Pilih Capres yang Visioner

MEMILIH calon presiden (capres) bagi sebagian masyarakat gampang-gampang susah. Namun menurut saya, ada cara gampang untuk memilih capres yang visi dan misinya untuk memberdayakan rakyat miskin, yakni dengan menggunakan metode untuk mencari tahu manakah capres yang memiliki visi pembangunan bagi perbaikan mutu sumber daya manusia (SDM) dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

Karena sejauh ini, program yang diusung ketiga capres baru pada tataran pembangunan Indonesia jangka pendek, dan belum ada yang mau menawarkan gagasan blue print agar dapat digunakan untuk pembangunan Indonesia yang berkelanjutan. Berpegangan hal itu, masyarakat bisa menilai kualitas tiap-tiap capres yang mengusung program konkret demi kemaslahatan rakyat, dan yang cuma sekadar obral program semata.

Maksudnya adalah capres tak sekadar menggembar-gemborkan visi misi yang bersifat janji menyenangkan ketika didengar rakyat. Karena yang penting bukan itu, melainkan lebih pada tujuan capres dalam merancang awal pembangunan Indonesia menuju kehidupan lebih baik, yang tentu saja hal itu tak dapat dijalankan dalam waktu satu periode (5 tahun) jabatan presiden. Sehingga hasil pembangunan lima tahun dapat diteruskan presiden selanjutnya atau bersifat jangka panjang.

Gampangnya, capres bersangkutan akan rela berkorban menyusun fondasi programnya di masa sekarang yang ditujukan untuk generasi selanjutnya. Sehingga capres yang berkuasa tak melulu mengejar ambisi pribadi, namun juga melapangkan jalan bagi penerusnya untuk membawa bangsa ini menuju peradaban baru.

Mungkin banyak masyarakat menyangsikan hal itu terjadi mengingat hal itu mungkin terlihat wajar sebab tak mungkin capres satu ‘berbaik hati’ menyediakan master plan untuk digunakan rival politiknya. Namun, dari aspek itu masyarakat bisa menilai dan membedakan capres yang mengusung program konkret atau program asal-asalan. Mengingat program konkret idealnya mampu menyentuh banyak aspek yang mudah dilaksanakan dan bersifat visioner. Sehingga bukan asal program radikal atau perubahan yang tanpa konsep matang untuk dapat dijalankan.

Seperti sekarang, yang menjadi isu paling hangat adalah masalah perekonomian yang menyangkut harkat hidup rakyat Indonesia. Di mana tiap-tiap capres memiliki target pencapaian pertumbuhan ekonomi berupa pengentasan kemiskinan, akses pendidikan, dan pembayaran utang yang ditawarkan berbeda-beda. Sehingga perlu untuk dijelaskan secara lebih jauh dan mendetail disertai gambaran dampak positif dan negatif yang bakal timbul jika menggunakan sistem tertentu.

Dari situ saja sebenarnya kita bisa menilai mana program yang ditawarkan secara konkret. Karena program konkret itu bukan hanya dalam angan-angan, tetapi sudah dalam tahapan dapat dijalankan sehingga harus memenuhi aspek realistis.

Maka itu sudah semestinya, di masa kampanye seperti sekarang masyarakat wajib mencatat setiap omongan yang keluar dari mulut para capres. Itu penting agar ketika sudah memimpin negeri ini bisa ditagih sekaligus diingatkan. Mengingat jika masih dalam bentuk program secara general, itu sama saja dengan pembodohan publik sebab ketika targetnya nanti tak tercapai maka akan banyak alasan yang keluar dari calon pemimpin bangsa.

Erik Purnama Putra
Aktivis Pers UMM

2 Tanggapan to “Pilih Capres yang Visioner”

  1. maka tidak salah istilah “we pay your vision”….

  2. Setuju Gan..

    tapi klo ada capres yang ga bs nepatin janjinya di taun 2004 gmn tuh gan,,??
    tapi klo iklan kayanya dia yang paling ga banyak janji aj,, :p

    http://celotehanakbangsa.wordpress.com/2009/07/04/inilah-yang-membuat-bangsa-indonesia-tidak-maju-maju/

    http://celotehanakbangsa.wordpress.com/2009/07/04/lagi-dan-lagi-iklan-mega-pro-ditolak-video/

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: