Mental Anak Pascabencana

Selasa, 31 Maret 2009 (Jurnal Nasional)

Akhir-akhir ini tanah air kita banyak tertimpa bencana alam yang tiada henti, dan yang terakhir musibah banjir yang menenggelamkan daerah Tuban, Bojonegoro dan Jakarta. Datangnya musibah beruntun tersebut mengguncang pikiran korban. Para korban tersebut mengalami gangguan psikis sebagai konsekuensi psikologis akibat dampak bencana alam.

Kehidupan para korban bencana tak bisa lagi seperti sedia kala. Efek yang disebabkan bencana mengguncang pikiran korban. Diantara korban tersebut, tentunya juga ada anak-anak. Kehidupan masa kecil yang seharusnya dilewati sebagai masa pertumbuhan dan kebahagian, ternyata menimbulkan efek aftershock (pengaruh setelah bencana) berupa traumatik pada anak.

Trauma yang berasal dari bahasa Yunani, berarti luka, menggambarkan peristiwa (situasi) yang dialami oleh korban akan kejadian bencana yang dialaminya hingga membekas dipikirannya. Oleh karena itu, merupakan sebuah hal yang wajar ketika anak akan terkejut baik secara fisik maupun emosional apabila mendapatkan stimulus yang sama atas bencana yang dialaminya, sebagai reaksi kejut atas kejadian traumatik tersebut.

Mereka (anak-anak) yang mengalami peristiwa traumatik, responnya dapat berupa perasaan takut, tidak berdaya, atau merasa ngeri tersebut akan berdampak pada fungsi adaptif korban pada lingkungan. Anak akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dan ketakutan melihat reaksi dari lingkungan tempat tinggalnya. Cidera dan luka emosional yang ditimbulkan bencana mengakibatkan anak-anak tidak bisa hidup bahagia sebagaiman mestinya.

Tragedi bencana alam yang merenggut kesenangan duniawi dan kebahagian korban, harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Pemerintah harus mengupayakan langkah-langkah membantu pemulihan mental kejiwaan anak. Karena dikhawatirkan bila tak ada penanganan serius dari pemerintah, akan banyak anak yang mengalami gangguan yang lebih parah hingga merasa depresi.

Memang jika jiwa anak memiliki daya tahan kuat hal itu tak jadi masalah serius. Namun kebanyakan daya tahan mental anak masih belum sempurna hingga rentan terkena serangan stress berkepanjangan. Karena menurut penelitian yang ada, pada minggu pertama setelah bencana tanda-tanda stress belum akan muncul dari penderita. Tetapi sesudah melewati masa itu, keadaan emosional dan fisik yang rentan akan dimunculkan korban.

Jangan karena media (massa dan elektronik) sudah tak memberitakan lagi kondisi korban, pemerintah juga melupakan penanganan psikisnya. Karena selama ini yang diperhatikan pemerintah melulu hanya pada pemberian bantuan fisik (makanan dan sandangan) saja, sementara penanganan dan pemulihan mental korban bencana sepertinya terlupakan.

Trauma pada anak belum tentu langsung terlihat nyata oleh mata, berbeda dengan penyakit fisik yang terlihat langsung sehingga bisa langsung diberikan perawatan. Sehingga dengan pemberian metode psikoterapi yang tepat, mudah-mudahan mampu memulihkan kejiwaan dan perkembangan pikirannya dalam mempersepsi dunia.

Erik Purnama Putra

Reporter Koran Kampus Bestari Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: