Masyarakat Mengadopsi Budaya Barat

Senin, 10 Agustus 2009 (Jurnal Nasional)

SALAH satu tantangan berat yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah serbuan budaya barat yang sangat massif menyerang adat ketimuran masyarakat Indonesia. Padahal kondisi itu berakibat pada menurunnya nilai-nilai yang tertanam pada masyarakat, yang berimplikasi pada pudarnya semangat menjaga identitas bangsa. Hal itu tercermin pada semakin menipisnya nilai-nilai sosial masyarakat sebagai akibat gencarnya serbuan budaya barat.

Fenomena munculnya gaya berbicara yang serba ceplas-ceplos dan hilangnya unggah-ungguh dalam tata karma di kehidupan masyarakat adalah salah satu cerminan bahwa generasi muda sudah mulai tertular arus budaya barat. Pada bagian lainnya, realita generasi muda yang gemar mengadopsi budaya luar dengan alasan lebih trendi dan percaya diri membawa akibat pada hilangnya jati diri masyarakat ketimuran yang memegang adat sopan dalam artian di segala bidang.

Lihat saja, mulai model pakaian yang serba minim, yang membuka aurat bagi wanita, dan model pierching (tindik), tato, dan celana jins model ketat yang lagi ngetrend semuanya mudah dijumpai di masyarakat. Kondisi itu adalah salah satu ciri pemuda dan mayoritas masyarakat hingga ke pedesaan yang secara tak langsung menggunakan atribut barat dalam kesehariannya. Indikator itu masih ditambah life style pemuda yang gemar mabuk-mabukan ke kafe atau club, dan memamadat di tempat dugem, yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran agama.

Tetapi, semua itu gejala itu sekarang ini hampir ke semua orang hingga pelosok desa. Hal itu mengacu pada gaya hidup masyarakat Indonesia yang sudah terkontaminasi budaya barat akibat secata tak langsung menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Padahal peradaban timur sangat bertentangan dengan barat, tetapi akibat arus informasi yang sedemikian cepatanya dari barat yang terus diiklankan melalui media massa membuat mau tak mau masyarakat Indonesia turut terpengaruh untuk mengikuti gaya hidup orang barat.

Akhirnya, warga Indonesia banyak yang mengikuti arus menerapkan keseharian konsumtif dengan berbelanja pakaian bermerk yang serba mahal, meskipun sebenarnya tidak terlalu memerlukan pakaian itu. Asalkan bisa senang dan tak dikatakan ketinggalan zaman maka membeli barang-barang mahal tidak jadi persoalan. Akibatnya saat ini hedonisme menggejala dan marak dipraktikkan.

Kaum kaya pergi ke mal dan makan di restoran, sedangkan warga desa bergaya seperti orang kota dalam hal berpakaian meskipun kadang jika dilihat tidak pantas dan terkesan memaksakan diri. Semua itu jelas menjadi pegangan bagi saya untuk menilai bahwa bangsa Indonesia sedang sakit sebab masyarakatnya meninggalkan budaya timur dengan beralih kebarat-baratan yang tak sesuai dalam berbagai bidang kehidupan.

Maka itu, diperlukan sebuah upaya penanganan agar fenomena itu tak semakin menggejala dan merusak tatanan norma aturan yang selama ini sudah dijadikan acuan masyarakat. Sehingga saya berharap kepada pemerintah dan pihak terkait supaya memberikan pendidikan kepada masyarakat agar sadar, karena sekarang ini Indonesia sudah dijajah secara tak langsung oleh negara barat melalui budaya gaya hidup.

Erik Purnama Putra
Aktivis Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: