Alutsista TNI Perlu Diremajakan

Kamis, 23 April 2009 (Jurnal Nasional)

Kecelakaan pesawat Fokker 27 yang berumur 34 tahun di Lanud Husein Sastranegara yang menewaskan 24 Paskhas TNI-AU, Senin (6/4), menyisakan beragam fenomena menarik yang perlu dikomentari lebih jauh. Pasalnya, peristiwa tragis itu terjadi ketika para prajurit TNI-AU sedang melakukan tugas negara, yakni penerbangan untuk latihan terjun payung. Sayangnya, belum sempat melakukan latihan, pilot yang melihat cuaca dalam kondisi buruk memutuskan untuk melakukan pendaratan guna menghindari kejadian yang tak diinginkan.

Untung tak bisa ditolak, ketika akan mendarat pesawat malah terkena sapuan Angin Samping yang membuat pilot kehilangan kendali hingga pesawat nahas tersebut tak mendarat di run away, melainkan menabrak hangar ACS milik PT Dirgantara Indonesia. Yang terjadi selanjutnya sangat mengerikan karena pesawat saat itu juga meledak setelah menghantam hangar hingga menimbulkan ledakan dahsyat yang membuat badan pesawat dan atap hangar hancur berkeping-keping.

Tak hanya itu, pesawat yang sedang diparkir dekat hangar pun ikut terkena dampaknya. Sehingga kerugiannya sangat besar. Ditambah banyaknya korban yang kehilangan nyawa membuat peristiwa itu menimbulkan banyak sorotan dan menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban. Apalagi tragedi itu berdekatan dengan hari ulang tahun (HUT) TNI-AU yang pada 9 April genap berusia 63 tahun. Sehingga peristiwa mengerikan kecelakaan pesawat tersebut menjadi kado buruk yang mencoreng wajah TNI.

Meskipun petinggi TNI-AU membantah bahwa terjadinya kecelakaan pesawat itu murni faktor cuaca buruk, tetapi masyarakat pasti tak langsung saja percaya dengan pernyataan yang menyalahkan faktor alam. Pasalnya, sudah terlalu sering kecelakaan pesawat dan kendaraan tempur lainnya milik TNI yang mengalami hal serupa. Tak hanya TNI-AU, TNI-AD dan TNI-AL juga setali tiga uang. Sehingga terkesan belum ada penanganan serius untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali di kemudian hari.

Masih segar dalam ingatan ketika tank amfibi milik TNI-AD yang digunakan dalam latihan tempur yang tahun lalu tenggelam ketika sedang digunakan untuk latihan perang. Sehingga tentara yang menumpangi tank harus meregang nyawa akibat terjepit tak bisa keluar dari tank. Kapal laut milik TNI-AL kondisinya juga sangat membahayakan sebab ada yang warisan pemerintah Orde Lama dan banyak yang berumur 30 tahun lebih, yang tetap dijalankan menjaga wilayah lautan Indonesia mengingat kekuatan armada laut kekurangan kapal tempur. Jelas itu berbahaya dan jika tak segera ditangani suatu hari akan ada kapal laut tenggelam sebab masa pakainya melebihi batas.

Untuk itu, tak ada salahnya bagi pemerintah untuk melakukan peremajaan alutsista milik TNI. Jangan biarkan armada tempur yang sudah tak laik digunakan tetap dimanfaatkan untuk latihan karena tak ada sarana lain yang bisa dipakai. Karena jika seperti itu, akan sangat rawan sekali terjadi kecelakaan yang membahayakan nyawa prajurit TNI. Sehingga dengan mengganti atau meremajakan alutsista yang udzur dan tak layak pakai merupakan langkah tepat untuk menghindari kecelakaan kendaraan tempur dikemudian hari.

Erik Purnama P.

Aktivis Pers Kampus Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: