uniknya, penerjun tidak diangkut dengan pesawat Hercules sebagaimana umumnya melainkan menggunakan helikopter. Meskipun hanya bersifat gladi bersih menyongsong HUT Kostrad, namun setiap penerjun sudah dinilai oleh tim internal yang terdiri beberapa perwira TNI-AD.

Acaranya sendiri sangat menarik dan banyak dihadiri warga kampung karena terbuka untuk umum. Setiap penonton hanya diperbolehkan melihat dari tepi lapangan dan di luar garis batas. Saya pun tak mau ketinggalan dan ikut menyaksikan atraksi terjun payung meskipun harus berpanas-panas akibat sengatan sinar matahari.

Secara keseluruhan acara terjun payung sangat mengesankan dan bikin jantung ikut berdebar-debar menyaksikan dari dekat ketika penerjun akan mendarat. Banyak masyarakat yang berteriak-teriak ketika melihat adegan penerjun di udara dan ketika sedang melakukan pendaratan.

Teriakan masyarakat semakin bertambah ketika ada beberapa penerjun yang mendarat tidak pada posisi sempurna dan melenceng dari tempat pendaratan. Sehingga saya dan beberapa orang lainnya yang menyaksikan di samping gawang sepakbola harus lari pontang-panting ketika ada satu penerjun yang terbawa angin dan mendarat di luar lapangan dengan cepatnya. Untungnya penerjun itu tidak sampai masuk gawang karena berhasil mengendalikan lajunya hingga harus tersangkut di dahan pohon yang terletak tak jauh dari gawang.

Ada kejadian menarik ketika dari 30 penerjun, ternyata ada 2 penerjun yang tidak bisa mengembangkan payungnya ketika di udara. Yang satu baru bisa mengembangkan payungnya ketika sudah dekat dengan tanah dan satunya lagi jatuh ke tanah di area persawahan tebu yang jauh dari posisi koordinat pendaratan dengan mulus karena payungnya tidak bisa berkembang.

Melihat ‘tragedi’ itu para tentara dan warga kampung pada berlarian dan mengejar penerjun yang mengalami nasib naas tersebut. Apalagi diperlukan waktu belasan menit untuk sampai ke tempat jatuhnya korban, mengingat penerjun itu jatuh jauh dari lokasi berlangsungnya pendaratan terjun payung.

Karena itu, korban yang tentara muda itu harus dievakuasi dan mendapatkan pertolongan lebih lanjut dari rekannya karena mengalami luka akibat jatuh dari ketinggian ribuan meter itu. Saya yang melihat kejadian itu merasa ngeri dan tak bisa membayangkan karena sejak meloncat dari helikopter hingga sampai ke bumi penerjun itu tidak sukses mengembangkan payungnya.

Namun secara keseluruhan saya menikmati dan mendapatkan pengalaman baru seusai menyaksikan terjun payung itu. Saya bangga dan salut atas keberanian para penerjun itu. Masyarakat pun puas dan menikmati hiburan yang jarang ditemukan di era sekarang.

OLEH: ERIK PURNAMA PUTRA

Reporter Koran Kampus Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: