Archive for the Agama Category

Iklan Ramalan Televisi Menyesatkan

Posted in Agama on Juli 6, 2009 by erikpurnama

Rabu, 1 Juli 2009 (Jurnal Nasional)

SEKARANG ini, makin marak saja di setiap stasiun televisi yang menayangkan iklan berjenis ramalan nasib untuk melihat masa depan, peruntungan, jodoh, atau sejenisnya yang merupakan hasil jualan para paranormal yang menawarkan jasanya kepada masyarakat. Kondisi itu secara tidak langsung cukup menganggu saya yang merasa bahwa iklan tersebut tak lebih sekedar sampah yang bertujuan untuk membodohi masyarakat.

Pasalnya, hanya dengan bermodal kirim pesan singkat melalui handphone, seseorang dijanjikan akan diterawang oleh paranormal untuk dilihat tentang keadaan diri orang tersebut. Maka itu, ketika saya melihat tayangan televisi di malam hari untuk mencari hiburan, saya sangat jengkel jika iklan paranormal itu muncul dengan seringnya.

Memang saya menganggap pertama kali kemunculan iklan ramalan sebagai angin lalu. Namun setelah makin gencar penayangannya dengan beragam versi ramalan dari banyak paranormal saya saya menjadi geregetan dengan iklan itu. Di samping kurang tepat pemunculannya di era modern seperti sekarang ini. Iklan itu juga seperti merendahkan martabat manusia sebab seolah-olah takdir manusia bisa diramal.

Jika boleh disebut satu persatu, iklan ramalan menggunakan media SMS tentang jodoh, pekerjaan, dan nasib, adalah sebuah bentuk iklan yang menyesatkan. Semua itu karena pemirsa televisi yang ingin memanfaatkan model jasa itu harus mengirimkan SMS dengan tarif premium guna mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepada pengiklan, yang terdiri paranormal, mentalis, maupun kalangan spiritualis dengan berbagai atribut menyeramkan yang aneh-aneh.

Dalam Islam sendiri, hukum percaya dengan ramalan sangat dilarang sebab sama saja dengan perbuatan syirik. Karena jasa yang ditawarkan menggunakan metode hitungan mistis maupun memakai bantuan alat yang secara logika tidak bisa diterima. Padahal menyekutukan Allah merupakan dosa besar yang tak diampuni. Sehingga patut disesalkan jika banyak masyarakat yang mengambil jalan pintas dengan mengirimkan SMS agar mendapatkan pencerahan dari para peramal tersebut akan kondisinya.

Apalagi di zaman serba modern dan iptek berkembang pesat dengan diiringi tingkat pendidikan masyarakat yang semakin tinggi, sehingga sudah seharusnya tidak percaya dengan hal-hal yang berbau tak ilmiah. Namun sayang, karena lebbih memilih jalan pintas banya masyarakat yang percaya dengan jasa ramalan itu. Sayangnya, bukannya hilang, dari hari-ke hari iklan yang memuat berbagai ramalan dengan metode tertentu tersebut malah semakin gencar. Hal itu jelas menandakan bahwa pengguna jasa itu terus meningkat sehingga menarik minat pengiklan untuk menggencarkan penayangan iklan tentang kehebatan dirinya.

Untuk itu, saya menghimbau kepada televisi untuk tak lagi menayangkan iklan ramalan itu agar masyarakat tak dikibuli dengan berbagai hal yang bersifat pembodohan. Pihak televisi juga mesti selektif dalam menerima pemasangan iklan agar tak cuma mengejar keuntungan, melainkan juga hlebih mengutamakan iklan yang ada aspek edukasi dalam iklannya.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Waspadai Makanan Tak Halal

Posted in Agama on Mei 15, 2009 by erikpurnama

Citizen Journalism, Rabu, 29 April 2009 (Surabaya Post)

Baru-baru ini masyarakat di beberapa daerah Indonesia dibikin heboh adanya penemuan makanan abon dan dendeng babi yang beredar bebas di pasar tradisional Bandung dan Bogor. Menjadi geger karena masyarakat yang menjadi konsumen makanan tersebut ketika ingin membeli abon dan dendeng daging sapi, ternyata yang didapat malah berasa daging babi. Untungnya, konsumen yang merasa curiga ada yang tak beres dengan produk yang dibelinya melapor ke pihak berwajib. Sehingga dengan cepat polisi dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) berhasil menemukan pedagang yang menjual makanan haram itu. Selanjutnya setelah ditelusuri produsen yang memasok ke pedagang dapat berhasil ditemukan, yang lokasi produksinya berada di Kota Malang.

Di luar terbongkarnya kasus mengkhawatirkan itu, saya sangat menyesalkan kejadian beredarnya produk makanan tak halal bisa menyebar bebas tanpa adanya kontrol ketat dari BPOM. Pasalnya, ditemukannya makanan daging babi yang beredar di pasaran bukan kali pertama terjadi dan bisa disebut sudah berulang kali. Yang ironis, produk tersebut dibungkus secara menarik dan diberi embel-embel label halal yang membuat konsumen tertipu saat membeli. Sehingga berkaca peristiwa itu menjadi wajar ketika masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam mempertanyakan bagaimana kinerja pihak berwenang dalam mengawasi peredaran makanan tak layak konsumsi tersebut produk itu bisa beredar bebas hingga ke tangan konsumen.

Padahal dalam ajaran Islam, makanan apa pun yang mengandung babi jelas diharamkan oleh agama. Karena itu, dapat dikatakan umat muslim belum mendapatkan perlindungan memadai dari BPOM sebagai pihak berwenang dalam mengawasi persebaran produk makanan. Maka itu, menjadi wajar ketika masyarakat mengkritik kinerja BPOM yang baru bertindak ketika sudah ada korban konsumen yang jadi korban dengan mengonsumsi daging dan abon babi.

Saya sendiri sangat geram ketika produk makanan mengandung babi bisa dengan mudah ditemukan di toko pasar tradisional dan penjualnya tak menyadari produk yang dijualnya tak layak dikonsumsi. Pasalnya menjadi aneh jika setelah ada ribut-ribut BPOM baru turun tangan dan berencana menarik produk dari pasaran. Padahal langkah itu bukan menyelesaikan masalah, tetapi hanya meredam kemarahan masyarakat.

Yang harus diprioritaskan BPOM adalah menjerat produsen dengan aturan berlaku dan menindak tegas semua yang terlibat dalam produksi produk makanan mengandung daging babi dengan hukum pidana agar memberikan efek jera. Sehingga ketika di kemudian hari ada orang yang ingin melakukan perbuatan serupa akan takut dan berpikir dua kali. Bukannya seperti sebelumnya yang kurang tegas hingga membuat produk berbahan babi tetap beredar dan terus berulang kembali ditemukan masyarakat.

Sementara, masyarakat juga jangan terjebak dengan berbagai produk makanan yang dijual dipasaran apalagi yang harganya di bawah standar. Sikap waspada perlu dikembangkan agar konsumen tak mudah terjebak bujuk rayu pedagang yang menjual produk, yang kemasannya disamarkan agar laku. Jika masyarakat tak juga kritis dengan makanan yang dijual di pasaran, maka beredarnya makanan haram akan tetap terjadi lagi mengingat bila menggantungkan pada kinerja BPOM untuk mengawasi makanan juga masih belum baik. Sehingga jalan satu-satunya adalah berhati-hati setiap membeli makanan dan menelitinya terlebih dulu agar tak sampai dikonsumsi dan masuk tubuh.

Erik Purnama Putra

Pelajar Psikologi UMM

Usut Beredarnya Makanan Haram

Posted in Agama on Mei 15, 2009 by erikpurnama

Suara Konsumen, Sabtu, 4 April 2009 (Surabaya Post)

Baru-baru ini masyarakat di Kota Bogor dan Bandung digegerkan penemuan makanan abon dan dendeng daging babi hutan (celeng) yang dijual pedagang tradisional. Ternyata, setelah ditelusuri lebih jauh, makanan serupa juga beredar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, tak terkecuali di Malang.

Beredarnya makanan haram menandakan perlindungan terhadap warga muslim yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia sangat lemah. Buktinya, kasus yang terjadi bukan hanya terjadi sekali atau dua kali, tetapi sudah sering mencuat di masyarakat tanpa pernah ada proses hukum atas pelakunya.

Lebih ironis lagi dan menjadi perdebatan adalah bungkusan abon maupun dendeng yang ditemukan konsumen dari pedagang tertulis label daging sapi dan berlogo makanan halal demi menyamarkan agar tak terditeksi. Sehingga bisa dikatakan telah terjadi upaya penipuan sistematis agar masyarakat tertipu untuk mengonsumsinya.

Untuk itu, masyarakat wajib mengembangkan sikap waspada supaya tak salah dalam membeli jenis makanan tertentu yang ternyata termasuk makanan yang diharamkan agama. Pasalnya, kecerobohan konsumen kadang sering menjadi penyebab utama dalam pembelian barang makanan yang sebenarnya tak layak konsumsi. Karena tergiur embel-embel harga murah atau mendapat lebih banyak dari harga jual normal, banyak masyarakat tergiur membeli abon maupun dendeng. Dan tak adanya sikap kritis itu lah yang membuat masyarakat salah mengonsumsi makanan haram.

Berkaca dari itu, pemerintah harus mengupayakan perlindungan bagi umat Islam yang selama ini mengharamkan daging babi. Karena menurut Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Husna Zahir, terjadinya penemuan daging babi di pasaran akibatĀ  pemerintah daerah (pemda) yang bertugas sebagai pengawas peredaran makanan kurang menjalankan tugas secara rutin. Sehingga sering kecolongan dengan beredarnya makanan yang tak sesuai standarĀ  dan layak konsumsi masyarakat.

Jangan seperti kebijakan selama ini, di mana pemda hanya melakukan langkah reaktif setelah makanan beredar dan menarik barang yang ada di pedagang setelah menjadi polemik di masyarakat. Karena jika itu saja tak cukup dan malah menandakan penanganan masalah cuma sepotong dan tak komprehensip. Ada pun melakukan razia juga setali tiga uang. Sehingga yang diperlukan adalah pengawasan ketat supaya kelak tak terulang kembali dan masyarakat tak dirugikan lagi.

Di samping itu, pihak kepolisian juga harus mengusut tuntas kasus tersebut agar diketahui siapa produsen dan pengedar yang telah menipu masyarakat. Pelaku wajib dihukum berat atas perbuatannya yang telah membuat banyak kesalahan, seperti pemalsuan uji laboratorium oleh Badan POM dan pemasangan logo halal yang menjadi ranah MUI, serta memproduksi barang yang tak boleh diedarkan secara luas. Sehingga dengan melihat banyaknya unsur pelanggaran yang dilakukan, mala pelaku wajib dijerat dengan banyak pasal untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang demi mereguk keuntungan pribadi sampai mengorbankan umat Islam.

Karena itu, upaya menjebloskan ke penjara dan menghukum seberat-beratnya bisa jadi setidaknya akan menenangkan masyarakat. Dan pabrik yang menjadi tempat pembuatan makanan juga tak ditutup sebagaimana mestinya agar masyarakat tak resah.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi

Fatwa Haram Kurang Tepat

Posted in Agama on Januari 16, 2009 by erikpurnama

Suara Konsumen, Kamis, 15 Januari 2009

MUI akhir-akhir ini dinilai terlalu gampang mengeluarkan fatwa haram terkait peristiwa yang terjadi di masyarakat. Dan bagi banyak kalangan, tindakan itu kurang tepat. Pasalnya, sebagai institusi bernuansa religius, fatwa yang dikeluarkan MUI tidak ada hubungannya sama sekali dengan esensi kegiatan keagamaan masyarakat.

Buktinya, MUI berencana mengeluarkan fatwa haram menyangkut masalah fenomena maraknya golongan putih (golput) dalam menyikapi Pemilihan Umum (Pemilu) atau Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Fenomena golput itu semakin merebak ketika Gus Dur ikut menyerukan kepada rakyat yang tidak puas dengan pemerintahan agar tidak ikut memilih dalam pesta demokrasi.

Menyikapi kejadian itu, sudah sepantasnya jika MUI tidak ikut campur mengurusi masalah proses pemilihan langsung secara demokratis itu. Pasalnya, masalah golput adalah masalah politik dan berkaitan dengan urusan pribadi masing-masing. Karena hal itu juga menyangkut proses sarana menyampaikan pendapat sebagai salah satu bentuk wujud hak asasi seseorang dalam menyikapi Pemilu atau Pilkada. Sehingga jika urusan itu malah ditanggapi MUI dengan mengeluarkan fatwa haram. Jelas tidak nyambung dan sangat lucu jadinya.

Jika dulu MUI mengeluarkan fatwa haram terkait aliran agama yang menyimpang, hal itu masih bisa ditolerir dan cukup mendapat dukungan luas masyarakat Indonesia. Namun bila masalah orang yang memilih golput coba difatwakan haram, tentu sangat sulit diterima nalar.

Dari hasil pengamatan, ternyata munculnya diskursus fatwa haram bagi rakyat yang golput dan tidak mencoblos dalam pesta demokrasi di Indonesia karena dorongan beberapa politisi tertentu. Hal itu dapat dimaklumi. Pasalnya, banyak politikus yang takut tidak terpilih lagi duduk sebagai anggota dewan karena masyarakat sudah antipati dengan proses pemilihan kursi legislatif maupun eksekutif. Sehingga jika masyarakat banyak yang tidak alias ikut golput, maka politikus bersangkutan akan dirugikan.

Sudah bukan menjadi rahasia, dunia politik yang penuh intrik dan tidak membawa keuntungan apa pun bagi rakyat adalah faktor utama yang membuat rakyat enggan untuk mencoblos. Sehingga lebih memilih golput. Kondisi itu harusnya disadari MUI sebagai lembaga representasi agama Islam.

Karena masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih berada pada lingkaran kemiskinan membuat golongan strata bawah itu menjadi tidak percaya lagi dengan sepak terjang politikus. Sehingga berakibat masyarakat malas mengikuti pesta demokrasi dan sangat sedikit partisipasinya dalam pencoblosan. Di samping juga rakyat Indonesia sudah jenuh dan tidak percaya lagi dengan institusi demokrasi (partai beserta caleg, parlemen, dan pemerintah).

Karena itu, lembaga MUI jangan asal mengeluarkan fatwa haram sebelum memahami masalah secara substantif dan komprehensif. Jangan sampai setiap fatwa yang dikeluarkan MUI menjadi mubadzir dan sia-sia disebabkan tidak ada yang mematuhinya. Karena pada dasarnya fatwa itu kurang tepat dan tidak bisa mengikat.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM

Gedung SC Lt.1 Bestari Unmuh Malang

erikeyikumm@yahoo.co.id

Puasa dan Semangat Takut

Posted in Agama on September 20, 2008 by erikpurnama

Minggu 14 September 2008 (Malang Post)

Saat ini seluruh umat Islam sedang berada dalam suasana bulan Ramadhan, di mana setiap muslim sudah selayaknya menjalankan ibadah puasa sebagai perwujudan salah satu Rukun Islam. Di bulan suci yang membawa banyak barokah ini setiap muslim dituntut untuk memanfaatkan datangnya bulan Ramadhan secara maksimal, yaitu dengan memperbanyak perbuatan baik, seperti ibadah dan amal perbuata.

Pasalnya, di bulan Ramadhan ini jika umat Islam mampu berbuat seperti yang dikehendaki Allah, maka akan mendatangkan kekuatan dahsyat bagi dirinya maupun orang lain yang dibantunya. Hal itu terjadi karena bulan Ramadhan adalah bulan yang diberkati Allah Swt. sebagai bulan yang penuh ampunan. Sehingga umat muslim jangan sampai melewatkan begitu saja momen Ramadhan.

Semua umat muslim diharapkan menyebarkan perbuatan baik yang dapat membantu orang lain yang kesusahan. Di samping itu, segala perbuatan buruk dikurangi. Jika tidak mampu, setidaknya seorang muslim dapat menahan diri terlebih dulu, yang penting tindakannya tidak sampai menodai bulan suci.

Tidak hanya siang hari ketika melakukan puasa, menahan perbuatan juga dilakukan saat malam hari. Selama 30 hari penuh umat muslim harus membiasakan diri mengikuti suasana puasa. Agar setelah lewat bulan Ramadhan, seluruh umat Islam terbiasa melakukan aktivitasnya secara terjaga dengan baik sesuai saat dilakukannya di bulan Ramadhan.

Melihat realita yang terjadi di Indonesia, datangnya bulan Ramadhan dianggap sebagai berkah yang tak ternilai harganya di kalangan umat muslim. Banyak masyarakat Indonesia kebanyakan menyambut bulan suci itu dengan suka cita. Mereka berkeyakinan datangnya Ramadhan merupakan pertanda baik bagi kehidupan tidak hanya pemeluk ajaran Islam, melainkan seluruh manusia.

Meskipun harus menjalani aktivitas berpuasa, namun kondisi itu malah membuat masyarakat menjadi semakin tertantang untuk dapat menunaikannya. Pasalnya, di bulan ini muslim mendapatkan sebuah ujian nyata untuk bisa menahan diri dari segala godaan, baik merebut yang bukan miliknya sampai menahan kebutuhan seks.

Sebagaimana kita tahu, perbuatan merusak dan melanggar aturan sudah jamak dilakukan elite negeri ini. Mereka yang mendapatkan pendidikan tinggi dan memiliki intelektualitas yang tinggi pula bukan menjadi jaminan kelakuannya bisa terkontrol dan bersih. Karena lebih mementingkan keuntungan pribadi dan tergiur dengan segala kemewahan duniawi, perbuatan melanggar hukum dan agama terus dilakoni tanpa pernah memikirkan konsekuensi yang terjadi akibat perbuatannya.

Perbuatan korup yang sudah menggejala dan sangat parah di setiap lini kehidupan berbangsa membuat keadaan bangsa ini terus terpuruk. Bukannya berkurang, dari waktu ke waktu pelaku korupsi yang terungkap jumlahnya terus bertambah. Itu belum termasuk kasus korupsi yang menguap tak tahu rimbanya karena tak tersentuh pengadilan.

Anehnya, kebanyakan orang yang melakukan tindak korupsi itu orang berpendidikan, memegang jabatan penting, dan tahu aturan hukum. Meskipun begitu, bukan menjadi jaminan jika seseorang tidak melakukan korupsi. Nyatanya, sudah banyak pejabat yang tersandung kasus korupsi setelah lama kasus itu tersimpan rapi.

Datangnya bulan suci ini diharapkan mampu memberikan pencerahan bagi setiap koruptor maupun orang yang akan melakukan korupsi untuk tidak lagi mengulangi dan menghentikan perbuatannya. Perilaku mencuri uang negara (korupsi) yang sudah sangat akut di negeri ini hingga sudah tidak terhitung lagi berapa pejabat penting negeri ini yang harus mendekam di penjara adalah contoh tindakan yang gemar merebut yang bukan miliknya.

Tindakan korupsi yang identik dengan segala bentuk perbuatan yang bersifat serakah dan menganggap semuanya milik pribadi adalah perbuatan yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Substansi puasa yang mengajarkan setiap muslim untuk mampu menahan diri dari segala godaan seharusnya ditanggapi dengan semangat untuk bisa mengurang perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Di samping itu, relevansi sosial puasa yang menuntut setia muslim agar selalu mengingat orang lain harus diterjemahkan sebagai ungkapan bahwa korupsi bisa merugikan banyak orang. Karena Allah menyuruh setiap muslim yang berpuasa untuk menjunjung tinggi akhlak mulia, mengendalikan nafsu, menjaga perkataannya, dan tidak mengambil hak milik orang lain. Sehingga sudah seharusnya pelaku korupsi memaknai bulan suci ini sebagai bulan pertobatan.

Bulan Ramadhan yang mengondisikan seseorang untuk dalam perilaku baik dan selalu menjaga tindakannya seharusnya mampu membentuk seseorang sebagai individu positif yang selalu berada di jalan Allah Swt. Pasalnya, semua bagian tubuhnya akan terkendali dengan tidak membiarkannya melakukan perbuatan tercela.

Momen memelihara diri dari tindakan yang sesuai dengan jalur agama adalah dimulai dengan mengdendalikan nafsu untuk tidak merebut hak yang bukan milik kita. Membiasakan perbuatan menjaga diri bisa membentuk kepribadian kita menjadi lebih bersih.

Sehingga setelah selesai bulan Ramadhan, setiap orang yang akan melakukan perbuatan korupsi bisa dicegah, karena sudah terbentuk pemahaman bahwa korupsi bertentangan dengan ajaran Islam. Karena jika tidak, hati akan terus gelisah dan terkukung dalam penderitaan batin yang berkepanjangan.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM dan Aktivis Pers Kampus Bestari

Jangan Nodai Ramadan dengan Kekerasan

Posted in Agama on September 13, 2008 by erikpurnama

Jumat 12 September 2008 (Jurnal Nasional)

Seluruh umat Islam di dunia menyambut gembira datangnya bulan suci Ramadan, tak terkecuali umat Islam di Indonesia. Hal itu terjadi karena bulan Ramadan adalah momen yang datangnya setahun sekali dan waktunya hanya satu bulan. Sehingga banyak warga muslim yang memanfaatkan datangnya bulan Ramadan dengan meningkatkan ibadah dan memperbanyak amal soleh.

Namun, di tengah umat Islam khusuk menjalankan ibadah puasa ada kabar kurang sedap yang berhembus di masyarakat, yaitu adanya kabar bahwa akan ada razia yang dilakukan ormas Islam, salah satunya Front Pembela Islam (FPI). Tentu kabar itu sedikit mengusik ketentraman sebagian muslim dalam menjalankan ibadah puasanya.

Belajar dari Ramadan tahun kemarin, sebagaimana kita tahu, massa yang menamakan dirinya sebagai anggota FPI dengan terang-terangan melakukan razia mendatangi tempat yang diduga menjual minuman keras dan menjalankan praktik maksiat. Walaupun tindakan yang dilakukan tersebut ingin menegakkan aturan agama, namun karena dilakukan dengan cara kekerasan secara membabi buta, sehingga malah mengganggu ketentraman dan kenyamanan umat Islam dalam menjalankan puasa.

Kabar bahwa FPI kembali akan melakukan razia melawan segala bentuk kemaksiatan sangat mengusik banyak warga muslim di Tanah Air. Karena razia itu dibungkus sambil menyebarkan benih kekerasan dan permusuhan membuat citra Islam menjadi tercoreng.

Padahal agama Islam sangat menghendaki setiap umatnya untuk tidak pernah mendahulukan cara-cara kekerasan dalam menghadapi setiap persoalan. Tetapi karena razia yang dilakukan massa FPI identik dengan pengrusakan dan penghancuran segala fasilitas milik orang lain membuat masyarakat menjadi antipati terhadap kegiatan yang dilakukan FPI tersebut.

Bukankah agama Islam adalah agama damai dan memberikan rahmat kepada setiap makhluk hidup di alam semesta. Sehingga sungguh tidak relevan jika harus melakukan tindak kekerasan dengan membawa embel-embel menegakkan aturan Islam. Walaupun itu dilakukan di bulan Ramadan dan maksud tujuannya baik. Namun karena tindakannya berlebihan dan tidak dengan cara damai, yang terjadi adalah masyarakat makin tidak peduli dan jengkel dengan aksi sweeping yang dilakukan FPI.

Karena itu, seruan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengingatkan agar FPI tidak lagi menebarkan teror ketakutan dan melakukan tindakan anarkis perlu didukung masyarakat. Apalagi aksi sweeping itu tidak jelas sasaran yang dituju dan hanya dijadikan kedok untuk melakukan tindak kekerasan kepada orang lain yang berbeda pandangan.

Sehingga dengan menindak tegas dan tak kenal kompromi dalam menyikapi aksi yang meresahkan masyarakat perlu dilakukan aparat keamanan demi mewujudkan ketentraman umat Islam dalam menjalankan aktivitas berpuasa di bulan Ramadan. Dan kita sebagai muslim taat harus senantiasa menebarkan benih kedamaian keseluruh masyarakat agar mereka tahu bahwa Islam adalah ajaran agama yang anti kekerasan.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM, Gedung SC Lt.1 Bestari UMM