Menonton Arak-arakan di Desa Kemantren

Citizen Journalism, Selasa, 17 Maret 2009 (Surabaya Post)

Sehari sebelum masa kampanye pemilihan legislatif (pileg), Minggu (15/3), warga Desa Kemantren, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, pada keluar rumah dan memenuhi jalanan utama desa. Bukan untuk memeriahkan pesta demokrasi, melainkan tujuan masyarakat adalah ingin menonton hiburan arak-arakan yang diselenggarakan salah satu calon legislatif (caleg) DPRD Kabupaten Malang, yang kebetulan bertempat tinggal di Desa Kemantren. Tidak bermaksud berprasangka, melainkan sulit diterima akal jika pawai yang melibatkan banyak orang itu sebagai bentuk curi start kampanye. Namun saya menceritakan kejadian itu tidak dari  segi politiknya, namun segi hiburannya.

Hiburan pawai yang dikemas dalam bentuk keliling kampung dengan mengitari jalanan hingga masuk gang desa itu banyak menampilkan seni hiburan masyarakat. Kondisinya seperti pawai tujuhbelasan, di mana banyak orang yang turut berpartisipasi. Di urutan depan ada beberapa orang yang mengenakan baju khas perjuangan dan tentara lengkap dengan aksesoris senjata perang yang bertugas mengawal arak-arakan.

Di barisan selanjutnya tampak 5 dokar (angkutan pedesaan yang menggunakan kuda) yang mengangkut belasan anak yang ikut sunatan massal. Dokarnya dihiasi berbagai atribut hingga tampak menarik dipandang mata. Setelahnya ada drum band dari Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) Kemantren, yang turut berpartisipasi memeriahkan acara. Atraksi musik yang ditampilkan drum band cukup menghibur meskip pemainnya masih belum dapat dikatakan profesional.

Di urutan keempat, kali ini komunitas perwakilan masjid yang terdiri sepuluh orang dewasa melantunkan shalawat sambil memainkan rebana dan bedug. Dengan diringi sound system mini yang diangkut becak, lantunan suara merdu terdengar membahana bertabrakan dengan suara yang dihasilkan dari alat musik kelompok drum band.

Setelah itu, lewat kelompok pengusung kesenian tradisional dengan memakai kostum jaranan, baik kuda lumping maupun kuda goyang. Mereka jalan sambil bergoyang seolah-olah sedang menikmati suasana. Penampilannya yang kocak dengan memakai baju sesuai kain yang menyelimuti ’kuda’ membuat banyak masyarakat tertawa terpingkal melihat tingkah yang ditunjukkan ’penunggang kuda’ bersangkutan.

Dan rombongan terakhir yang dinantikan masyarakat adalah kelompok kesenian caplokan dan banteng-bantengan. Karena mendapat posisi paling akhir maka barisan ini bisa unjuk gigi dengan leluasa. Orang yang bertindak sebagai pemain caplokan membawa alat terbuat dari kayu berwajah buto bermulut moncong ke depan yang dapat  dibuka-tutup sebagai penanda bahwa itu caplokan. Caplokannya diberi tali supaya ketika pemainnya jadi (kalap atau kerasukan setan), orang yang bertugas membawa tali bisa mengendalikannya suapa tidak liar.

Hal sama juga berlaku ketika banteng-bantengan lewat banyak sekali yang kalap dan di luar kendali hingga harus dikendalikan pemegang tali, yang sekaligus sebagai dukun yang sanggup menyembuhkan orang yang kerasukan tersebut. Karena banyak pemain banteng-bantengan yang kalap, maka ada yang saling bertubrukan dan bahkan sampai jatuh ke selokan.

Semua pawai yang dibiayai caleg itu mampu mengundang minat banyak masyarakat. Di samping karena mendapat hiburan gratis. Masyarakat juga senang sebab suasana kampung menjadi ramai. Saya juga tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk melihat langsung sambil mengabadikannya.

Namun yang jadi pertanyaan adalah berapa besar duit yang dikeluarkan caleg bersangkutan? Itu menjadi bukti bahwa untuk menjadi calon anggota dewan membutuhkan biaya besar untuk mengenalkan dirinya kepada masyarakat supaya dicoblos pada 9 April.

NAMA: ERIK PURNAMA PUTRA

Pegiat Pers Kampus Bestari Universitas Muhammadiyah Malang

erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: