Hasil Pilpres Cerminan Pilihan Rakyat

Senin, 3 Agustus 2009 (Surabaya Pagi)

Pemilihan presiden (pilpres) secara langsung sudah dilangsungkan dan masyarakat berbondong-bondong dating untuk menyalurkan hak suaranya. Meskipun hasil penghitungan suara secara manual yang dilaksanakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum selesai, tetapi dari rilisan quick count semua lembaga survei menyebutkan bahwa pasangan nomor urut dua menjadi pemenang dengan meraih suara di atas 50 persen. Kondisi itu jelas merepresentasikan keinginan rakyat yang menginginkan pemimpin Indonesia tetap dari pihak incumbent, yakni Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.

Anehnya, di saat bersamaan pihak tim sukses lawan masih meributkan hasil pemilu yang dinilai banyak terjadi masalah dan kecurangan, terutama dalam kasus Daftar Pemilih Tetap (DPT). Hal itu jelas tidak tepat untuk mempertanyakan lagi hasil pemilu mengingat saat hari penyontrengan dilaksanaan, kasus masyarakat yang tak terdaftar dalam DPT sudah diatasi dengan metode menggunakan KTP sebagai syarat untuk dapat memilih. Sehingga tak ada lagi yang perlu diributkan sebab semua warga negara Indonesia memiliki akses untuk memilih. Jika pun tak bisa memilih, itu mungkin karena ingin golput dan itu sah-sah saja, bukannya tak dapat menyalurkan haknya.

Pasalnya, pihak opisisi masih saja belum mengakui dan menerima kenyataan bahwa pemenang pemilu adalah pasangan yang diusung koalisi Partai Demokrat (PD) bersama beberapa partai Islam lainnya. Sehingga jelas sikap masih mempertanyakan hasil penyelenggaraan kompetisi pilpres merupakan bentuk tidak dapat menerima kenyataan dan belum mampu berbesar hati mengakui kekalahan.

Walaupun KPU sebagai lembaga resmi penyelenggara pemilu masih perlu dikritisi kinerjanya, namun secara keseluruhan pilpres tetap berjalan baik dan diselenggarakan sesuai asas jujur dan adil. Karena itu, jika masih ada yang terus mempermasalahkan hasil pemilu, hal itu malah menunjukkan sebuah ketidakdewasaan berpolitik. Efeknya, masyarakat akan menilai pihak bersangkutan hanya mencari-cari kekurangan dan tak menghargai hasil pilihan rakyat Indonesia.

Ingat, demokrasi di Indonesia sudah berjalan baik dan hasil pilpres merupakan cerminan keinginan rakyat yang masih menganggap bahwa pasangan SBY-Boediono layak memimpin bangsa ini. Sehingga secara keseluruhan akumulasi suara pilpres menempatkan incumbent pada posisi pertama, mengungguli pasangan Megawati-Prabowo maupun JK-Wiranto.

Maka itu, sudah sewajarnya hasil pemilu dapat diterima dan tak perlu dipertanyakan lagi sebab pada kenyataannya rakyat menilai pemerintahan Presiden SBY masih bagus sehingga perlu diberi kepercayaan kedua. Pilihan rakyat harus dihormati dan tak perlu disangsikan kebenarannya. Lebih penting, saya menyarankan sebaiknya pihak yang kalah tak usah mencari celah untuk menggugat hasil pemilu, lebih bagus jika mau menerima hasil keinginan rakyat yang menempatkan pasangan SBY-Boedino di posisi pertama. Karena suara rakyat mencerminkan mayoritas masih menganggap bahwa pihak oposisi tidak lebih baik disbanding incumbent.

Erik Purnama Putra
Aktivis Pers Kampus Bestari UMM
Gedung SC Lt.1 Kampus III UMM, Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: