Mempolemikkan Latar Belakang Caleg

Kamis, 19 Maret 2009, (Jurnal Nasional)

Beberapa waktu lalu ada sebuah surat kabar terbitan Jawa Timur yang mengulas tentang latar belakang calon anggota legislatif (caleg) dan profil tingkat pendidikannya. Hasilnya sangat mengejutkan dan bikin miris. Pasalnya disebutkan bahwa tingkat pendidikan caleg banyak yang hanya tingkat SMA. Sementara yang sudah bergelar sarjana atau di atasnya prosentasenya tidak terlalu banyak.

Memang tingkat gelar tidak selalu berkorelasi lurus terhadap kepandaian caleg bersangkutan, namun setidaknya dapat dijadikan salah satu tolok ukur pribadi caleg dalam menghadapi pemilihan legislatif (pileg) 4 April 2009, mengingat tugas sebagai legislator cukup berat dan menyita pikiran, serta memerlukan kerja keras otak dalam menghadapi setiap permasalahan rakyat. Sehingga dengan latar belakang cukup rendah apakah dengan banyaknya caleg yang hanya tamat SMA bisa disebut memiliki kualitas mumpuni dalam mengarungi kompetisi perebutan kursi anggota dewan? Jawabannya tidak!

Saya bukan bermaksud memolemikkan fakta tersebut mengingat persyaratan yang dibuat Komisi Pemilihan Umum (KPU) adalah memang seperti itu, di mana minimal seseorang yang ingin menjadi caleg setidaknya harus lulus SMA. Sehingga sebenarnya tidak ada masalah dengan banyaknya caleg yang tidak sampai menempuh pendidikan tinggi.

Sayangnya, saya kurang sreg dengan keadaan itu dan mencoba memprediksi berbagai permasalahan yang muncul dalan jangka panjang apabila legislator terpilih nantinya didominasi lulusan SMA. Mengingat semakin ke depan masalah yang dihadapi anggota dewan semakin kompleks dan menuntut untuk menyelesaikannya secara cepat, sistematis dan profesional. Dan biasanya cara seperti itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki tingkat intelektualitas tinggi dan pernah menempuh pendidikan hingga jenjang perkuliahan. Sehingga saya sangsi jika nanti anggota dewan terpilih banyak yang cuma mempunyai ijazah SMA akan mampu mengatasi permasalahan masyarakat.

Dari pernyataan di atas saya bisa menduga bahwa nantinya akan banyak caleg yang bermasalah dalam memposisikan dirinya sebagai aspirator rakyat, mengingat dia tidak mempunyai kapabilitas mumpuni dan kecakapan memadai dalam menghadapi segala problem rakyat yang timbul. Sehingga masyarakat akan mendapati anggota dewan tidak bekerja secara maksimal dan lebih mementingkan urusannya sendiri maupun partai daripada mendengarkan suara rakyat.

Memang kondisi itu masih dalam rekaan saya dan belum benar-benar terjadi. Namun meskipun begitu saya sudah khawatir jika kenyataannya setelah pileg, ternyata legislator terpilih dikuasai orang-orang berpendidikan rendah. Sehingga nasib bangsa Indonesia, terutama rakyat tidak bakal banyak perubahan, sebab legislator pilihannya tidak mampu mengemban beban berat yang harus dilakukannya.

Untuk itu jalan satu-satunya bagi rakyat adalah dengan jeli dalam memilih caleg yang akan berkompetisi memperebutkan kursi dewan. Hal itu mutlak dilakukan rakyat agar pribadi yang mempunyai track record bagus bisa mendapatkan jabatan sebagai anggota dewan dan ke depannya yang bersangkutan dapat membantu menyelesaikan persoalan masyarakat karena mempunyai kemampuan mencukupi.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: