Resiko JK Maju Sebagai Capres

Sabtu, 28 Maret 2009 (Jurnal Nasional)

Setelah lama didesak maju dari kalangan internal Partai Golkar Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (KL) menyatakan bersiap maju sebagai calon presiden (capres) guna menghadapi incumbent Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati, kondisi perpolitikan Tanah Air mengalami banyak perubahan.

Jika sebelumnya diramalkan ajang pemilihan presiden (pilpres) hanya menjadi ajang persaingan SBY dan Mega, sekarang keberadaan JK patut diperhitungkan. Sehingga dapat disebut kompetisi memperebutkan kursi RI 1 semakin panas dan setiap capres harus berusaha keras untuk untuk merebut simpati rakyat agar dirinya dapat terpilih.

Namun sayang, hingga kini dari berbagai survei lembaga politik yang sudah dirilis, popularitas SBY dan Mega tetap teratas dan unggul jauh dari JK. Sehingga dapat disebut persaingan masih hanya milik SBY dan Mega. Kondisi berbeda jika JK berada pada posisi cawapres, di mana disebutkan hasil survei menempatkan pria asal Makasaar tersebut berada pada posisi teratas. Sehingga mengacu hasil survei itu membuat posisi Golkar serba dilematis.

Di satu sisi apabila terus memaksakan diri mengusung JK sebagai capres, maka dapat dipastikan kemenangan sulit diraih. Sedangkan jika hanya mengincar posisi RI 2, maka citra partai berlambang beringin akan runtuh dan dipandang sebelah mata. Dari fakta itu disebut-sebut di kalangan internal Golkar muncul friksi, yang satu ingin agar duet SBY-JK tetap berlanjut dan satunya ngotot supaya JK tetap maju sebagai capres.

Menyikapi itu kita tentu dapat menduga sekarang JK dan Partai Golkar sedang dirundung ‘kebingungan’ mendalam. Boleh saja Golkar mendapat suara besar dalam pemilihan legislatif (pileg) yang dijadikan dasar untuk mengusung JK sebagai capres. Tetapi masalahnya pilpres berbeda dengan pileg, di mana jika pilpres lebih mengedepankan figur calon, sedangkan pileg lebih menonjolkan partai. Karena itu sangat riskan jika Golkar tetap memaksakan diri mendorong JK maju memperebutkan jabatan Presiden RI, mengingat popularitasnya jauh di belakang SBY dan Mega.

Sehingga tidak ada jalan lain bagi Golkar untuk bersikap realistis dan tidak menuruti hasrat berkuasa tanpa didukung realita yang ada. Hal itu berbeda seandainya SBY-JK tetap berpasangan dalam pilpres 2009, karena dari hasil survei pasangan itu memperoleh suara tertinggi dan jauh meninggalkan pasangan rivalnya.

Belajar dari itu sudah sepatutnya pemimpin Partai Golkar menimbang terlebih dulu resiko bila tetap ingin mengusung JK sebagai capres, sebab itu penuh tantangan dan peluang menang sangat sedikit. Pasalnya kondisi itu tidak mudah dan bisa jadi malah menyulitkan posisi Golkar yang ingin meninggalkan koalisi dengan Partai Demokrat (PD) sebagai pengusung SBY. Karena itu tetap memaksakan diri maju sebagai capres dan berpisah dengan SBY sangat riskan bagi Golkar dan malah dapat jadi bumerang.

Erik Purnama Putra

Akademikus UMM

Gedung SC Lt.1 Bestari Kampus III Unmuh Malang

Satu Tanggapan to “Resiko JK Maju Sebagai Capres”

  1. papun sebuah keputusan pasti ada resikonya

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: