Krisis Global dan Mahalnya Harga Semen

Kamis, 9 Juli 2009 (Jurnal Nasional)

KRISIS ekonomi global yang masih belum pulih benar efeknya masih dirasakan negara Indonesia, khususnya dalam bidang ekspansi pasar ekspor yang makin lama nilai yang dicapai tambah seret. Hal itu terkait pasar di luar negeri yang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi yang berdampak menurunnya tingkat pembangunan proyek properti maupun gedung pencakar langit.

Menyikapi kondisi itu, pemerintah telah berupaya sigap dengan mengeluarkan kebijakan penguatan pasar domestik melalui program mencintai produk dalam negeri. Di samping itu, juga disediakan alokasi dana stimulus untuk mempercepat pembangunan berbagai sarana infrastruktur dalam negeri guna meminimalisir efek buruk resesi global. Tak hanya itu, pemerintah menciptakan iklim bagus bagi pihak swasta untuk melakukan investasinya di Indonesia.

Semua langkah progresif yang ditempuh pemerintah tersebut setidaknya membuahkan hasil, yakni perekonomian Indonesia diramalkan masih bisa tumbuh 4 persen lebih, di saat sebagian besar ekonomi negara lainnya mengalami defisit. Sehingga upaya yang sudah dilakukan pemerintah itu dapat dikatakan cukup berhasil menggerakkan roda ekonomi pengusaha dan rakyat tetap jalan.

Sayangnya, di saat pemerintah gencar mengampanyekan semua program di atas, muncul kabar tak sedap dari BUMN semen yang menjual produknya dengan harga mahal. Padahal semen merupakan salah satu bahan pokok pembangunan yang mempengaruhi 15 persen total sebuah proyek infrastruktur maupun sarana umum lainnya yang berguna untuk memajukan perekonomian negara sebab ditujukan agar dapat dinikmati rakyat. Sehingga dengan mahalnya harga jual semen di dalam negeri sama saja telah menjadi salah satu penghambat kebijakan pemerintah yang ingin memacu pertumbuhan ekonomi negara.

Jika dilihat data di lapangan, harga semen rata-rata saat ini USD 91 per ton atau sekitar Rp 924.900. Dengan harga segitu, semen di Indonesia lebih mahal daripada Malaysia, Tiongkok, Pakistan, India. Bahkan harga di Spanyol, Amerika Serikat dan Perancis lebih rendah disbanding Indonesia. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, seperti diungkap Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) harga semen Indonesia yang diekspor beberapa produsen justru harganya lebih murah daripada pasar domestik. Berangkat dari itu, KPPU dan asosiasi pengusaha menuding telah terjadi kartel sebab sangat tidak logis harga semen membumbung tinggi hingga membuat banyak investor harus mengeluarkan dana lebih untuk menyelesaikan proyeknya.

Alhasil, pembangunan menjadi terkendala dan tak lancar sebab kalangan swasta merasa terbebani dengan harga semen yang tak wajar. Akibatnya dalam skala nasional, percepatan pembangunan ekonomi yang dicangkan pemerintah juga ikut tersendat. Padahal jika pembangunan lancar pasti secara beriringan akan diikuti pembukaan lapangan kerja baru. Namun sayang, akibat tindakan segelintir pimpinan pabrik semen yang menetapkan harga jual mahal, ekonomi Indonesia mengalami hambatan dan rakyat yang paling terkena imbasnya. Karena bila harga semen murah, pertumbuhan ekonomi Indonesia pasti lebih tinggi dari 4 persen dan goncangan krisis global tak terlalu dirasakan Indonesia.

Untuk itu, KPPU harus menuntaskan kasus pelanggaran itu. Jika ditemukan pelanggaran, pemegang kebijakan dari jajaran direksi produsen semen harus dihukum sesuai prosedur berlaku. Dan untuk Menteri BUMN Sofyan Djalil, jangan sampai segan untuk mencopotnya.

Erik Purnama Putra
Akademikus UMM
Gedung SC Lt.1 Bestari Kampus III UMM, Tlogomas No. 246 Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: