Jangan Terjebak Isu Menyesatkan

Senin, 25 Mei 2009 (Jurnal Nasional)

SETELAH resmi mendampingi calon presiden (capres) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai calon wakil presiden (cawapres), Boediono, perlu menunjukkan kepada seluruh masyarakat bahwa dirinya bukan sebagai penganut paham neoliberalisme. Pasalnya, semakin lama tuduhan terhadap Boediono sebagai orang yang ciri kebijakannya selalu dikaitkan dengan sistem pasar bebas dan negara tak bisa ikut campur dalam mengurusi perekonomian rakyat semakin meningkat. Sehingga perlu bagi Guru Besar Ekonomi UGM tersebut untuk meluruskan isu yang sudah terkadung berkembang di masyarakat yang menyatakan dirinya sebagai orang yang anti perekonomian kerakyatan.

Menyikapi itu, sudah semestinya masyarakat Indonesia sudah tak terpengaruh dengan berbagai isu yang bermotif menjatuhkan pribadi seseorang, mengingat belum terbukti kebenarannya. Dan malah bisa jadi itu dihembuskan oleh lawan politik yang menjadi kompetitor pasangan SBY-Boediono, yang tujuannya ingin melakukan black campaign. Sehingga ujungnya ingin menjatuhkan lawan politiknya demi kepentingan sendiri, bukannya berdasar kepentingan negara.

Maka itu, diharapkan rakyat tak perlu ikut percaya dengan isu tendensius yang menyatakan jika pasangan SBY-Boediono terpilih sebagai pemimpin bangsa Indonesia periode 2009-2014, Tanah Air ini akan berkiblat pada negara barat dalam hal sistem ekonominya. Yang perlu dilakukan sekarang adalah sikap kritis dan tak mudah ikut gelombang kelompok yang terpengaruh wacana menyesatkan tersebut.

Karena jika sistem ekonomi yang diusung SBY berkiblat pada aliran liberal, sudah pasti semasa kepemimpinannya selama lima tahun ini akan melupakan nasib rakyatnya. Namun buktinya bukan seperti itu. Karena berbagai kebijakan pemerintahan malah prorakyat. Buktinya program Bantuan Langsung Tunai (BLT), penurunan harga BBM dan beberapa harga kebutuhan pokok, serta pemberian gaji ke-13 kepada PNS, TNI-Polri, dan pensiunan, yang diluncurkan adalah fakta yang tak bisa diabaikan. Sehingga sudah terbukti sangat tak masuk akal bila SBY-Boediono nanti terpilih sebagai pemenang pemilu akan mengaplikasikan ekonomi liberal yang tak memihak rakyat.

Lagian, dalam acara deklarasi pasangan SBY-Boedino beberapa waktu laluu di Bandung, ketika Boediono diberikan kesempatan tampil untuk memberikan pidato, dijelaskan bahwa tudingan agent neoliberalis yang diarahkan pada dirinya termentahkan dengan sendirinya ketika dijelaskan bahwa tak mungkin pemerintah membiarkan free market berkembang tanpa kontrol. Sehingga diperlukan institusi negara untuk mengintervensi pasar jika dimungkinkan. Itu pun dalam batas proporsional dan sesuai prosedur agar perekonomian Indonesia bisa berjalan on the right track dan mampu tumbuh tinggi.

Berpatokan dari penjelasan itu, tuduhan bahwa Boediono penganut paham neoliberalisme tak bisa dibenarkan, sebab masyarakat bisa menjadikan statemen Boediono itu dikemudian hari sebagai pegangan untuk menuntutnya jika dia melanggar. Karena itu, isu pasangan SBY-Boediono akan berpihak pada pemodal besar dan melupakan ekonomi kerakyatan jika terpilih sebagai pemimpin Indonesia hanya sebuah bentuk isu murahan yang disebarkan lawan politik, yang sebenarnya menyesatkan dan membodohi masyarakat.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa UMM

Gedung SC Lt.1 Bestari UMM, Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: