Permasalahan Sampah di Sekitar Kita

Jumat, 7 Agustus 2009 (Surabaya Post)
Tatanan kehidupan manusia telah dipengaruhi aspek materialisme global, yang membuat penduduk bumi terperangkap dalam gaya hidup kapitalisme. Salah satu ciri gaya hidup kapitalis yang dijalankan masyarakat adalah belanja di mal maupun supermarket dengan menenteng banyak belanjaan dalam tas plastik.

Berlebihan kah saya menganggap bahwa perilaku masyarakat itu sebagai wujud menyebarnya gaya hidup kapitalis? Pada kenyataannya benar seperti itu. Kehidupan modern telah membawa konsekuensi tinggi terhadap ancaman bagi lingkungan. Gegap gempita modernisasi yang selalu didengungan bakal membawa kemajuan berarti bagi kehidupan masyarakat ternyata membawa dampak berat bagi tercemarnya lingkungan.

Liat saja tumpukan sampah plastik yang mudah ditemui di setiap pojok penampungan sampah. Di mana, tas plastik atau orang Jawa biasa menyebutnya kresek begitu terongok di setiap tumpukan sampah yang bejibun. Padahal, jika dibiarkan begitu saja, barang-barang bekas pakai itu bakal menjadi barang tidak berguna. Dan hanya semakin menambah jumlah sampah yang sudah menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Karena itu, sudah seharusnya masyarakat dan pemerintah daerah (pemda) untuk turun tangan menyikapi keadaan tersebut. Pasalnya, jika dibiarkan, akumulasi sampah dapat menjadi bom waktu yang bisa membahayakan kehidupan manusia. Boleh jadi masalah sampah memang belum menjadi fokus utama perbincangan pemimpin bangsa-bangsa di dunia.

Padahal ancaman sampah begitu nyata dan siap menerkam manusia setiap saat jika dibiarkan begitu saja. Sampah plastik misalnya, jika dibiarkan terus tanpa pernah diolah akan merusak struktur tanah, karena tidak bisa terurai tanah. Repotnya, masyarakat sangat gemar menggunakan plastik sebagai tempat membawa barang belanjaan.

Sayangnya, seperti kebiasaan masyarakat kita, jika sudah di rumah tas kresek itu langsung dibuang karena dianggap sebagai benda tidak berharga. Kurangnya kesadaran masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan tumpukan plastik membuat banyak orang seenaknya sendiri dalam menggunakan tas kresek yang baru sekali dipakainya.

Yang lebih parah lagi, selaku pihak yang berwenang mengurusi sampah, pemda hanya mengelola sampah dengan gaya feodal. Maksudnya, sampah yang kelihatan di permukaan yang diangkut dan dibersihkan. Urusan mau diapakan atau dibuang ke mana bukan jadi soal, yang penting sampah yang terangkut dan pemda sudah melaksanakan tugasnya. Padahal, di kalangan pecinta dan pengkaji lingkungan, manajemen pengelolaan sampah yang baik akan menghasilkan sebuah sampah bernilai tinggi yang bisa menghasilkan rupiah.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa UMM
erikeyikumm@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: