Antara Mbah Surip dan Koruptor

Rabu, 12 Agustus 2009 (Jurnal Nasional)

Kematian Mbah Surip mengagetkan publik di seluruh Indonesia. Tak ada yang menyangkan sosok sederhana itu begitu cepat dipanggil oleh Yang Maha Pencipta. Memang dari segi usia. Mbah Surip sudah cukup tua dengan berumur 60 tahun. Tetapi di sisi lain, penggemar berat kopi itu baru merasakan 3 bulan kepopuleran dalam dunia bermusik yang melambungkan namanya.

Lagunya yang berjudul Tak Gendong dan Bangun Tidur menjadi hits diputar di radio maupun stasiun televisi. Bahkan lagu yang liriknya simpel dan enak didengar itu menjadi top favorit yang dipilih masyarakat untuk dijadikan ring back tone, yang konon menurut perhitungan hasil yang bisa diraih Mbah Surip mencapai 80 milyar lebih.

Tetapi Mbah Surip tetaplah orang bersahaja yang tak gampang lupa diri. Meski menjadi orang kaya mendadak dan meraih segala materi duniawi, dia tetap tak berubah. Bahkan, dia berencana untuk mendirikan Bank Artis setelah menerima uang royalti hasil penjualan lagunya. Yang lucu lagi, ketika ditanya untuk apa uang sebanyak itu, Mbah Surip cuma menjawab akan digunakan untuk membeli kopi dan gula masing-masing 1 milyar. Sebuah jawaban luar biasa yang muncul dari sosok yang populer mengucapkan I Love U Full.

Yang menjadi catatan di sini adalah contoh keteladanan yang ditunjukkan Mbah Surip agar manusia tak lupa kacang akan kulitnya. Walaupun sudah kaya dan hidupnya berubah drastis setelah memiliki banyak uang, tetapi pria yang identik berpakaian model reggae itu tak mau membelanjakan uangnya demi kepentingan yang tak perlu, malah akan digunakan untuk membalas jasa bagi orang yang dulu sering dimintanya tolong ketika sedang susah. Tetapi dari aktivitas yang dijalaninya itu Mbah Surip tetap hidup dalam bahagia.

Hal berbeda ditunjukkan koruptor. Pencuri uang rakyat itu ketika sudah mendapatkan uang banyak hasil dari menggelapkan dana rakyat, malah digunakan untuk foya-foya dan uangnya dinikmati untuk memenuhi kepuasannya. Banyak contoh yang terjadi yang membuktikan koruptor mengalami perubahan hidup dan lupa daratan setelah menjadi orang kaya baru, meski itu dari cara yang tak benar.

Koruptor rela menghalalkan cara supaya dapat mengeruk uang sebanyak-banyaknya untuk digunakan kepentingan diri maupun kelompoknya, serta menjadi pribadi yang semkain individualis tak mau memikirkan orang lain di sekitarnya, sehingga membuatnya hidup dalam kegelisahan. Apalagi ketika aparat penegak hukum sudah mulai menemukan bukti korupsi yang dilakukan koruptor bersangkutan, yang akan membuat hidupnya serba tak tentram.

Di situlah letak perbedaan antara Mbah Surip dan Koruptor dalam memandang hidup yang saling bertolakbelakang. Meski sama-sama punya uang banyak, tetapi cara yang ditempuh berbeda dan menyikapi materi secara bereda pula. Yang satu tak mengagungkan uang dan malah akan digunakan untuk membantu kepentingan prang lain sehingga hidupnya damai. Sementara satunya lagi mengempulkan uang demi memuaskan nafus pribadi dan akhirnya dalam kecemasan padahal dikelilingi banyak harta.

Erik Purnama Putra
Pegiat Pers Kampus Bestari UMM

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: