Archive for the Hankam Category

Malaysia Lecehkan Kedaulatan NKRI

Posted in Hankam on Juni 30, 2009 by erikpurnama

Suara Pembaca, Senin, 15 Juni 2009 (Surabaya Pagi)

BELUM selesai ribut-ribut seputar seringnya kapal perang Tentara Laut Diraja Malaysia yang memasuki perairan Ambalat, masyarakat dikejutkan lagi tentang terdeteksinya pesawat tempur asing yang menyusup di wilayah udara Indonesia oleh satuan radar TNI-AU di Tarakan. Dari informasi yang dirilis didapat bahwa sudah empat kali pesawat tempur asing yang terdeteksi melakukan manuver di langit Indonesia di sekitar perairan Ambalat. Meskipun hingga saat ini belum jelas pesawat tempur tak dikenal itu milik siapa, tetapi dugaan kuat yang berkembang menyebutkan bahwa jet tempur itu milik tentara Malaysia.

Sebagai negara berdaulat sudah semestinya Indonesia mengambil sikap tegas guna merespon setiap kejadian di perairan Blok Ambalat. Karena yang terjadi di perairan Ambalat sudah bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk nyata ancaman bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sehingga selayaknya pemerintah tak sekedar beretorika saja. Mengingat yang diinginkan rakyat Indonesia adalah ketegasan menyikapi tindakan penghinaan Malaysia yang secara terang-terangan melanggar batas teritorial yang dilakukan berulang kala.

Diplomasi yang lebih dikedepankan pemerintah boleh-boleh saja, namun tetap harus mengedepankan kepentingan bangsa dan jangan sampai malah jadi blunder bagi Indonesia. Karena kita tentu tak bisa membiarkan Malaysia dengan seenaknya sendiri berbuat sesuka hatinya dengan menginjak-injak kedaulatan negara Indonesia. Sehingga yang diperlukan pemerintah jangan pernah takut untuk mengambil langkah keras guna menunjukkan harga dirinya supaya tak dipandang remeh Malaysia.

Memang harus diakui kemampuan alutsista TNI masih lemah dan dari segi kecanggihan masih tertinggal jauh dibandingkan Malaysia. Namun hal itu jangan sampai dijadikan alasan dan melunturkan semangat juang TNI untuk tetap menjaga dan berada di garda terdepan membela kepentingan bangsa untuk menghadapi Tentara Laut Diraja Malaysia.

Sebagai bangsa besar tidak seharusnya Indonesia takut menghadapi Malaysia sebab negeri Jiran tersebut tak ada niatan baik untuk menyelesaikan masalah itu. Ingat, walaupun Malaysia menegaskan telah menyesal kapal perang Tentara Dirajanya telah memasuki wilayah perairan Indonesia, namun itu masih sebatas ucapan. Sementara di saat bersamaan sepertinya kapal laut mereka terus saja melakukan pelanggaran berulang kali dan tak ada niatan untuk menghentikannya.

Belum selesai masalah di laut yang sekarang dijaga ketat oleh kapal perang Indonesia (KRI), pihak Malaysia mengganggu ketentraman Indonesia. Ditambah manuver jet tempur asing yang diduga milik Malaysia semakin menunjukkan negeri tetangga itu memandang rendah Indonesia. Karenanya sudah jelas jika kondisinya seperti itu maka Malaysia dapat dikatakan tak ada itikad baik untuk menyelesaikan masalah Ambalat.

Bayangkan hingga saat ini pemerintah RI sudah menyampaikan 36 nota protes pelanggaran wilayah Ambalat oleh Malaysia. Dan tak ada tindakan untuk menyelesaikannya. Sedangkan Indonesia terlalu sering bersabar hingga malah dipandang remeh bangsa lain. Maka itu, apakah pemerintah dan rakyat Indonesia diam begitu saja menyaksikan tindakan tentara Malaysia yang sudah keterlaluan tersebut. Tentu perlu dilakukan sebuah tindakan agar memberikan efek jera kepada Malaysia.

Saya berkeyakinan tak ada satu negara pun di dunia ini yang kurang ajar seperti Malaysia. Karena berdasarkan sejarah perjalanan bangsa di dunia, jika ada bangsa yang mengganggu bangsa lainnya pasti akan meminta maaf dan tak akan mengulangi kesalahan serupa. Namun pemerintah Malaysia sepertinya bertindak hipokrit sebab mereka mengakui salah, tetapi terus melanggar. Sehingga jika seperti itu terus keadaannya maka tak ada salahnya kita mengingat slogan Bung Karno yang tak ragu-ragu menggelorkan “Ganyang Malaysia” supaya bangsa kita tak diremehkan negara serumpun, namun kurang tahu aturan itu.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Psikologi dan Aktivis Pers Kampus Bestari UMM

Iklan

Gudangkan Semua Pesawat Tua

Posted in Hankam on Juni 13, 2009 by erikpurnama

Sabtu, 6 Juni 2009 (Jurnal Nasional)

TRAGEDI jatuhnya pesawat Hercules jenis C-130 pada minggu lalu menimbulkan perdebatan banyak pihak. Bagi kalangan pengamat dan kubu oposisi jatuhnya pesawat angkut milik TNI-AU tersebut ditengarai akibat tidak layak terbang. Sedangkan pemerintah dan petinggi TNI-AU menyangkal keras pendapat itu karena pada dasarnya pesawat yang telah menewaskan 100 orang lebih itu kondisinya cukup baik sehingga dapat diterbangkan.

Di balik kejadian yang mendapatkan sorotan dunia internasional itu, harus diakui bahwa kemampuan pemerintah dalam mengalokasikan biaya untuk pembelian maupun perawatan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) militer di Indonesia jauh dari mencukupi. Di samping anggaran APBN memang masih belum mampu memenuhinya, juga diakibatkan persenjataan dan peralatan temput milik TNI banyak yang sudah usang dan dipaksakan digunakan, meskipun menimbulkan resiko buruk yang tak dapat diperkirakan.

Apapun opini yang berkembang di masyarakat, tetap memunculkan kesepakatan bersama bahwa jatuhnya pesawat Hercules yang dibeli di masa awal pemerintahan Orde Baru tersebut merupakan belum cukupnya biaya perawatan rutin pesawat yang disebabkan anggaran negara dalam APBN belum ideal. Karena dari Rp 1,1 triliun, baru dapat dipenuhi pemerintah sebesar Rp 100 milyar. Sehingga meskipun dibantah keras pemerintah bahwa penyebab kecelakaan pesawat Hercules akibat kurangnya biaya perawatan, namun tetap saja publik tak bisa dibohongi dan kenyataannya seperti itu.

Tetapi sayang, dalam perkembangannya antara pemerintah maupun pengamat maupun kubu oposisi terjebak dalam perang statemen di media massa daripada melakukan upaya khusus guna mencari solusi tepat untuk mengatasi keadaan itu. Karena saya berpikir lebih baik semuanya bersatu dan membentuk sebuah strategi khusus agar dikemudian hari kejadian mengerikan itu tak terulang kembali.

Namun dibalik itu semua, saya menyarankan agar pihak pemerintah maupun jajaran petinggi TNI-AU untuk melakukan tindakan luar biasa dengan meng-grounded (menggudangkan) semua pesawat yang sudah udzur dan tak laik terbang. Hal itu penting dilakukan agar dikemudian hari kecelakaan serupa tak terulang kembali. Mengingat di sini lebih dipentingkan untuk memprioritaskan keselamatan manusia daripada tetap menerbangkan pesawat tetapi membahayakan penumpang.

Langkah itu mungkin terbilang ekstrem dan membahayakan negara karena memang kadang pesawat digunakan untuk latihan militer. Tetapi itu lebih mendesak dilakukan hingga keadaan membaik dengan ditingkatkannya anggaran perawatan pesawat daripada mengorbankan sisi kemanusiaan. Jangan sampai prajurit tentara takut menerbangkan pesawat karena berpotensi kecelakaan. Jika kondisi itu terjadi maka kerugian akan lebih besar akibat tentara takut naik pesawat karena takut jatuh. Sehingga jalan terakhir dan aman adalah menyimpan pesawat sampai benar-benar dapat dipastikan kondisinya cukup baik untuk diterbangkan.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa UMM
Gedung SC Lt.1 Bestari Kampus III Unmuh Malang

Mempertahankan Wilayah Ambalat

Posted in Hankam on Juni 5, 2009 by erikpurnama

Jumat, 5 Juni 2009 (Jurnal Nasional)

Konsentrasi masyarakat Indonesia saat ini terpecah menjadi dua karena mengikuti dua berita besar yang sedang terjadi, yang sebenarnya saling berkaitan satu sama lain. Perisitiwa pertama adalah agenda kampanye pemilihan presiden (pilpres) yang dihelat mulai 2 Juni, yang mampu menyedot konsentrasi seluruh masyarakat dan elite politikus untuk bekerja maksimal memenangkan capres maupun cawapresnya.

Sedangkan satunya peristiwa manuver kapal perang Malaysia yang dengan sengaja melanggar aturan hukum internasional dengan memasuki perairan Indonesia, tepatnya di wilayah Ambalat. Sehingga setiap perkembangan kejadian di perairan kaya akan cadangan minyak tersebut diikuti terus seluruh rakyat Indonesia karena menyangkut masalah kedaulatan Negara Kesaturan Republik Indonesia (NKRI).

Dua peristiwa besar itu menjadi tak terpisahkan karena memiliki keterkaitan. Pasalnya siapa pun Presiden RI terpilih nanti harus mampu mencari solusi atas kasus sengketa Ambalat yang sudah berlarut-larut tak kunjung menemukan kata sepakat antara Indonesia dengan Malaysia. Karena jika dibiarkan terus-menerus maka kemungkinan adanya pencaplokan wilayah NKRI oleh Malaysia bisa terjadi.

Berkaca dari sejarah, sudah sering kali Tentara Diraja Laut Malaysia yang merasa memiliki wilayah Ambalat harus menerobos masuk wilayah lautan Indonesia, yang tentu saja dihadang kapal perang TNI-AL. Meskipun selalu diberi peringatan oleh TNI-AL, namun sepertinya Tentara Diraja Laut Malaysia tak mengabaikannya dan malah terus berusaha memancing amarah publik Indonesia dengan berpatroli di perairan Indonesia.

Karena itu sudah saatnya rakyat Indonesia menyeru kepada TNI-AL untuk bersikap dan tak ragu-ragu dalam bertindak menjaga kedaulatan negara agar setiap jengkal wilayah NKRI aman dari gangguan negara lain. Maka itu kita wajib keras memandang tindakan Malaysia sebagai pelanggaran sehingga Ambalat harus dipertahankan dengan segala cara. Untuk itu tindakan kapal perang Malaysia itu tak bisa dibenarkan dengan dalih apa pun.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Gedung SC Lt.1 Bestari Kampus III UMM

Gudangkan Semua Pesawat Tua

Posted in Hankam on Juni 4, 2009 by erikpurnama

Sabtu, 30 Mei 2009 (Jurnal Nasional)

Tragedi jatuhnya pesawat Hercules jenis C-130 pada minggu lalu menimbulkan perdebatan banyak pihak. Bagi kalangan pengamat dan kubu oposisi jatuhnya pesawat angkut milik TNI-AU tersebut ditengarai akibat tidak layak terbang. Sedangkan pemerintah dan petinggi TNI-AU menyangkal keras pendapat itu karena pada dasarnya pesawat yang telah menewaskan 100 orang lebih itu kondisinya cukup baik sehingga dapat diterbangkan.

Di balik kejadian yang mendapatkan sorotan dunia internasional itu, harus diakui bahwa kemampuan pemerintah dalam mengalokasikan biaya untuk pembelian maupun perawatan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) militer di Indonesia jauh dari mencukupi. Di samping anggaran APBN memang masih belum mampu memenuhinya, juga diakibatkan persenjataan dan peralatan temput milik TNI banyak yang sudah usang dan dipaksakan digunakan, meskipun menimbulkan resiko buruk yang tak dapat diperkirakan.

Apapun opini yang berkembang di masyarakat, tetap memunculkan kesepakatan bersama bahwa jatuhnya pesawat Hercules yang dibeli di masa awal pemerintahan Orde Baru tersebut merupakan belum cukupnya biaya perawatan rutin pesawat yang disebabkan anggaran negara dalam APBN belum ideal. Karena dari Rp 1,1 triliun, baru dapat dipenuhi pemerintah sebesar Rp 100 milyar. Sehingga meskipun dibantah keras pemerintah bahwa penyebab kecelakaan pesawat Hercules akibat kurangnya biaya perawatan, namun tetap saja publik tak bisa dibohongi dan kenyataannya seperti itu.

Tetapi sayang, dalam perkembangannya antara pemerintah maupun pengamat maupun kubu oposisi terjebak dalam perang statemen di media massa daripada melakukan upaya khusus guna mencari solusi tepat untuk mengatasi keadaan itu. Karena saya berpikir lebih baik semuanya bersatu dan membentuk sebuah strategi khusus agar dikemudian hari kejadian mengerikan itu tak terulang kembali.

Namun dibalik itu semua, saya menyarankan agar pihak pemerintah maupun jajaran petinggi TNI-AU untuk melakukan tindakan luar biasa dengan meng-grounded (menggudangkan) semua pesawat yang sudah udzur dan tak laik terbang. Hal itu penting dilakukan agar dikemudian hari kecelakaan serupa tak terulang kembali. Mengingat di sini lebih dipentingkan untuk memprioritaskan keselamatan manusia daripada tetap menerbangkan pesawat tetapi membahayakan penumpang.

Langkah itu mungkin terbilang ekstrem dan membahayakan negara karena memang kadang pesawat digunakan untuk latihan militer. Tetapi itu lebih mendesak dilakukan hingga keadaan membaik dengan ditingkatkannya anggaran perawatan pesawat daripada mengorbankan sisi kemanusiaan. Jangan sampai prajurit tentara takut menerbangkan pesawat karena berpotensi kecelakaan. Jika kondisi itu terjadi maka kerugian akan lebih besar akibat tentara takut naik pesawat karena takut jatuh. Sehingga jalan terakhir dan aman adalah menyimpan pesawat sampai benar-benar dapat dipastikan kondisinya cukup baik untuk diterbangkan.

Erik P. Putra

Mahasiswa UMM

Tingkatkan Keamanan di Perumahan

Posted in Hankam on Mei 15, 2009 by erikpurnama

Suara Pembaca, Rabu, 29 April 2009 (Surabaya Pagi)

Aparat Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menunjukkan kinerja bagus ketika dalam tempo kurang seminggu berhasil menggerebek dan membongkar 3 pabrik pembuatan sabu-sabu di area Jakarta, yakni di perumahan di Jakarta Barat, Tanggerang dan Bogor. Perisitiwa itu juga terjadi di daerah lainnya, seperti di Kota Malang, yang baru-baru ini aparat kepolisian berhasil membongkar jaringan pabrik narkoba di daerah Perumahan Sawojajar, salah perumahan terpadat di Kota Malang, yang notabene banyak dihuni polisi.

Dari kejadian itu masyarakat tentu wajib lebih waspada akan keberadaan keamanan lingkungannya. Mengingat kondisi itu sangat mencemaskan karena memperlihatkan bahwa sekarang produsen narkoba sudah mulai berani dan ekspansi secara luas dalam memproduksi barang haram itu. Sehingga mengagetkan masyarakat sebab tidak menyangka bahwa rumah yang dari luar tampak biasa saja dan di setiap sisinya berdiri rumah tetangga, ternyata di dalamnya dijadikan tempat bikin pil setan.

Belajar dari itu tidak ada salahnya jika Polri untuk mengintensifkan pengamanannya dan tidak lupa menggandeng masyarakat supaya ikut peduli dengan keadaan lingkungan di sekitar rumahnya. Mengingat saat ini banyak produsen maupun bandar narkoba yang menjadikan perumahan padat sebagai tempat memproduksi narkoba. Karena dirasa tempat yang banyak penduduk makin aman sebab kesadaran kontrol masyarakat akan keamanan lingkungannya sangat kurang. Sehingga memunculkan kelengahan bersama yang menjadikan wilayah tersebut ‘aman’ bagi tempat untuk untuk mendirikan pabrik narkoba.

Di samping itu, dipilihnya tempat padat penduduk karena bandar narkoba berkeyakinan akan semakin mudah memasarkan produknya, mengingat perumahan padat biasanya tidak terlalu jauh dari pusat kota. Dan dengan menyewa perumahan kecil bandar narkoba bisa berpindah dengan cepat dan mobilitasnya tinggi guna menghapus jejak dari kejaran Polri. Itu penting supaya pabriknya tidak mudah terdeteksi dan aman.

Semakin pandai dan cerdiknya bandar narkoba dalam mengkamuflase base camp-nya supaya terhindar dari endusan aparat kepolisian membuat masyarakat perlu meningkatkan partisipasinya dalam membentuk keamanan internal di wilayahnya. Belajar dari peristiwa tersebut, di mana penjahat narkoba memanfaatkan kelengahan masyarakat sebagai modal utama mendirikan pabrik narkoba, maka sudah saatnya warga tergerak untuk memperketat lingkungannya.

Untuk itu penting sekali supaya Polri menggandeng masyarakat agar berperan aktif dalam menjaga lingkungannya. Metode itu pernah dilakukan pada masa lalu dan terbukti efektif menangkal segala bentuk kejahatan terorganisir. Pasalnya jika kesempatan tidak ada maka akan sulit bagi bandar narkoba untuk menjalankan rencananya.

Karena itu mulai sekarang peraturan lama, di mana setiap orang yang tidak dikenal diharuskan wajib lapor kepada Ketua RT/RW perlu diterapkan. Itu supaya memudahkan pandataan penduduk dan menghindari terjadinya hal yang tidak diinginkan. Sehingga keamanan wilayah bisa terjaga dan aktivitas warga bisa diketahui.

Saling bersilaturahmi dengan berkunjung ke tetangga juga perlu digalakkan. Jangan sampai punya tetangga baru, namun tidak tahu aktivitas yang dikerjakannya dalam rumah. Dan setiap warga yang mencurigai apa pun itu harus secepatnya melaporkan kepada Ketua RT/RW yang nantinya ditembuskan kepada aparat kepolisian untuk turun ke lapangan. Jika kondisi itu terwujud, maka akan sulit bagi bandar narkoba untuk mendirikan pabrik narkoba di perumahan.

Erik PP

Aktivis Pers Kampus UMM

Alutsista TNI Perlu Diremajakan

Posted in Hankam on Mei 15, 2009 by erikpurnama

Kamis, 23 April 2009 (Jurnal Nasional)

Kecelakaan pesawat Fokker 27 yang berumur 34 tahun di Lanud Husein Sastranegara yang menewaskan 24 Paskhas TNI-AU, Senin (6/4), menyisakan beragam fenomena menarik yang perlu dikomentari lebih jauh. Pasalnya, peristiwa tragis itu terjadi ketika para prajurit TNI-AU sedang melakukan tugas negara, yakni penerbangan untuk latihan terjun payung. Sayangnya, belum sempat melakukan latihan, pilot yang melihat cuaca dalam kondisi buruk memutuskan untuk melakukan pendaratan guna menghindari kejadian yang tak diinginkan.

Untung tak bisa ditolak, ketika akan mendarat pesawat malah terkena sapuan Angin Samping yang membuat pilot kehilangan kendali hingga pesawat nahas tersebut tak mendarat di run away, melainkan menabrak hangar ACS milik PT Dirgantara Indonesia. Yang terjadi selanjutnya sangat mengerikan karena pesawat saat itu juga meledak setelah menghantam hangar hingga menimbulkan ledakan dahsyat yang membuat badan pesawat dan atap hangar hancur berkeping-keping.

Tak hanya itu, pesawat yang sedang diparkir dekat hangar pun ikut terkena dampaknya. Sehingga kerugiannya sangat besar. Ditambah banyaknya korban yang kehilangan nyawa membuat peristiwa itu menimbulkan banyak sorotan dan menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban. Apalagi tragedi itu berdekatan dengan hari ulang tahun (HUT) TNI-AU yang pada 9 April genap berusia 63 tahun. Sehingga peristiwa mengerikan kecelakaan pesawat tersebut menjadi kado buruk yang mencoreng wajah TNI.

Meskipun petinggi TNI-AU membantah bahwa terjadinya kecelakaan pesawat itu murni faktor cuaca buruk, tetapi masyarakat pasti tak langsung saja percaya dengan pernyataan yang menyalahkan faktor alam. Pasalnya, sudah terlalu sering kecelakaan pesawat dan kendaraan tempur lainnya milik TNI yang mengalami hal serupa. Tak hanya TNI-AU, TNI-AD dan TNI-AL juga setali tiga uang. Sehingga terkesan belum ada penanganan serius untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali di kemudian hari.

Masih segar dalam ingatan ketika tank amfibi milik TNI-AD yang digunakan dalam latihan tempur yang tahun lalu tenggelam ketika sedang digunakan untuk latihan perang. Sehingga tentara yang menumpangi tank harus meregang nyawa akibat terjepit tak bisa keluar dari tank. Kapal laut milik TNI-AL kondisinya juga sangat membahayakan sebab ada yang warisan pemerintah Orde Lama dan banyak yang berumur 30 tahun lebih, yang tetap dijalankan menjaga wilayah lautan Indonesia mengingat kekuatan armada laut kekurangan kapal tempur. Jelas itu berbahaya dan jika tak segera ditangani suatu hari akan ada kapal laut tenggelam sebab masa pakainya melebihi batas.

Untuk itu, tak ada salahnya bagi pemerintah untuk melakukan peremajaan alutsista milik TNI. Jangan biarkan armada tempur yang sudah tak laik digunakan tetap dimanfaatkan untuk latihan karena tak ada sarana lain yang bisa dipakai. Karena jika seperti itu, akan sangat rawan sekali terjadi kecelakaan yang membahayakan nyawa prajurit TNI. Sehingga dengan mengganti atau meremajakan alutsista yang udzur dan tak layak pakai merupakan langkah tepat untuk menghindari kecelakaan kendaraan tempur dikemudian hari.

Erik Purnama P.

Aktivis Pers Kampus Bestari UMM

Usut Terbakarnya Depo Plumpang

Posted in Hankam on April 17, 2009 by erikpurnama

Surabaya Post, Senin 2 Februari 2009 (Suara Konsumen)

Terbakarnya Depo Plumpang no 24 milik Pertamina, yang berada di Jakarta Utara, Minggu (18/1), masih menyisakan tanda tanya besar di kalangan masyarakat. Banyak pihak berujar bahwa kejadian itu kemungkinan ada unsur sabotase sehingga perlu ditindaklanjuti lebih lanjut oleh tim internal Pertamina dan aparat berwenang.

Seperti dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang memerintahkan aparat kepolisian dan Pertamina melakukan investigasi menyeluruh atas kebakaran Depo Plumpang. Pasalnya akibat kejadian itu Pertamina rugi Rp15 miliar dari jumlah hitungan volume premium yang terbakar sebanyak 3.000 kiloliter. Itu baru menghitung kerugian BBM bukan materi lainnya. Apalagi peristiwa itu menewaskan satu korban penjaga yang ikut terbakar.

Bahkan, kalangan anggota dewan tidak kalah lantang bersuara. Anggota Komisi VII DPR, Alvin Lie, mengatakan, publik perlu mengetahui secara pasti kejadian yang menimpa Depo Plumpang. Apakah benar terbakar atau sengaja dibakar. Sehingga penyelidikan lebih lanjut perlu dilakukan mengingat betapa strategisnya peran Depo Plumpang bagi penyaluran distribusi bahan bakar minyak (BBM) di wilayah DKI Jakarta dan Banten.

Menguatnya dugaan sabotase memang wajar mengingat pengamanan area Depo Plumpang sangat ketat karena melibatkan unsur keamanan internal Pertamina, Polri dan TNI. Sehingga jika pelakunya bukan orang dalam atau profesional pasti sulit menembus batasan keamanan yang ada. Karena itu sangat aneh jika terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan jutaan barel BBM.

Bayangkan akibat buruk terkabarnya depo penyimpanan minyak itu membuat stok premium turun dari 9 hari menjadi 7,5 hari. Dan sempat membuat masyarakat menjadi kesulitan mendapatkan BBM di setiap SPBU akibat distribusi tidak lancar. Karena itu harus ada penyelidikan hingga tuntas untuk mencari penyebab kebakaran.

Depo Plumpang sebagai salah satu aset negara merupakan obyek vital yang perlu mendapatkan perlindungan ketat. Untuk itu, pemerintah perlu bertindak dengan menerjunkan tim khusus guna menguak penyebab kebakaran tersebut. Pasalnya dampak kejadian buruk itu telah membuat citra Pertamina sebagai BUMN menjadi buruk.

Upaya penyelidikan memang tindakan bagus. Karena jangan sampai kejadian itu terulang kembali di masa akan datang. Di samping mencari penyebab sumber terbakarnya depo penyimpanan minyak milik Pertamina. Juga, perlu dievaluasi sistem keamanan sehingga ke depannya penjagaan bisa lebih ketat.

Kita kadang selalu meremehkan pengalaman dan baru bertindak setelah ada kejadian merugikan. Jika ditelusuri, keamanan memang perlu dievaluasi kembali mengingat Depo Plumpang dekat dengan pemukiman warga. Sehingga pengawasan dan kontrol keamanan tidak bisa maksimal. Sebab tidak mungkin mencurigai satu per satu penduduk yang beraktivitas di sekitar depo.

Karena itu langkah relokasi pemukiman bisa jadi solusi bagus. Mengingat Depo plumpang merupakan salah satu obyek vital yang memiliki fungsi strategis bagi negara. Sehingga perlu diupayakan penjagaan secara ketat untuk melindungi aset negara itu untuk melacak dan mencari tahu sumber penyebab kebakaran.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang