Memilih Pemimpin Visioner

Kamis, 28 Mei 2009 (Jurnal Nasional)

Pemilihan presiden (pilpres) pada 8 Juli sudah diketahui masyarakat dan bakal diikuti tiga pasangan calon presiden (capres) yang diusung tiga partai politik (parpol) pemenang pemilihan legislatif (pileg), ditambah gabungan koalisi parpol yang lolos parliamentary threshold. Dari nama yang sudah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) terdapat nama Jusuf Kalla-Wiranto yang diusung Partai Golkar dan Partai Hanura, Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono yang disokong Partai Demokrat (PD), PKS, PAN, PPP, dan PKB, serta pasangan terakhir Megawati-Prabowo yang didukung PDI-P dan Partai Gerindra.

Dari ketiga pasangan calon itu, semuanya memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing yang dapat dijadikan rujukan masyarakat sebagai bekal untuk menilai secara obyektif agar ketika di hari pelaksanaan pilpres bisa tepat dalam memilih. Sehingga diharapkan mulai sekarang setiap orang yang mempunyai hak pilih mulai mengawasi setiap aktivitas setiap capres-cawapres dalam berorasi. Karena semakin dekat pemilu, biasanya setiap calon pemimpin bangsa ini akan mengumbar berbagai janji manis yang enak didengar, namun sering sulit direalisasikan.

Untuk itu, perlu dikembangkan sikap kritis dan tak mudah terjebak bualan kata-kata yang dijual setiap capres-cawapres, yang kepentingannya cuma menggaet massa dan menarik simpati pemilih belaka. Itu penting agar nanti masyarakat dapat dengan cerdas ketika menentukan pilihannya, dan tak terjebak pada asas ketertarikan fisik maupun fanatik sempit yang selama ini menggejala saat memilih calon pemimpin.

Di samping itu, masyarakat juga perlu mengetahui program visi dan misi para capres-cawapres semasa kampanye. Karena itu, wajib ditagih mulai sekarang kepada setiap calon pemimpin bangsa supaya menjabarkan berbagai blue print yang akan digunakan sebagai master plan semasa kampanye yang nantinya digunakan untuk perjalanan Tanah Air ke depannya.

Mengingat sekarang bangsa ini sedang menghadapi permasalahan pelik, yakni krisis global yang berpotensi menurunkan aspek kesejahteraan masyarakat. Sehingga setiap calon pemimpin dituntut membuat berbagai program yang sekiranya ketika diaplikasikan dapat membuka lapangan kerja baru sekaligus pro-pengusaha. Yang nantinya dapat berdampak pada iklim investasi yang mampu menarik banyak pengusaha untuk menanamkan modalnya dengan membangun pabrik yang membuat lapangan kerja.

Pasalnya, jika sampai salah memilih pemimpin, bisa jadi perjalanan bangsa ini dalam jangka lima tahun ke depan bukannya semakin baik, malah dimungkinkan mengalami kemunduran. Sehingga jalan satu-satunya untuk menghindari itu adalah masyarakat dengan cermat mengalkulasi setiap resiko yang bakal muncul bila memilih calon pemimpin yang memiliki track record buruk, dan tak mempunyai program visioner yang bersifat solutif bagi Indonesia. Karena itu, tidak mudah tergiur beragam janji yang ditawarkan merupakan langkah bijak dalam memaknai setiap kampanye capres-cawapres.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: