Keanehan Pascapileg

Sabtu, 18 April 2009 (Jurnal Nasional)

Pemilihan legislatif (pileg) pada 9 April sudah berlalu, namun masyarakat banyak disuguhi beragam peristiwa politik yang membuatnya bingung. Banyaknya manuver elite politik partai politik (parpol) membuat masyarakat tak habis pikir dengan situasi itu. Memang kalangan pakar politik menilai semua itu adalah sebuah kewajaran mengingat pesta demokrasi sudah mendekati hari pelaksanaan. Namun tetap saja publik dibuat pusing akibat mengikuti berita banyaknya kejadian janggal yang melibatkan pimpinan parpol. Banyak kasus yang dapat diulas dan akan saya jabarkan berikut ini.

Beberapa waktu lalu ada sebuah silaturahim pimpinan parpol hingga membentuk sebuah blok yang rencananya akan berlanjut menjadi koalisi, sebut saja Golden Triangle dan Golden Bridge. Namun, tak berselang lama setelah muncul wacana blok koalisi, Megawati sebagai Ketua Umum PDIP yang tergabung dalam Golden Triangle bertemu dengan Dewan Ketua Umum PAN Sutrisno Bachir, anggota dari Golden Bridge untuk melakukan penjajakan. Aneh, namun itu yang terjadi.

Tak cukup, Megawati juga bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang setelah pertemuan Mega menyebut tak mempersilahkan Prabowo mendekat ke partai berlambang banteng dengan moncong putih di mulut itu. Jika orang yang mengikuti sepak terjang iklan yang dimunculkan Partai Gerindra di media cetak maupun elektronik jelas disebut partai berlambang garuda tersebut berbasis ekonomi kerakyatan dan menawarkan sebuah perubahan.

Sehingga janggal dan tak bisa habis pikir bila PDIP dan Gerindra mencoba bersatu untuk koalisi mengingat kedua partai berbeda platform dan pandangan mengingat PDIP ketika berkuasa sangat pro liberalism, yang dibuktikan banyaknya aset negara yang dijual murah kepada asing. Apalagi Prabowo sempat direkomendasikan internal PDIP sebagai sebagai calon wakil presiden (cawapres) yang layak mengingat popularitasnya tinggi. Itu jelas akan memaksa masyarakat menjadi berpikir perubahan apa yang ditawarkan Gerindra dan PDIP jika keduanya bergabung.

Keanehan tak berhenti sampai itu, setelah tak kenal lelah menyerang pemerintahan terkait program pemberian BLT, tiba-tiba saja anak pertama Bung Karno itu melunak dan balik mengatakan bahwa BLT sukses sebab PDIP turut serta mengawal perjalanan BLT hingga sukses seperti sekarang. Banyak pengamat politik menilai itu sebagai sebuah kebingungan Megawati atau sebuah manuver politik PDIP dalam menghadang kinerja Presiden SBY yang diusung Partai Demokrat (PD).

PKS yang belum berkoalisi dengan PD tiba-tiba dalam beberapa kesempatan kampanye terakhir selalu menyebut kesuksesan pemerintahan di bawah kendali Presiden SBY, yang semua itu tak bakal tercapai jika tak didukung partai pimpinan Tifatul Sembiring itu. Kondisi itu jelas memantik kemarahan kubu PD yang menyebut PKS mencatut nama SBY demi kepentingan popularitas partainya. Sehingga di level pengurus atas terjadi perseteruan sengit antara kedua partai tersebut.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: