Archive for the Catatan Pribadi Category

Menonton Arak-arakan di Desa Kemantren

Posted in Catatan Pribadi on Mei 2, 2009 by erikpurnama

Citizen Journalism, Selasa, 17 Maret 2009 (Surabaya Post)

Sehari sebelum masa kampanye pemilihan legislatif (pileg), Minggu (15/3), warga Desa Kemantren, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, pada keluar rumah dan memenuhi jalanan utama desa. Bukan untuk memeriahkan pesta demokrasi, melainkan tujuan masyarakat adalah ingin menonton hiburan arak-arakan yang diselenggarakan salah satu calon legislatif (caleg) DPRD Kabupaten Malang, yang kebetulan bertempat tinggal di Desa Kemantren. Tidak bermaksud berprasangka, melainkan sulit diterima akal jika pawai yang melibatkan banyak orang itu sebagai bentuk curi start kampanye. Namun saya menceritakan kejadian itu tidak dari  segi politiknya, namun segi hiburannya.

Hiburan pawai yang dikemas dalam bentuk keliling kampung dengan mengitari jalanan hingga masuk gang desa itu banyak menampilkan seni hiburan masyarakat. Kondisinya seperti pawai tujuhbelasan, di mana banyak orang yang turut berpartisipasi. Di urutan depan ada beberapa orang yang mengenakan baju khas perjuangan dan tentara lengkap dengan aksesoris senjata perang yang bertugas mengawal arak-arakan.

Di barisan selanjutnya tampak 5 dokar (angkutan pedesaan yang menggunakan kuda) yang mengangkut belasan anak yang ikut sunatan massal. Dokarnya dihiasi berbagai atribut hingga tampak menarik dipandang mata. Setelahnya ada drum band dari Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) Kemantren, yang turut berpartisipasi memeriahkan acara. Atraksi musik yang ditampilkan drum band cukup menghibur meskip pemainnya masih belum dapat dikatakan profesional.

Di urutan keempat, kali ini komunitas perwakilan masjid yang terdiri sepuluh orang dewasa melantunkan shalawat sambil memainkan rebana dan bedug. Dengan diringi sound system mini yang diangkut becak, lantunan suara merdu terdengar membahana bertabrakan dengan suara yang dihasilkan dari alat musik kelompok drum band.

Setelah itu, lewat kelompok pengusung kesenian tradisional dengan memakai kostum jaranan, baik kuda lumping maupun kuda goyang. Mereka jalan sambil bergoyang seolah-olah sedang menikmati suasana. Penampilannya yang kocak dengan memakai baju sesuai kain yang menyelimuti ’kuda’ membuat banyak masyarakat tertawa terpingkal melihat tingkah yang ditunjukkan ’penunggang kuda’ bersangkutan.

Dan rombongan terakhir yang dinantikan masyarakat adalah kelompok kesenian caplokan dan banteng-bantengan. Karena mendapat posisi paling akhir maka barisan ini bisa unjuk gigi dengan leluasa. Orang yang bertindak sebagai pemain caplokan membawa alat terbuat dari kayu berwajah buto bermulut moncong ke depan yang dapat  dibuka-tutup sebagai penanda bahwa itu caplokan. Caplokannya diberi tali supaya ketika pemainnya jadi (kalap atau kerasukan setan), orang yang bertugas membawa tali bisa mengendalikannya suapa tidak liar.

Hal sama juga berlaku ketika banteng-bantengan lewat banyak sekali yang kalap dan di luar kendali hingga harus dikendalikan pemegang tali, yang sekaligus sebagai dukun yang sanggup menyembuhkan orang yang kerasukan tersebut. Karena banyak pemain banteng-bantengan yang kalap, maka ada yang saling bertubrukan dan bahkan sampai jatuh ke selokan.

Semua pawai yang dibiayai caleg itu mampu mengundang minat banyak masyarakat. Di samping karena mendapat hiburan gratis. Masyarakat juga senang sebab suasana kampung menjadi ramai. Saya juga tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk melihat langsung sambil mengabadikannya.

Namun yang jadi pertanyaan adalah berapa besar duit yang dikeluarkan caleg bersangkutan? Itu menjadi bukti bahwa untuk menjadi calon anggota dewan membutuhkan biaya besar untuk mengenalkan dirinya kepada masyarakat supaya dicoblos pada 9 April.

NAMA: ERIK PURNAMA PUTRA

Pegiat Pers Kampus Bestari Universitas Muhammadiyah Malang

erikeyikumm@yahoo.co.id

Berkunjung ke Candi Jago

Posted in Catatan Pribadi on April 20, 2009 by erikpurnama

Surabaya Post, Senin, 9 Februari 2009 (Citizen Journalism)

Jika Anda ingin berkunjung ke Kabupaten Malang, tidak ada salahnya mampir ke daerah timur Malang, tepatnya di Kecamatan Tumpang, untuk mampir dan mengunjungi sebuah situs kuno bernama Candi Jago. Situs bersejarah itu terletak di Dusun Jago, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, dan diperlukan waktu 1 jam perjalanan ke arah timur dari pusat Kota Malang. Biasanya jalur ke Candi Jago digunakan wisatawan yang ingin pergi ke Gunung Bromo melalui jalur Malang.

Menurut cerita, Candi Jago dulunya bernama Jayaghu dan dalam kitab Negarakertagama disebut sebagai tempat pemakaman Maharaja Wisnuwardhana, nenek moyang Hayam Wuruk, raja terpopuler dan terhebat di era Kerajaan Majapahit.

Jika dianalisa dari bentuk arsitektur dan berbagai ukiran hiasannya, dapat dipastikan Candi Jago dibangun pada zaman Kerajaan Singhasari pada abad ke 13. Dan pada tahun 1272 Saka atau 1350 Masehi, bangunannya pernah dipugar oleh Adityawarman. Dan sesudahnya, Candi Jago mengalami beberapa kali pemugaran pada abad ke 15 pada era dinasti Majapahit berkuasa.

Sekarang, bentuk Candi Jago terkesan unik karena bagian atasnya seperti hilang dan hanya tersisa sebagian. Kondisi itu menurut cerita masyarakat setempat disebabkan dulunya area candi pernah tersambar petir hingga menyebabkan bagian puncak hilang. Sehingga arsitektur Candi Jago terlihat aneh, namun sangat eksotis dipandang mata.

Sayangnya, seperti kebanyakan nasib monumen kuno dan bangunan peninggalan zaman kerajaan, nasib Candi Jago bisa dikatakan sangat mengkhawatirkan. Jayaghu tampak tidak terawat dan bangunannya sangat rapuh, serta terlihat tidak menarik untuk dilihat.

Sebagai salah satu masterpiece hasil peninggalan zaman dulu, kondisi candi tidak dapat disebut layak dikunjungi. Pemerintah daerah masih kurang peduli dan tidak memperhatikan Candi Jago sebagai peninggalan bersejarah. Buktinya ketika ingin menuju ke lokasi, jalan masuknya kumuh karena di situ sebagai tempat mangkal kendaraan dokar. Sehingga pemandangan kotor dan bau menjadi santapan wisatawan yang ingin ke sana, yang membuat kesan pertama menjadi kurang menggoda dan menimbulkan citra kurang enak bagi pengunjung.

Meskipun kadang pada akhir pekan ada rombongan anak sekolah, pecinta sejarah, dan wisatawan asing yang datang berkunjung, namun di luar itu tidak ada yang datang ke area candi yang dikelilingi perumahan padat warga. Parahnya, masyarakat setempat seperti terkesan acuh akan keberadaan candi. Buktinya tidak ada yang peduli untuk memiliki dan merasa biasa saja tinggal di dekat area candi.

Hal itu bertolak belakang dengan turis mancanegara yang malah sangat antusias ketika mengunjungi candi. Dan itu bukan omong kosong belaka. Pasalnya bila kita bertanya kepada masyarakat setempat pasti mereka akan mengamini dan menjawab dengan yakin bahwa orang asing sangat senang ketika berada di Candi Jago.

Saya sendiri menilai keberadaan Candi Jago kurang terurus. Karena saat saya berkeliling ke area candi banyak sekali ditemukan bagian candi rusak dan kepala arca ada yang hilang. Hal itu membuat saya menjadi merasa biasa saja ketika berkeliling area candi dan hanya tertarik pada relief yang terukir di setiap sudut bangunan candi.

Seandainya candi diurus dan diperhatikan pemerintah pasti kondisinya lebih baik dan bisa menarik banyak pengunjung. Sehingga akan mengundang wisatawan untuk datang berkunjung. Tetapi harapan itu sepertinya bakal sia-sia mengingat dari berbagai peristiwa pihak terkait yang bertanggungjawab mengurus candi kurang bisa diandalkan menjaga dan melestarikan candi.

Erik Purnama Putra

Pegiat Pers Bestari UMM