SBY-JK Berikan Teladan Baik

Jumat, 17 Juli 2009 (Surabaya Pagi)

BERDASARKAN hasil quick count (penghitungan cepat) semua lembaga survei nasional yang kredibel, didapat hasil bahwa pemilihan presiden (pilpres) 2009 menyatakan ’juara bertahan’ atau pasangan nomor 2 menempati perolehan suara terbesar di kisaran 60 persen. Pasangan SBY-Boediono akan menang mutlak jika hasil pengitungan manual KPU tidak jauh menyimpang. Berdasarkan keadaan itu saya menilai capres-cawapres yang diusung Partai Demokrat berserta koalisi besar dari partai berbasis Islam itu akan unggul satu putaran mengingat hasil quick count sudah teruji benar.

Menyadari hal itu, rival SBY-Boediono, yakni capres Jusuf Kalla (JK) yang dikenal lugas dan identik dengan sikap spontan tak menunggu waktu lama untuk memberikan selamat kepada SBY. Meskipun dalam hal ini dia ’beratribut’ sebagai wapres dan bukan capres penantang incumbent, tetapi saya menilai bahwa langkah JK yang menelpon duluan dalam peristiwa saling komunikasi Presiden dan Wapres RI periode 2004-2009, merupakan langkah bagus yang patut diapresiasi besar.

Kondisi itu jelas menjadi pelajaran penting bagi masyarakat bahwa meskipun kompetisi memperebutkan kursi Istana Negara berjalan panas dan saling kritik semasa kampanye pilpres, tetapi hubungan antara RI 1 dan RI 2 tetap tak boleh retak. Sehingga jelas mereka berdua mengesampingkan ego pribadi dan menempatkan kepentingan bangsa di atas segalanya.

Belajar dari peristiwa sejarah elite politik yang mengedepankan jiwa ksatria tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa persaingan hendaknya tak sampai membuat hubungan silaturahmi sampai retak. Mengingat selama ini masyarakat dihadapkan pada realita bahwa antara SBY dan Megawati yang merupakan saingan pada pilpres 2004, hingga sekarang masih terlihat kurang akur, walaupun sempat bersalaman pada acara pengambilan nomor urut di KPU maupun debat capres-cawapres tempo lalu.

Tetapi kondisi itu ternyata tak diikuti SBY dan JK, yang keduanya menyikapi kompetisi secara wajar dan tak berlebihan. Terutama JK yang perlu diacungi dua jempol sebab tak sungkan mengakui kekalahannya dengan memberikan selamat kepada SBY sebagai pemenang. Padahal hubungan keduanya sebelumnya sempat memanas dan bahkan saling lempar kritik tajam. Namun semuanya dikesampingkan dan keduanya lebih mengedepankan sikap kenegarawanan agar mampu dicontoh rakyat Indonesia.

Dari peristiwa yang bakal dicatat sejarah bangsa Indonesia itu saya menilai antara SBY-JK memberikan contoh baik yang dapat dijadikan patokan elitikus supaya dalam kompetisi siapapun yang menang maupun kalah tak usah menimbulkan dendam, tetapi disikapi wajar saja tanpa perlu sampai diributkan secara berlebihan.

Kita tentu masih menunggu sikap Megawati yang hingga sekarang tetap bersikeras tak mau memperbaiki hubungannya dengan SBY. Padahal keadaan itu tak ada untungnya bagi keduanya dan juga perjalanan demokrasi Tanah Air. Karena hanya gara-gara kompetisi memperebutkan kekuasaan, jalinan silaturahmi sampai dikorbankan. Untuk itu, ke depannya masyarakat perlu berharap dan berdoa agar dinamika politik ke arah lebih bagus supaya tak hanya SBY dan JK yang berbaikan. Tetapi ketiga calon wajib menunjukkan kebesaran jiwa dan menerima kenyataan, sehingga antara SBY, JK, dan Mega bisa kembali akur dan duduk satu meja secara akrab.

Erik Purnama Putra
Pelajar Psikologi UMM
0856 4977 3675

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: