Golput Akan Menjadi Pilihan

Sabtu, 4 April 2009 (Jurnal Nasional)

Pemilihan legislatif (pileg) yang dilangsungkan 4 April 2009, bakal banyak masyarakat yang tidak berpartisipasi. Pendapat saya itu bukan asal bunyi dan ngawur, melainkan berdasarkan realita. Alasannya adalah masyarakat sudah bosan dengan adanya pemilihan langsung dalam rentang waktu tidak lama dan itu membuat jenuh masyarakat. Di samping itu, masyarakat yang sebagian besar tidak kenal dengan calon legislator (caleg) partai menciptakan kondisi di mana pemilihan akan malas untuk memberikan hak suaranya dalam hari pencoblosan.

Boleh saja pernyataan saya dibantah dan tidak dipercaya, namun apa yang saya ungkapkan benar adanya dan berdasar kenyataan di lapangan. Kita semua tahu berdasarkan hasil survei lembaga politik, baru-baru ini dibeberkan data bahwa masyarakat akan banyak yang memilih menjadi golongan putih (golput). Pilihan menjadi golput bukan karena mengikuti seruan dari Gus Dur, melainkan lebih dari dalam hati orang yang punya hak suara yang memang sudah bosan dengan pemilihan langsung. Sehingga kondisi itu memaksa mereka untuk tidak mencoblos dan tidak menggunakan hak suaranya.

Beberapa faktor menjadi penyebabnya, salah satu yang utama adalah tidak kenalnya calon pencoblos dengan caleg. Apalagi setelah ada berita yang mengungkap sekitar 61 persen caleg ternyata tidak mempunyai pekerjaan jelas dan sebagian besar pendidikannya hanya tamat tingkat SMA. Kondisi itu saya yakin semakin membuat pemilih ogah untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS).

Apalagi jika mengukur kinerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang kinerjanya masih kurang beres dan sosialisasi pelaksanaan pemilu di berbagai daerah kurang ada gaungnya malah membuat gebyar pileg semakin tidak membuat masyarakat berpartisipasi untuk tertarik memberikan hak suaranya. Di samping itu adanya opini yang berkembang di masyarakat yang menyebut pileg tak ubahnya ajang individu mencari kekuasaan dan menguntungkan partai semata membuat rakyat tidak tergerak untuk mencoblos di hari pelaksanaan pesta demokrasi.

Meskipun baru-baru ini Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengeluarkan fatwa bahwa golput haram dan masyarakat diminta untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum (pemilu) untuk memilih pemimpin yang duduk di legislatif dan eksekuti, tetapi saya yakin kondisi itu tidak akan mengubah keyakinan masyarakat. Dan tetap sebagian besar akan memilih golput.

Kondisi berbeda jika dilangsungkan pemilihan presiden (pilpres), karena akan banyak rakyat yang ikut berpartisipasi memberikan hak suaranya. Pasalnya masyarakat sudah kenal dengan calon presiden dan pemilihan itu disebut akan menentukan nasib bangsa dan kesejahteraan rakyat. Sehingga akan banyak pemilik hak suara untuk mencoblos, meskipun potensi golput juga masih besar.

Karena itu langkah satu-satunya agar pileg dan pilpres bisa tetap semarak adalah KPU wajib menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat supaya ikut terlibat dalam proses pesta demokrasi, meskipun upaya itu belum tentu membuahkan hasil menggembirakan. Hal itu penting supaya golput tidak merajalela dan hasil pemilu benar-benar merupakan perwakilan suara rakyat. Karena jika tidak, saya yakin golput akan menjadi pilihan sebagian besar rakyat Indonesia dan pemimpin terpilih tidak merepresentasikan keinginan rakyat.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: