Hindari Tayangan Televisi Tak Bermanfaat

Senin, 3 Agustus 2009 (Jurnal Nasional)

Indonesia dijuluki sebagai surga sinetron. Tak salah jika karakter masyarakat Indonesia mendayu-dayu dan mudah terhanyut dalam situasi emosional seperti yang ditunjukkan artis di televisi. Akibatnya, budaya masyarakat Indonesia sangat permisif dan terlihat terlalu mudah merasa kasihan dengan orang lain, bahkan kepada koruptor pun kadang masyarakat tak tega melihat mereka di penjara setelah kamera televisi menyorot raut muka koruptor yang kelihatan menandakan penyesalan.

Boleh saja analisis saya dianggap terlalu prematur dan menggenalisir, tetapi faktanya seperti itu. Lihat saja, tak sedikit masyarakat sampai terbawa emosi melihat akting artis dalam menjalankan perannya di sinetron. Bahkan dalam tayangan reality show, tak sedikit pula penonton sampai ikut menahan marah atau jengkel mengikuti alur cerita yang disetting sedemikian rupa oleh produser yang membuat antarpemain saling bertentangan hingga kadang sampai berkelahi.

Tetapi menggelikannya, penonton antara sadar atau tidak terus saja mengikuti perkembangan acara televisi dan tak mau barang satu episode pun ketinggalan tak menonton. Hal itu semakin membuat banyak masyarakat lupa daratan dan terkenang-kenang acara televisi yang dilihatnya tersebut, baik sinetron, reality show, maupun telenovela, yang semuanya tak jauh dari hiburan yang tak mendidik.

Akibatnya, saat ini banyak terjadi perubahan dalam diri masyarakat yang mudah sekali berubah penilaian terhadap orang, yang penilainnya kadang hanya berdasar pada apa yang dilihat. Misalnya, koruptor yang jelas-jelas menggelapkan uang rakyat yang tertangkap, malah dikasihani dengan alasan kasihan atau tidak tega melihat orang itu di penjara. Gawatnya lagi, anak muda yang sudah terlanjur menjadi penggemar berat acara televisi banyak yang mempraktikkan tingkah laku sang idola atau adegan cerita dalam televisi, mulai percintaan, gaya hidup mewah, hingga memaki-maki orang lain. Yang kesemuanya tak ada sisi positifnya bagi diri sendiri maupun orang lain. Namun fenomena itu sudah menggejala dan sulit dipisahkan dari masyarakat Indonesia.

Dari sekian banyak acara yang ditampilkan televisi, sinetron mendapatkan perhatian paling banyak dari pemirsa, dan itu dapat dibuktikan dengan rating tertinggi yang selalu diraih tayangan sinetron khususnya percintaan. Bukti lainnya adalah gencarnya sinetron yang ditayangkan mulai pagi ketika orang akan beraktivitas hingga malam saat orang akan beristirahan, yang ditayangkan terus-menerus tanpa jeda.

Tidak berlebihan kondisi itu terjadi sebab sebagian besar stasiun televisi menayangkan sinetron yang kebanyakan ceritanya tak dapat dilogikan dan jauh dari realita di masyarakat. Kondisi itu merupakan cerminan tayangan tidak mendidik bagi masyarakat Indonesia yang kebanyakan pendidikannya masih rendah sehingga gampang menerima sugesti dari sinetron tanpa mencerna terlebih dulu kebenarannya.

Maka itu, saya khawatir jika sinetron dan semacamnya tidak dibatasi akan memberikan dampak negatif bagi masyarakat, yang pikirannya cuma diisi hiburantak mendidikan sebab melulu melihat acara sampah. Karena itu, saya sarankan mulai sekarang agar masyarakat peduli dan sadar bahwa tayangan seperti itu semua tak ada gunanya dan lebih baik mematikan televisi daripada terus dibohongi acara hiburan yang tak bermanfaat.

Erik Purnama Putra
Pelajar Psikologi UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: