Waspadai Makanan Tak Halal

Citizen Journalism, Rabu, 29 April 2009 (Surabaya Post)

Baru-baru ini masyarakat di beberapa daerah Indonesia dibikin heboh adanya penemuan makanan abon dan dendeng babi yang beredar bebas di pasar tradisional Bandung dan Bogor. Menjadi geger karena masyarakat yang menjadi konsumen makanan tersebut ketika ingin membeli abon dan dendeng daging sapi, ternyata yang didapat malah berasa daging babi. Untungnya, konsumen yang merasa curiga ada yang tak beres dengan produk yang dibelinya melapor ke pihak berwajib. Sehingga dengan cepat polisi dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) berhasil menemukan pedagang yang menjual makanan haram itu. Selanjutnya setelah ditelusuri produsen yang memasok ke pedagang dapat berhasil ditemukan, yang lokasi produksinya berada di Kota Malang.

Di luar terbongkarnya kasus mengkhawatirkan itu, saya sangat menyesalkan kejadian beredarnya produk makanan tak halal bisa menyebar bebas tanpa adanya kontrol ketat dari BPOM. Pasalnya, ditemukannya makanan daging babi yang beredar di pasaran bukan kali pertama terjadi dan bisa disebut sudah berulang kali. Yang ironis, produk tersebut dibungkus secara menarik dan diberi embel-embel label halal yang membuat konsumen tertipu saat membeli. Sehingga berkaca peristiwa itu menjadi wajar ketika masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam mempertanyakan bagaimana kinerja pihak berwenang dalam mengawasi peredaran makanan tak layak konsumsi tersebut produk itu bisa beredar bebas hingga ke tangan konsumen.

Padahal dalam ajaran Islam, makanan apa pun yang mengandung babi jelas diharamkan oleh agama. Karena itu, dapat dikatakan umat muslim belum mendapatkan perlindungan memadai dari BPOM sebagai pihak berwenang dalam mengawasi persebaran produk makanan. Maka itu, menjadi wajar ketika masyarakat mengkritik kinerja BPOM yang baru bertindak ketika sudah ada korban konsumen yang jadi korban dengan mengonsumsi daging dan abon babi.

Saya sendiri sangat geram ketika produk makanan mengandung babi bisa dengan mudah ditemukan di toko pasar tradisional dan penjualnya tak menyadari produk yang dijualnya tak layak dikonsumsi. Pasalnya menjadi aneh jika setelah ada ribut-ribut BPOM baru turun tangan dan berencana menarik produk dari pasaran. Padahal langkah itu bukan menyelesaikan masalah, tetapi hanya meredam kemarahan masyarakat.

Yang harus diprioritaskan BPOM adalah menjerat produsen dengan aturan berlaku dan menindak tegas semua yang terlibat dalam produksi produk makanan mengandung daging babi dengan hukum pidana agar memberikan efek jera. Sehingga ketika di kemudian hari ada orang yang ingin melakukan perbuatan serupa akan takut dan berpikir dua kali. Bukannya seperti sebelumnya yang kurang tegas hingga membuat produk berbahan babi tetap beredar dan terus berulang kembali ditemukan masyarakat.

Sementara, masyarakat juga jangan terjebak dengan berbagai produk makanan yang dijual dipasaran apalagi yang harganya di bawah standar. Sikap waspada perlu dikembangkan agar konsumen tak mudah terjebak bujuk rayu pedagang yang menjual produk, yang kemasannya disamarkan agar laku. Jika masyarakat tak juga kritis dengan makanan yang dijual di pasaran, maka beredarnya makanan haram akan tetap terjadi lagi mengingat bila menggantungkan pada kinerja BPOM untuk mengawasi makanan juga masih belum baik. Sehingga jalan satu-satunya adalah berhati-hati setiap membeli makanan dan menelitinya terlebih dulu agar tak sampai dikonsumsi dan masuk tubuh.

Erik Purnama Putra

Pelajar Psikologi UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: