Tantangan Nyata Bangsa Indonesia

Senin, 24 Agustus 2009 (Surabaya Pagi)

PADA tanggal 17 Agusutus 2009, bangsa Indonesia tepat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-64. Meskipun belum bisa dikatakan umur negara ini sudah cukup tua, tetapi tantangan yang dihadapi bukannya menurun, melainkan bertambah banyak dan kompleks. Memang penjajahan secara fisik sudah usai setelah pejuang berhasil mengusir Belanda dan Jepang dari bumi pertiwi. Namun pada era modern seperti sekarang, penjajahan model baru sedang menggejala dan dialami banyak masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah masalah pengadopsian budaya barat yang banyak dianggap masyarakat sebagai budaya unggul sehingga harus melekat menjadi identitas yang perlu dipraktikkan dalam aktivitas sehari-hari.

Maka itu, tak heran kita akan mudah menjumpai budaya asing dengan serta merta diterima masyarakat, khususnya generasi muda tanpa terlebih dulu menilai apakah hal itu cocok atau tidak untuk diaplikasikan di Indonesia, yang notabene menganut budaya ketimuran. Keadaan yang tak baik bagi perjalanan bangsa ini ke depannya mesti mendapatkan perhatian serius dari pemerintah maupun elemen masyarakat yang peduli terhadap merebaknya budaya negatif yang malah dipuja. Karena jika tidak maka nantinya kehidupan masyarakat dan bernegara tak akan bisa langgeng mengingat jika budaya asing yang membentuk perilaku segala kehidupan sudah berkembang dapat dipastikan perjalanan Indonesia bisa terhenti.

Misalnya, kita masih ingat ketika di sekolah dididik untuk selalu mengisi kemerdekaan meskipun secara de jure Indonesia sudah merdeka. Paling utama dalam mengisi kemerdekaan wajib diisi dengan melawan kebodohan dan kemiskinan yang merupakan satu lingkaran negatif yang membuat negara tak bisa berdiri secara tegak.

Namun ternyata kadang kita cuek dengan hal itu dan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah sebagai pihak yang bertanggungjawab. Sikap acuh dan bisanya menyalahkan pemerintah adalah watak yang bertolakbelakang dengan budaya asli leluhur yang mengajarkan warisan agar peduli terhadap sesama dan tak menggantungkan sesuatu pada pihak tertentu jika kita bisa turut berpartisipasi menyelesaikan sebuah masalah di sekitar kita.

Fenomena buruk lainnya adalah munculnya gejala nnjuran guru tak dianggap lagi oleh siswa. Karena televisi mampu merebut posisi guru sebagai pendidik kedua generasi muda setelah orangtua. Sehingga tak heran ketika mendapati banyak generasi muda lebih suka meniru penampilan artis yang dilihatnya di televisi daripada mendengar saran dari guru untuk tidak meniru perilaku artis yang memang kehidupannya berbeda dengan rakyat kecil. Dari situ sebenarnya muncul cerminan betapa kuatnya cengkeraman informasi yang mampu mengendalikan masyarakat untuk tak lagi mempedulikan nilai budaya timur yang mengagungkan kesopanan sebagai hasil imitasi dari melihat tayangan sinetron.

Di luar itu, masyarakat juga dihinggapi munculnya phobia kepada kebanggaan memakai produk dalam negeri dengan menganggap kualitasnya di bawah barang impor. Padahal pemerintah telah berupaya untuk kembali meluruskan rakyatnya agar mencintai barang buatan lokal daripada yang serba bermerk dengan kualitas produk sama, tetapi lebih murah. Sayangnya banyak orang sudah import minded sehingga lebih menyukai barang buatan luar negeri.

Berangkat dari itu saya menilai masyarakat Indonesia masih perlu berjuang meraih kembali esensi kemerdekaan sebab permasalahan yang terjadi di negeri ini sangat kompleks, Karena itu, mari kita bahu membahu antara pemerintah dengan elemen masyarakat yang peduli untuk membenahi berbagai masalah akut yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Itu supaya nasib bangsa ini bisa lebih baik dibanding sekarang.

Erik Purnama Putra
Aktivis Universitas Muhammadiyah Malang

Satu Tanggapan to “Tantangan Nyata Bangsa Indonesia”

  1. mungkin makin banyak orang meletakkan hatinya di atas uang….

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: