Belajar dari Kasus Manohara

Rabu, 10 Juni 2009 (Jurnal Nasional)

BANYAK pelajaran berharga yang bisa dipetik masyarakat dari kasus yang menimpa Manohara Odelia Pinot yang diperlakukan semena-mena oleh suaminya yang merupakan putra keempat Sultan Kelantan, yakni Pangeran Tengku Temenggong Muhammad Fakhry Petra. Dari kasus tersebut masyarakat dapat memperoleh gambaran bahwa segala bentuk keduniaan, semacam materi, status, dan kedudukan, ternyata tak selalu indah seperti yang diidam-idamkan banyak orang.

Bayangkan, menjadi pendamping istri seorang pangeran dan hidup di kesultanan dengan beragam kemewahan malah membuat Manohara tak menemukan kebahagiaan sejati dalam menjalani setiap aktivitasnya. Hal itu terjadi karena dia diperlakukan tidak manusiawi dan sebagaimana mestinya sebab selalu mendapatkan perlakuan kasar hingga menjurus penganiayaan yang menimpanya.

Manohara yang menikah di bawah umur selama menjadi seorang istri Pangeran Kelantan Malaysia, bukannya diposisikan sebagai wanita yang layak mendapatkan penghormatan. Namun Manohara hanya sebagai simbol wanita pelengkap derita. Sehingga apa yang menimpa Manohara hendaknya mampu menyadarkan kalangan orangtua bahwa jangan sampai silau dengan posisi seseorang. Karena kebahagiaan itu bukan ditentukan oleh materi dan kedudukan semata, melainkan banyak aspek yang lebih dari sekedar nilai itu semata.

Itu untuk mengingatkan masyarakat, mengingat dalam kasus Manohara, pihak ibunya Diasy Fajarina, yang mengapa sampai bisa menikahkan anaknya yang masih belum cukup umur dan selanjutnya dilepaskan begitu saja dengan suami tanpa adanya kontrol dari orangtua, yang membuat terjadinya kasus penyiksaan.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa Manohara juga menguatkan anggapan bahwa di era modern seperti sekarang masih ada saja individu maupun sekelompok orang tertentu yang menganggap perempuan selalu berada di bawah laki-laki. Apalagi mengingat budaya kesultanan masih bersifat tradisional dan feudal yang kurang menghargai peran wanita, sehingga dengan entengnya pihak kesultanan menjadikan perempuan sebagai obyek kekerasan.

Di satu sisi, peristiwa yang menimpa Manohara masih dapat dikatakan bernasib baik sebab dia diliput media massa sehingga perjuangannya menegakkan keadilan bisa diperjuangkan. Namun bagaimana dengan yang menimpa banyak wanita dari golongan ekonomi rendahan dalam rumah tangga yang mengalami perlakuan buruk dari suaminya yang tak bisa berbuat apa-apa. Atau kasus kekerasan dan penyiksaan yang menimpa TKI di luar negeri, pastinya nasib jelek akan terus dirasakan dan tak ada yang memperjuangkan.

Untuk itu, pernyataan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta yang menilai kasus Manohara tak lepas dari kesalahan orangtua juga perlu diperhatikan. Apalagi orangtua Mano berasal dari keluarga terpelajar dan secara ekonomi mampu. Karenanya sudah menjadi tugas orangtua untuk menjaga anaknya.
Yang tak kalah penting, tindakan biadad yang dilakukan Pangeran Fakhry perlu dikutuk sebab tak memperlakukan wanita secara humanis dan diperlakukan seperti binatang, yang menganggap properti hingga bisa seenaknya untuk dipermainkan dan dianiaya dengan melukai bagian tubuhnya.

Erik PP
Mahasiswa Psikologi UMM
Gedung SC Lt.1 Bestari Kampus III UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: