Tuntutan Pemilu Ulang Mengada-ngada

Rabu, 5 Agustus 2009 (Jurnal Nasional)

SETELAH Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan hasil pengitungan manual pemilihan presiden (pilpres) yang menempatkan pasangan SBY-Boediono sebagai pemenang dengan perolehan suara 60 persen, idealnya seluruh pasangan capres yang kalah mengakui hasil pilpres tersebut. Namun kenyataannya, Megawati-Prabowo dan Jusuf Kalla-Wiranto seperti menutup mata dengan fakta yang ada. Buktinya adalah tidak member selamat kepada SBY-Boediono. Malah keduanya pascapenetapan pengumuman pemenang pilpres malah melaporkan berbagai temuan yang diindikasikan sebagai bentuk kecurangan yang menguntungkan pasangan SBY-Boediono ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Memang tak ada yang salah dengan tindakan dua kubu melaporkan berbagai gugatan terkait pelanggaran pilpres ke MK. Tetapi yang jadi persoalan adalah berbagai tuntutan yang disuarakan yang menginginkan bahwa pemilu 2009 yang sebenarnya berjalan demokratis dituntut untuk dibatalkan secara hasil sebab dinyatakan cacat hukum. Dan kubu yang paling keras menyuarakan penolakan hasil pilpres adalah dari Mega-Prabowo.

Sebagai masyarakat sungguh ironis sekali sikap yang ditunjukkan pasangan Mega-Prabowo yang tak mengakui hasil pilpres dengan menuntut diselenggarakan ulang sebab dinilai dan merugikan dirinya. Pasalnya, dari berbagai temuan yang dilaporkan tim suksesnya dari berbagai daerah, terutama di 25 provinsi didapat bahwa banyak sekali daftar pemilih tetap (DPT) ganda yang disinyalir merupakan pendukung SBY-Boediono. Sementara di daerah tertentu yan gmerupakan basis pendukung Megawati-Prabowo, ternyata banyak warga yang tak terdata. Sehingga banyak diberbagai daerah suara Megawati-Prabowo berkurang akibat masalah tersebut, dan di saat bersamaan capaian suara SBY-Boediono meningkat.

Berpatokan itu saya menilai langkah tim pasangan Megawati-Prabowo yang mengajukan tuntutan ke MK dengan harapan agar terjadi pengulangan pemilu di 25 provinsi yang dituduhkan banyak kecurangan hanya sebuah bentuk tuduhan mengada-ngada. Hal itu sebagai bentuk tak mampunya mereka mengakui kekalahan yang sudah terjadi.

Sebagai politikus yang berjiwa kenegarawanan sudah semestinya kubu Megawati-Prabowo tak terlalu mengejar ambisi pribadi dengan mengatasnamakan kepentingan bangsa yang menyesatkan. Karena masyarakat sudah bosan dengan tingkah laku elite yang bisanya menghalalkan segala cara demi memuluskan agar dapat keuntungan pribadi.

Sebuah bentuk rasionalisasi menggelikan yang hanya dibuat untuk menguntungkan kubu Megawati-Prabowo. Pasalnya, merupakan keanehan jika mayoritas masyarakat Indonesia sudah menentukan pilihannya kepada SBY-Boediono, dan diperkuat hasil KPU yang merupakan ketetapan hukum, namun oleh Megawati-Prabowo masih diperkarakan hingga menginginkan diselenggarakan penyontrengan ulang.

Apalagi seperti yang dijelaskan mereka bahwa alasan pengaduan ke MK itu merupakan bentuk agar demokrasi di Indonesia dapat berkualitas. Mengingat tujuan agar diselenggarakan pemilu ulang hanya sebuah bentuk pemenuhan ambisi pribadi. Sehingga jika disuarakan bahwa itu untuk kebaikan bangsa Indonesia maka semuanya tak lebih sekedar omong kosong belaka.

Erik P. Putra
Akademikus Bestari UMM
Gedung SC Lt.1 Bestari Kampus III Unmuh Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: