Kontradiksi Antasari Azhar

Menggemparkan. Kalimat itu sangat pas untuk menggambarkan berita dikaitkannya Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar, dengan kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnain. Apalagi disebutkan orang nomor satu di KPK tersebut menjadi dalang utama sekaligus kreator pembunuhan yang membuat orang tak habis pikir mengingat KPK di bawah kinerjanya menorehkan beragam pujian dann prestasi dari masyarakat. Sehingga sungguh tragis apabila Antasari sampai harus mendekam di penjara akibat ulahnya yang baru ketahuan sekarang.

Meskipun pihak kepolisian baru menetapkan Antasari Azhar sebagai saksi, namun sebelumnya institusi Kejaksaan Agung (Kejagung), mengatakan Antasari terlibat sebagai aktor intelektual yang menjadi otak terciptanya pembunuhan sadis tersebut. Sehingga sungguh hal memalukan jika selama ini integritasnya dalam perang melawan korupsi hanya sebagai kedok yang ternyata merupakan sebuah perwujudan sikap hipokrit karena terungkap moralnya tak bisa dijadikan teladan dan sangat buruk.

Saya yakin semua masyarakat pasti kaget bercampur heran ketika Antasari dijemput paksa oleh institusi penegak hukum di luar KPK yang ingin memeriksanya. Pasalnya, ketika menjabat sebagai orang nomor satu di KPK, Antasari Azhar giat sekali menangkap pejabat tinggi pemerintahan yang terlibat kejahatan pencurian uang negara. Bahkan, besan Presiden SBY pun tak luput dari cengkeramannya hingga harus menjadi penghuni sel penjara. Maka tak salah banyak kalangan menyebutnya sebagai buldoser yang siap menghabisi koruptor tanpa silau dengan jabatan yang diembannya.

Tetapi yang memprihatinkan, Antasari Azhar bakal didakwa dengan Pasal 340 dan 55 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yang isinya berkaitan dengan pembunuhan berencana dan pelakunya diancam maksimal hukuman mati. Tentu tak bisa dibayangkan jika seorang pejabat negara yang sebelumnya terkenal memiliki kinerja bagus dalam bidang pemberantasan korupsi dalam waktu sekejap berubah menjadi pesakitan dan harus menghadapi hukuman yang tak pernah terpikir sebelumnya.

Di sini, meskipun Antasari tak melibatkan lembaga KPK yang dipimpinnya, tetapi kasusnya telah ikut mencoreng KPK dan tak ada jaminan citra KPK akan tetap baik seperti sedia kala. Sehingga dikhawatirkan KPK akan terpengaruh dan berpotensi limbung dengan status baru yang melekat pada pemimpinnya tersebut. Karena itu, segenap jajaran pimpinan KPK yang sebelumnya berada di bawah komado Antasari harus bergerak cepat untuk menyelamatkan KPK supaya tetap bisa tegak dan mampu ‘memulihkan diri’ untuk bekerja secara garang melawan koruptor.

Apa yang terjadi pada Antasari juga merupakan wujud betapa minimnya jumlah pejabat negara yang memiliki integritas tinggi dan tak memiliki jejak rekam buruk di masa lalunya yang membuatnya bisa menjadi teladan masyarakat. Pasalnya, sudah sering ditemukan pribadi yang sebenarnya memiliki kemampuan bagus dan serius dalam melaksanakan kinerjanya di bidang pemerintahan, malah tertangkap basa melanggar aturan hukum berat sehingga harus menanggung konsekuensinya dengan merasakan pengabnya hotel prodeo.

Berkaca dari masa lalu, masyarakat pasti bangga dengan individu Antasari Azhar, yang gigih berjuang menjebloskan para koruptor ke penjara. Namun saat ini kondisi berubah seratus delapan puluh derajat dan menjadi kegetiran mengingat sang hero harus menjalani pemeriksaan terkait penyidikan pembunuhan terencana yang menyangkut dirinya.

Satu catatan berharga bisa dijadikan pegangan bahwa masyarakat akan semakin sulit menemukan figur pejabat panutan sebagai patokan yang dapat dibanggakan. Karena jika seorang yang selama ini memiliki prestasi cemerlang di bidangnya malah tak disangka-sangka memiliki sejarah kelam dan berperilaku luar biasa buruk, maka rakyat Indonesia akan semakin sulit percaya terhadap setiap ambtenar. Pasalnya, belum-belum sudah dipandang curiga dan dinilai tak bakal mengabdi kepada masyarakat.

Karena itu, kita tunggu perkembangan penyidikan Polri guna menuntaskan kasus yang mencoreng institusi penegakan hukum tersebut. Tak peduli walaupun Antasari Azhar menjabat sebagai Ketua KPK, semua orang di mata hukum posisinya sama sehingga tak perlu ada perlakuan istimewa supaya memberikan efek jera dan pelajaran kepada pejabat pemerintah lainnya agar tak mengikuti jejak buruk yang bersangkutan.

Suara Pembaca, Rabu, 6 Mei 2009 (Surabaya Pagi)

Semoga kasus yang menimpa Antasari bisa dijadikan pelajaran bagi pejabat tinggi lainnya supaya lebih hati-hati dalam menjalani kehidupannya agar tak terjerumus di kemudian hari. Jangan sampai sudah digadang-gadang masyarakat dan pemerintah sudah menaruh harapan besar kepada KPK, namun pada akhirnya nanti KPK harus tumpul dan tak bertaji lagi dalam menumpas korupsi di tubuh pemerintahan yang diakibatkan tertangkapnya pucuk pimpinannya. Karena itu kita harapkan KPK tak terpuruk sepeninggal Antasari.

Erik Purnama Putra

Aktivis Pers Kampus Bestari Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: