Benarkah Lebih Cepat Lebih Baik?

Selasa, 12 Mei 2009 (Jurnal Nasional)

Judul di atas terinspirasi dari slogan yang dikumandangkan Wakil Presiden (Wapres) RI Jusuf Kalla, yang saat ini akan maju sebagai calon presiden (capres) dari Partai Golkar berpasangan dengan Ketua Umum Partai Hanura Wiranto. Namun, saya hanya ingin mengomentari pernyataan Jusuf Kalla yang selalu menggembar-gemborkan tagline yang diusungnya tersebut dalam menghadapi pemilihan presiden (pilpres) pada 8 Juli 2009.

Secara kasat mata tak ada yang perlu diperdebatkan oleh masyarakat terkait slogan yang diciptakan JK tersebut. Namun menjadi masalah jika Lebih Cepat Lebih Baik tersebut dijadikan pembenaran oleh JK bahwa dirinya lebih baik dibanding tokoh politik lainnya yang ingin menjadi Presiden RI periode 2009-2014.

Apalagi jika berangkat dari pernyataan itu JK menilai lawan politiknya terlalu lambat dan dikesankan ragu dalam membuat setiap keputusan. Sehingga berangkat dari itu dia merasa terpanggil untuk memimpin negeri ini sebab dirinya memiliki kemampuan untuk bertindak lebih cepat dan lebih baik dalam mengurus negeri ini. Di samping itu, JK menilai bahwa capres lainnya juga lambat menentukan cawapresnya sehingga dirinya lah yang cepat membuat keputusan sebab calon lainnya terlihat ragu-ragu dan banyak perhitungan.

Berpatokan dari kejadian itu, boleh-boleh saja JK mengklaim dirinya merasa lebih baik karena mempunyai kemampuan untuk selalu memutuskan sesuatu lebih cepat sehingga modal tersebut yang dijualnya dalam bahan kampanye pilpres. Namun, benarkah bahwa orang yang selalu memutuskan sesuatu secara lebih cepat menghasilkan hasil yang lebih baik pula. Apalagi jika keputusan itu menyangkut kebijakan negara yang akan mempengaruhi 200 juta lebih rakyat Indonesia. Sehingga perlu pembuktian di lapangan terlebih dulu untuk mencari kebenarannya.

Kenyataan itu harus disikapi secara kritis oleh masyarakat supaya nanti bisa lebih obyektif menilai setiap tokoh yang akan maju sebagai capres. Dan tidak terjebak untuk memilih capres hanya berdasar pertimbangan pribadinya cepat atau lambat dalam setiap membuat keputusan.

Karena bisa jadi pribadi yang lebih senang memutuskan sesuatu lebih cepat ternyata lebih sering membuat keputusan terburu-buru dan tanpa pertimbangan baik-buruk secara matang. Ditambah apabila tak menganalisis secara cermat dulu dampak yang bakal terjadi akibat kebijakan yang dibuat nanti, yang berpotensi mempengaruhi kehidupan seluruh masyarakat Indonesia, maka belum tentu korelasinya selalu positif jika keputusan yang dibuat semakin cepat semakin baik. Dan jika karena cuma ingin dilihat bahwa dirinya memiliki pribadi cepat tanggap dalam merespon masalah, itu berarti malah tidak cocok jika yang bersangkutan menjadi Presiden RI.

Untuk itu, kita tunggu saja keputusan masyarakat Indonesia, apakah memilih pribadi seperti JK atau capres lainnya dalam pilpres nanti. Itu penting agar masyarakat tak terjebak dan tersesat dalam pemikiran yang hanya berpola pada pengambilan keputusan semata, namun melupakan beragam aspek lainnya. Karena menjadi Presiden RI dibutuhkan banyak kemampuan untuk mengurusi permasalahan bangsa ini, bukan cuma persoalan tentang pengambilan keputusan.

Erik Purnama Putra

Aktivis Pers Koran Kampus Bestari UMM

Satu Tanggapan to “Benarkah Lebih Cepat Lebih Baik?”

  1. Good analysist !
    Komunikasi memang dapat mengakibatkan multi interpretasi bagi receipernya. Persepsi penerima mengolahnya sendiri sesuai point of view yang telah mendaging pada individu. Inilah demokrasi … mari kita ada di dalamnya untuk andil menciptakan kebaikan masyarakat ke depan.
    Terima kasih pandangannya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: