Peduli Nasib Buruh

Suara Warga, Koran Pak Oles/Edisi 175/16-31 Mei 2009

Buruh selalu berada dalam kooptasi pemilik perusahaan atau pemodal besar. Sehingga tak jarang buruh harus mendapatkan perlakuan tak semestinya, misal gajinya kecil di bawah Upah Minimum Regional (UMR) hingga mendapatkan perlakuan diskriminasi dari bosnya. Karena itu, sering sekali ditemukan berita dari media massa bahwa keberadaan buruh dalam pabrik selalu direndahkan derajatnya dan tak mendapatkan apresiasi atas jerih payahnya secara setimpal.


Harus diakui kalangan buruh kebanyakan berpendidikan rendah dan tak memiliki kemampuan mencukupi sebagai bekal untuk menjadi nilai tawarnya di pabrik tempat di mana dia bekerja. Padahal kondisi itu yang membuat keadaan buruh semakin merana dan tak kunjung bisa memperbaiki kesejahteraan hidupnya. Apalagi banyak perusahaan mempekerjakan buruh di luar batas hingga tenaganya habis terkuras, sementara upahnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sehingga yang terjadi hampir semua buruh tak berani melawan kesewenang-wenangan bosnya dan memilih diam daripada dipecat, yang tentunya malah akan memperburuh kondisi ekonominya.


Masalah buruh tak hanya itu. Saat ini beberapa perusahaan nakal yang besar menggunakan sistem kontrak pada buruh sehingga tak membebani perusahaan. Kondisi itu berakibat jutaan buruh tak memiliki asuransi kesehatan maupun kecelakaan kerja, yang membuat jika sewaktu-waktu terjadi hal buruk pada tubuhnya maka buruh harus menanggung pengobatan sendiri. Belum lagi tunjangan dihapus dan tak memperoleh pesangon akibat sistem kontrak membuat kehidupan buruh berada dalam lingkaran setan.


Kondisi itu bukannya tak disadari pemerintah. Namun hingga kini penguasa lebih berpihak pada pemilik modal besar dan kurang peka dengan jeritan buruh yang terus mengumandangkan perubahan nasibnya. Buktinya, ketika ada PHK besar-besaran akibat dampak resesi global, pemerintah lebih memilih jalan menyelamatkan makro ekonomi dengan menggelontorkan paket stimulus yang membuat orang kaya betah berinvestasi di Indonesia. Sedangkan pemerintah tak bereaksi keras saat beberapa perusahaan melakukan PHK yang membuat pengangguran dari kalangan buruh semakin merajalela.


Moment hari buruh wajib dijadikan ajang konsolidasi dan titik balik bagi buruh untuk bersatu melawan segala bentuk pelecehan yang kerap diterima dari pemimpin perusahaan. Diharapkan setiap buruh memiliki spirit tinggi untuk dapat mengeluarkan unek-uneknya ketika demo di jalanan agar penguasa negeri ini melihhat realitanya di lapangan.
Tak ada alasan bagi pemerintah untuk tak memperjuangkan nasib buruh dan menindak pihak swasta yang sering mengintimidasi buruh. Jika tidak, buruh akan meluapkan kemarahannya kepada penguasa yang dinilai tak responsif dalam menegakkan aturan ketenagakerjaan. Mengingat sejauh ini kelompok buruh tak pernah mengenyam kehidupan enak sebab gajinya sangat kecil. Alhasil, kita tunggu saja perjuangan buruh dalam menyampaikan tuntutannya pada ajang Mayday lalu. Tetap semangat dan pantang menyerah saya sampaikan kepada buruh atas usahanya tak kenal lelah berjuang!


(Komentar: Erik Purnama Putra, aktivis Pers Koran Kampus Bestari UMM
Gedung SC Lt.1 Bestari Kampus III Unmuh Malang
)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: