Iklan Ramalan Televisi Menyesatkan

Rabu, 1 Juli 2009 (Jurnal Nasional)

SEKARANG ini, makin marak saja di setiap stasiun televisi yang menayangkan iklan berjenis ramalan nasib untuk melihat masa depan, peruntungan, jodoh, atau sejenisnya yang merupakan hasil jualan para paranormal yang menawarkan jasanya kepada masyarakat. Kondisi itu secara tidak langsung cukup menganggu saya yang merasa bahwa iklan tersebut tak lebih sekedar sampah yang bertujuan untuk membodohi masyarakat.

Pasalnya, hanya dengan bermodal kirim pesan singkat melalui handphone, seseorang dijanjikan akan diterawang oleh paranormal untuk dilihat tentang keadaan diri orang tersebut. Maka itu, ketika saya melihat tayangan televisi di malam hari untuk mencari hiburan, saya sangat jengkel jika iklan paranormal itu muncul dengan seringnya.

Memang saya menganggap pertama kali kemunculan iklan ramalan sebagai angin lalu. Namun setelah makin gencar penayangannya dengan beragam versi ramalan dari banyak paranormal saya saya menjadi geregetan dengan iklan itu. Di samping kurang tepat pemunculannya di era modern seperti sekarang ini. Iklan itu juga seperti merendahkan martabat manusia sebab seolah-olah takdir manusia bisa diramal.

Jika boleh disebut satu persatu, iklan ramalan menggunakan media SMS tentang jodoh, pekerjaan, dan nasib, adalah sebuah bentuk iklan yang menyesatkan. Semua itu karena pemirsa televisi yang ingin memanfaatkan model jasa itu harus mengirimkan SMS dengan tarif premium guna mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepada pengiklan, yang terdiri paranormal, mentalis, maupun kalangan spiritualis dengan berbagai atribut menyeramkan yang aneh-aneh.

Dalam Islam sendiri, hukum percaya dengan ramalan sangat dilarang sebab sama saja dengan perbuatan syirik. Karena jasa yang ditawarkan menggunakan metode hitungan mistis maupun memakai bantuan alat yang secara logika tidak bisa diterima. Padahal menyekutukan Allah merupakan dosa besar yang tak diampuni. Sehingga patut disesalkan jika banyak masyarakat yang mengambil jalan pintas dengan mengirimkan SMS agar mendapatkan pencerahan dari para peramal tersebut akan kondisinya.

Apalagi di zaman serba modern dan iptek berkembang pesat dengan diiringi tingkat pendidikan masyarakat yang semakin tinggi, sehingga sudah seharusnya tidak percaya dengan hal-hal yang berbau tak ilmiah. Namun sayang, karena lebbih memilih jalan pintas banya masyarakat yang percaya dengan jasa ramalan itu. Sayangnya, bukannya hilang, dari hari-ke hari iklan yang memuat berbagai ramalan dengan metode tertentu tersebut malah semakin gencar. Hal itu jelas menandakan bahwa pengguna jasa itu terus meningkat sehingga menarik minat pengiklan untuk menggencarkan penayangan iklan tentang kehebatan dirinya.

Untuk itu, saya menghimbau kepada televisi untuk tak lagi menayangkan iklan ramalan itu agar masyarakat tak dikibuli dengan berbagai hal yang bersifat pembodohan. Pihak televisi juga mesti selektif dalam menerima pemasangan iklan agar tak cuma mengejar keuntungan, melainkan juga hlebih mengutamakan iklan yang ada aspek edukasi dalam iklannya.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Satu Tanggapan to “Iklan Ramalan Televisi Menyesatkan”

  1. awalnya dari berbagai tabloid, koran, majalah, dan sejenisnya. karena para pemuka agama adem aja, maka merambah ke tv.

    banyak tayangan sejenis yang dulunya malu2 kucing ditampilkan, sekarang di bawah jam 10 udah bisa dinikmati.

    kasus2 seperti ini kenapa ga bikin para ulama dan orang2 yang menyatakan dirinya garis keras islam tergerak dan berontak, yah? minimal memperingatkan stasiun tv, kek… atau apalah… yah minimal kayak kamu yang berani ‘menghimbau’🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: