Jangan Terbuai Janji Manis Parpol

Selasa, 24 Maret (Jurnal Nasional)

Pemilihan legislatif (pileg) kurang dari sebulan dan masa kampanye calon legislator (caleg) setiap partai politik (parpol) sudah ditabuh sejak Senin (16/3). Kondisi itu membuat semarak kehidupan pesta demokrasi di Tanah Air, di mana masyarakat akan dengan mudah menjumpai kerumunan massa tempat berkumpulnya banyak individu yang datang sebagai partisipan kampanye yang dihelat parpol.

Namun, di saat itu juga masyarakat akan mendapati banyak caleg beserta juru kampanye (jurkam) dari tiap parpol akan sibuk memberikan orasi yang isinya berbagai janji dan harapan baru sebagai modal menarik minat masyarakat supaya memilihnya atau parpol bersangkutan. Tentu dengan segala daya semuanya akan mengobral kata-kata manis guna merebut simpati supaya pada hari pemilihan umum (pemilu) masyarakat akan memberikan hak suaranya.

Menyikapi itu masyarakat jangan mudah tertipu rayuan gombal para caleg yang dengan gampangnya biasanya akan mengampanyekan bahwa dirinya membawa perubahan seandainya terpilih menjadi anggota dewan. Masyarakat wajib mengembangkan sikap waspada dan tak mudah percaya dengan tipuan janji manis caleg dan parpol. Mengingat di saat kampanye banyak caleg akan membutuhkan masyarakat dan berusaha sekuat mungkin untuk dapat mencuri perhatian dari pemilih.

Sehingga jika lengah maka masyarakat akan terbuai dan percaya dengan berbagai tipu daya yang diobral caleg beserta parpol pengusungnya. Apalagi banyak caleg yang sudah terbukti pandai bermain silat lidah demi merebut hati rakyat, yang sebenarnya tujuan utamanya adalah menyetir masyarakat supaya menuruti kemauannya. Karena itu kata-kata manis yang meluncur dari caleg memang enak didengar, tetapi belum tentu direalisasikan ketika sudah terpilih duduk sebagai anggota dewan.

Belum lagi di masa kampanye akan mudah dijumpai pelaku money politic yang tak bertanggungjawab, yang akan membagi-bagikan uang untuk menarik suara rakyat. Padahal ketidakjujuran semasa kampanye mengindikasikan bahwa yang bersangkutan berupaya menghalalkan segala cara demi merebut yang tujuannya merebut kekuasaan semata.

Boleh-boleh saja duit diterima masyarakat dan biarkan para pemberi uang itu sibuk dengan berbagai strategi demi mendapatkan perhatian pemilih, namun jangan sampai kita menggadaikan hak suara.. Karena jika kita memilihnya (caleg maupun parpol) pasti kelak ketika bersangkutan berkuasa yang dipikirkan hanya sibuk bagaimana mengembalikan modalnya yang telah dikeluarkan semasa kampanye. Sehingga tak akan bisa berkonsentrasi dengan kerjanya.

Untuk itu jangan sampai nanti ketika hari pelaksanaan pemilu masyarakat memilih caleg yang memiliki track record buruk. Apalagi memilih calon dari parpol yang di saat kampanye atau menjelang pencontrengan membagi-bagikan uang dengan imbalan penerimanya wajib memilih calon tersebut. Karena itu jalan terbaik adalah menuruti hati nurani dan tak termakan bujuk rayuan caleg muapun parpol yang tak mencerdaskan masyarakat.

Erik Purnama Putra

Aktivis Pers Koran Kampus Bestari Unmuh Malang

erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: