Salaman Bersejarah dan Sikap Legowo

Kamis, 4 Juni 2009 (Jurnal Nasional)

UNTUK pertama kalinya setelah hampir lima tahun antara Presiden RI SBY dengan Ketua Umum PDI-P Megawati bertemu dalam satu tempat dalam acara pengambilan nomor urut calon peserta pemilihan presiden (pilpres) pada 8 Juli mendatang di Kantor KPU. Tak hanya itu, untuk pertama kalinya pula antara SBY dengan Megawati terlibat salaman (jabat tangan sambil menggengam tangan) sebanyak dua kali. Sebuah momen bersejarah yang sangat dinantikan rakyat Indonesia karena keduanya adalah orang nomor satu di negeri ini. Jika Mega adalah Presiden RI kelima, SBY merupakan Presiden RI keenam.

Sebenarnya aktivitas salaman merupakan hal biasa dalam kehidupan manusia. Namun menjadi luar biasa ketika yang bersalaman adalah dua tokoh besar Indonesia yang sudah lima tahun ini saling tak bertegur sapa dan hubungannya memburuk satu sama lain. Karena antar keduanya sudah tak saling sapa dan memutus tali silaturahmi. Sehingga ketika berduanya salaman masyarakat Indonesia patut bersyukur sebab diharapkan ke depannya hubungan mereka bisa lebih baik dan cair dari sebelumnya.

Di luar apakah keduanya sudah ‘baikan’ dalam arti sesungguhnya, proses salaman itu patut diapresiasi secara khusus. Pasalnya, jika mengacu pada aspek keteladanan, keduanya sudah menunjukkan sikap kenegarawanan karena mengesampingkan ego masing-masing untuk berjabat tangan di tengah keadaan keduanya yang belum bisa dikatakan sudah rukun.

Meskipun pada waktu itu tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut masing-masing dan Megawati terkesan dingin menyambut jabat tangan dari SBY sebab hanya ujung tangannya saja yang menyalami, namun tetap saja lebih baik daripada keduanya tak bertegur sapa. Sehingga dapat disebut hubungan buruk itu sudah memasuki babak baru untuk menjadi sarana ke depan agar antara Mega dan SBY bisa rujuk kembali seperti sedia kala agar sejarah buruk pergantian pemimpin tak terus terulang sebab menjadi sejarah kurang baik yang dicatat bangsa.

Mengingat selama ini masyarakat sudah gerah melihat bekunya hubungan keduanya yang saling tak bertegur sapa selama hampir lima tahun. Sehingga diharapkan setelah proses pilpres terlaksana, siapapun presidennya, baik Mega maupun SBY wajib memberikan ucapan selamat kepada pemenangnya. Itu supaya rakyat Indonesia dapat melihat bahwa proses pergantian presiden tak ubahnya seperti kompetisi biasa dan yang kalah mesti bersikap legowo menerima kenyataan. Karena rakyat sudah muak jika melihat politisi yang tak dapat berbesar hati dan malah memendam amarah dengan tak mau lagi menyapa kompetitornya.

Berangkat dari kejadian itu jangan seperti tempo tahun 2004 terulang, di mana pemenang kompetisi pilpres tak mendapat pengakuan dari presiden terdahulunya. Maka itu dalam pilpres mendatang seyogyanya kedua orang yang terlibat perseteruan itu untuk saling mengalah dan menunjukkan kepada rakyat Indonesia bahwa pergantian presiden bisa berlangsung lancar. Dan yang kalah wajib mengakui kemenangan rivalnya.

Erik Purnama Putra

Aktivis Pers Kampus Bestari UMM

Gedung SC Lt.1 Bestari Kampus III UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: