Penunjukan Boediono Pilihan Terbaik

Rabu, 20 Mei 2009 (Jurnal Nasional)

TERPILIHNYA Boediono sebagai pendamping Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang akan maju berpasangan dalam pemilihan presiden (pilpres) pada 8 Juli, mengagetkan beberapa pihak. Pasalnya, banyak kalangan mempertanyakan kapasitas Boediono sebagai calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampingi SBY, sebab dinilai masih minim pengalaman di arena politik. Di samping itu, dengan dipilihnya Boediono, SBY berarti telah ‘menabrak’ tradisi bahwa pasangan capres dan cawapres harus memenuhi unsur nasionalis-religius atau Jawa-luar Jawa.

Maka itu, dikhawatirkan pasangan yang diusung PD, PKS, PAN, PPP, PKB, dan beberapa partai kecil lainnya ketika nanti terpilih tidak merepresentasikan suara rakyat Indonesia. Karena semuanya dari Jawa, khususnya Jawa Timur. Sehingga ditakutkan sangat rawan terjadi gejolak jika nanti kebijakan SBY dikritik lawan politiknya di parlemen, sebab pendampingnya dinilai kurang cakap berpolitik dan hanya menguasai bidang ekonomi.

Pendapat itu sah-sah saja muncul dari pengamat politik maupun partai politik (parpol) pendukung koalisi karena memang ada benar adanya secara loogika. Tetapi, yang tak boleh dilupakan adalah jabatan wapres tidak melulu harus dari kalangan politikus dan perpaduan Jawa-luar Jawa, sebab malah melanggar asas Bhinneka Tunggal Ika, yang isinya prinsip simbol berupa golongan tertentu yang harus dikotak-kotakkan dan semangat primordialisme mesti dilebur dalam semangat nasionalisme berbangsa. Karena itu, sudah semestinya semua pihak yang selama ini mengkritik pilihan SBY mesti mawas diri dan menghormati pilihan SBY.

Dari peristiwa itu, ada sebuah kemajuan politik yang sedang ditularkan SBY untuk bangsa ini, yakni jabatan Presiden maupun Wapres RI tidak melulu harus dari kalangan politikus dan pemimpin parpol. Karena belajar dari pengalaman sebelumnya, terlihat sekali jika Presiden RI dan wakilnya berbeda baju partainya, maka keduanya malah tidak saling sinkron dalam mengeluarkan kebijakan. Malahan, seringkali hubungan keduanya memanas akibat program pemerintah yang dinilai berhasil di mata rakyat diklaim sebagai hasil kreasi pemikirannya mewakili partai pengusungnya. Sehingga bukan lagi keberhasilan pemerintahan jadinya, melainkan parpol.

Kondisi itu sepertinya pernah dirasakan dan tak ingin diulangi lagi oleh Presiden SBY sehingga harus mengambil jalan tengah, yakni memilih Gubernur BI, Boediono sebagai wakilnya. Keputusan itu juga saya nilai sebagai pilihan cerdas. Karena jika memilih dari pasangan yang diajukan parpol pendukung koalisi, pasti akan terjadi gontok-gontokan jika SBY memilih nama yang diajukan parpol koalisi. Mengingat setiap partai pasti memiliki kepentingan sendiri-sendiri sehingga dengan memilih figur di luar partai semua aspirasi bisa terwadahi.

Lagian yang saya herankan ketika dulu partai pendukung SBY bersedia menerima siapa pun wapres pilihan SBY, mengapa ketika wapres itu tak dari partainya harus marah dan mengancam bakal menarik diri dari koalisi. Hal itu jelas menunjukkan betapa ciutnya pemikiran elite parpol yang sebenarnya berharap cawapres dari tokoh internal partainya. Sehingga wajar dan sudah semestinya semuanya diserahkan pada SBY sebab yang mempunyai chemistry bukan parpol. Karena itu, saya menilai penunjukan Boediono sudah pas dan tak perlu dipertentangkan lagi oleh parpol.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: