Negeri Agraris Terancam Krisis Pangan

Suara Konsumen, Rabu, 11 Maret 2009 (Surabaya Post)

Indonesia pernah dijuluki sebagai negeri zamrud khatulistiwa berkat kesuburan tanahnya. Apapun biji yang ditanam di tanah pasti akan hidup dan berkembang. Hal itu adalah membuktikan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki potensi besar untuk menjadi bangsa yang maju dan mamur. Pasalnya dengan segala kekayaan alamnya sebenarnya Indonesia mampu untuk menyejahterakan rakyatnya.

Sayangnya, segala potensi yang ada itu telah melenakan penguasa selaku pemimpin tertinggi bangsa ini. Kesuburan tanah yang dipunyai Indonesia tak digarap dan dimaksimalkan secara serius yang berdampak pada makin sulitnya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Kondisi itu terjadi karena saat ini dunia sedang dilanda krisis pangan dan mengancam setiap negara yang tak memiliki kekuatan pangan nasional memadai guna menghadapi badai krisis pangan tersebut. Dan salah satu negara yang berpotensi terkena krisis pangan itu adalah Indonesia.

Aneh tapi nyata. Indonesia yang disebut sebagai negeri agraris ternyata harus pontang-panting menghadapi gejolak krisis pangan yang tengah melanda dunia. Krisis pangan yang bakalan mengancam kelangsungan hidup penduduk bumi sudah di depan mata. Di samping harga pangan dunia yang melonjak drastis, juga dibarengi dengan makin sulitnya masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok. Semua itu terjadi karena pemerintah kita yang tak tanggap dengan isu global tentang gejolak krisis pangan yang menjadi ancaman utama penduduk bumi di samping krisis energi.

Pemerintah tidak ada upaya untuk melakukan antisipasi dengan melakukan kebijakan deversifikasi kebijakan pangan. Sehingga ketika harga pangan melambung tinggi dan banyak rakyat miskin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan perutnya, pemerintah hanya sanggup melakukan operasi pasar atau membuat kebijakan yang itu sifatnya parsial dan tidak menyelesaikan masalah.

Sangat disayangkan jika Tanah Air ini harus menaggung beban berat akibat krisis pangan global. Seandainya pemerintah memiliki wawasan yang cukup futuristik dan visioner, Indonesia bakalan tak kalang kabut menyikapi krisis pangan global, karena dengan alamnya yang subur pasti Indonesia akan dapat mencukupi kebutuhan pangan rakyat.

Memang saat ini pemerintah mengumumkan Indonesia sudah swasembada beras. Namun bencana demi bencana yang terus terjadi membuat stok beras menjadi berkurang drastis sebab banyak petani yang akhirnya gagal panen. Ditambah banyak barang kebutuhan pokok lainnya yang harus diimpor pemerintah guna mencukupi kebutuhan dalam negeri membuat ancaman krisis pangan semakin nyata. Apalagi harga sembilan kebutuhan pokok yang didengungkan pemerintah turun, ternyata dari waktu ke waktu terus melambung membuat penderitaan rakyat di negeri ini semakin bertambah. Konsekuensinya, jumlah rakyat yang melarat makin bertambah dan penderitaan yang ditanggung juga makin besar.

Menyikapi kondisi itu, pemerintah harus secepatnya turun tangan untuk meringankan beban kehidupan masyarakat kelas bawah. Sudah seharusnya pemerintah melakukan gerakan revitalisasi pertanian yang selama ini diabaikan. Bayangkan saja, sejak awal kemerdekaan hingga sekarang nasib dan kesejahteraan petani terus terpuruk karena tak adanya perhatian dari pemerintah. Namun walaupun selalu dianaktirikan, golongan petani tetap saja bercocok tanam.

Dari asumsi di atas dapat dikatakan bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang penting untuk dijadikan sebagai basis membangun negara. Di tengah kenaikan harga pangan dan ancaman krisis pangan, pemerintah Indonesia diharapkan melirik kembali sektor pertanian untuk dikembangkan dan dijadikan sebagai sektor andalan mengatasi kemiskinan dan pengangguran.

Tak bisa ditawar lagi, fakta di lapangan membuktikan kenaikan harga pangan dunia bisa disiasati dengan menggelorakan masyarakat untuk mengoptimalkan lahan pertanian. Pasalnya sangat memalukan jika Indonesia yang menyandang sebutan negara maritim harus terpuruk dalam masalah krisis pangan. Karena itu, sebagai negara yang diberkahi alam subur sudah sepatutnya Indonesia mawas diri dan menjadikan pertanian sebagai pondasi utama dalam pembangunan.

Erik Purnama Putra

Jurnalis Koran Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: