PAUD, Sarana Mencetak Generasi Emas

Jumat, 31 Juli 2009 (Jurnal Nasional)

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia masih belum banyak mendapatkan perhatian. Berkat informasi yang kurang gencar tersebut keberadaan PAUD menjadi tidak familiar di masyarakat.Karena itu jarang sekali ditemukan orangtua yang peduli untuk memberikan PAUD kepada anaknya sebelum menginjak pendidikan sekolah dasar (SD).

Di negeri ini, banyak orangtua yang masih belum paham akan pentinganya pendidikan bagi anak ketika masih kecil (balita). Padahal kondisi itu tak bisa diremehkan. Mengingat pendidikan semasa di usia dini akan berpengaruh terhadap perkembangan anak. Kita tentu mengenal istilah golden age (masa emas), artinya pada rentang umur di bawah lima tahun anak perlu mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan karakternya. Pendidikan yang bukan hanya mengedepankan aspek kognitif (daya pikir) semata, melainkan psikomotor (berkaitan hasil karya) dan afektif (respon, sikap, dan minat) yang selama ini terabaikan.

Pasalnya, pendidikan anak yang berkembang saat ini cuma berkutat pada pembelajaran kognitif. Dan hasilnya ketika menginjak dewasa mereka tak bisa menjadi pribadi sukses dan condong berorientasi pada satu bidang akademik saja. Fakta itu tentu sudah menggejala dan banyak terjadi pada generasi muda, baik siswa maupun mahasiswa yang bangga dengan nilai tinggi, tetapi kurang mampu mengembangkan skill lain yang sebenarnya lebih dibutuhkan sebagai modal mengarungi kompetisi belajar atau kehidupan.

Karenanya sebelum kesalahan terjadi lebih jauh, sudah sepatutnya pihak sekolah dan pengawas pendidikan mengupayakan pembentukan satuan kurikulum yang mampu mewadahai segala aspek kemampuan anak didik. Itu penting agar perkembangan anak PAUD bisa lebih maksimal dan merata di semua aspek pendidikan. Padahal tujuan pendidikan yang mulai bukan seperti itu, melainkan harus memenuhi banyak aspek seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara.

Untuk itu, pentinganya setiap orangtua menyekolahkan anaknya sebelum masuk sekolah formal dengan berbagai keuntungan psoitif yang bakal didapat. Menyiapkan mental sebelum menempuh pendidikan di SD sangat penting dan tak boleh ditinggalkan begitu saja. Alangkah baiknya jika orangtua turut memperhatikan pendidikan anak di PAUD supaya mampu lebih siap ketika menghadapi pendidikan di SD.

Karena kesuksesan program PAUD bukan diukur dari banyaknya siswa yang mampu menyelesaikan soal tes akademik, melainkan semua kompetensi berkaitan dengan kemampuan daya kritis, rasa sosial, dan kasih sayang terhadap teman-temannya. Karena apalah artinya berhasil di bidang akademik namun dalam perkembangannya si anak tak mempunya rasa kepekaan sosial dan individualis dalam menjalani kehidupannya. Sehingga selepas dari PAUD, setidaknya ketika memasuki gerbang sekolah dapat memiliki kemampuan lebih.

Berpatokan itu, anak kecil adalah calon generasi penerus bangsa yang akan menggantikan generasi sekarang. Tentu dengan memberikannya pendidikan cukup dan sesuai dengan karakteristiknya akan mampu membuatnya menjadi pribadi yang berkembang benar dan menjadi generasi yang sehat pikirannya.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang
Gedung SC Bestari Kampus III UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: