Archive for the Humaniora Category

Ketidakadilan Menimpa Warga Porong

Posted in Humaniora on September 9, 2009 by erikpurnama

Edisi No. 19, 30 Agustus 2009 (Majalah Forum Keadilan)

Penghentian pengusutan kasus pidana yang dilakukan PT Lapindo Jaya selaku perusahaan yang bertanggungjawab atas masalah pengeboran di Porong Sidoarjo hingga mengakibatkan terjadinya bencana lumpur yang menenggelamkan ribuan rumah membuat warga yang terkena dampak lumpur tak menerima keadilan seperti yang diharapkan. Kondisi itu terjadi ketika pihak Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) memutuskan untuk mengeluarkan SP3, sehingga membuat pihak Lapindo Jaya bebas dari segala tuntutan hukum.

Peristiwa yang tak berpihak pada rakyat kecil itu menjadi preseden buruk bagi terciptanya penegakan hukum di Indonesia, mengingat sudah jelas dari sudut manapun bencana lumpur bukan akibat kejadian alam, melainkan kesalahan prosedur penambangan yang dilakukan Lapindo Jaya. Namun dengan alasan pihak kepolisian tak mendapatkan kejelasan kelengkapan berkas sesuai petunjuk Kejaksaan Tinggi Jatim terkait masalah itu membuat aparat polisi serta merta langsung menghentikan kasus yang sudah merugikan warga Porong itu.

Padahal berbagai kalangan menyebut bahwa Lapindo Jaya sudah dianggap melakukan perbuatan melawan hukum, seperti pelanggaran pengrusakan lingkungan yang membuat lumpuh aktivitas ekonomi sebagian besar warga Porong, tak terkecuali perekonomian Jatim sebab jalur provinsi juga ikut terganggu. Dari yang nampak saja masyarakat pasti bisa menilai terjadi pelanggaran sebab pengeboran tidak dilakukan sebagaimana mestinya sehingga malah mengakibatkan bencana. Sehingga sangat aneh jika sekarang pihak yang melakukan pelanggaran luar biasa bisa bebas dari kejaran aparat penegak hukum.

Sebenarnya yang dikhawatirkan warga Porong adalah nantinya pihak Lumpur Lapindo tak mau melunasi sisa pembayaran ganti rugi dengan alasa tak melakukan kesalahan apapun. Sehingga malah pemerintah yang harus menanggung ganti rugi, yang membuat nasib pengungsi semakin tak jelas. Karena jika tak membayar kewajibannya pun, pihak Lapindo Jaya tak bisa terkena tuntutan hukum jika tak dinyatakan bersalah atas munculnya musibah lumpur itu.

Tetapi kita harapkan ketidakadilan yang terjadi pada warga Porong tak berlanjut pada penundaannya pembayaran dana ganti rugi oleh Lapindo. Pasalnya masyarakat pasti percaya dengan itikad baik dari perusahaam milik Aburizal Bakrie yang akan menunaikan kewajibannya itu. Karena jika tak begitu, warga yang rumahnya tenggelam akan semakin menderita jika nantinya Lapindo Jaya lepas tangan dan tak memiliki niatan untuk membayar kerugian kepada warga Porong.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Iklan

Memetik Hikmah Kehidupan dari Mbah Surip

Posted in Humaniora on September 9, 2009 by erikpurnama

Rabu, 19 Agustus 2009 (Surabaya Post)

KEMATIAN mendadak Urip Ariyanto atau biasa dikenal Mbah Surip mengagetkan banyak kalangan masyarakat. Dari rakyat jelata hingga Presiden SBY sampai harus mengomentari sosok yang dikenal bersahaja tersebut. Bagaimana tidak, di saat puncak popularitas berhasil diraih, Mbah Surip harus menghadapi takdir bahwa Sang Pencipta harus mengambil nyawanya. Maka itu, masyarakat Indonesia hampir tak percaya figur yang dikenal humoris tersebut sudah tiada.

Namun, di luar itu semua, banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari pria kelahiran 60 tahun itu. Salah satunya adalah dari aspek pilihan hidupnya yang tetap tak berubah meski ketenaran sudah diraihnya. Dari contoh itu, Mbah Surip mengajarkan kepada kita semua bahwa menjadi individu itu harus selalu ingat kepada sesama dan jangan mudah lupa diri.

Karena dari fenomena yang terjadi di masyarakat, kita dengan mudah menjumpai individu yang gampang berubah sikap atau gaya hidup setelah mendapatkan kecukupan materi luar biasa. Memang hal wajar jika seseorang akan mengalami perubahan perilaku ketika kehidupannya secara materi berlebih. Namun alangkah baiknya meniru Mbah Surip yang tetap hidup seperti sedia kala dengan tetap menjadi pribadi yang selalu memberikan keceriaan kepada sekitarnya dan hidupnya tak neko-neko.

Di samping itu, dari Mbah Surip kita dapat memetik hikmah berharga bahwa kakek yang terkenal dengan lagunya Tak Gendong tersebut ternyata tak melupakan aspek pendidikan sebagai jalan merengkuh kehidupannya. Karena seperti diketahui, Mbah Surip adalah seorang lulusan perguruan tinggi (PT) Amerika Serikat (AS) dengan meraih gelar bergengsi, Master of Bussines Administration (MBA). Meskipun tak mau menyebutkan dari universitas mana dia menempuh ilmu, semua orang akan sepakat bahwa Mbah Surip menempatkan pendidikan pada posisi penting sehingga harus sampai menuntut ilmu hingga ke negeri Paman Sam.

Yang patut diacungi jempol, dari penuturan orang terdekatnya semasa masih menjadi siswa dan mahasiswa, Mbah Surip sampai rela berjualan tahu hingga menjadi makelar bioskop untuk menyambung hidup. Sementara jika ada sisa, Mbah Surip menggunakannya untuk keperluan pendidikannya. Karena itu, dia sampai meraih gelar sarjana kimia dengan biaya sendiri dari hasil kerja kerasnya.

Gilanya lagi, Mbah Surip pernah merancang membuat pesawat dengan salah satu anak mantan Presiden RI, BJ Habibie. Meski gagal, setidaknya masyarakat bisa menilai bahwa di dalam diri Mbah Surip terkandung potensi luar biasa besar yang menunjukkan bahwa dia merupakan sosok yang memiliki kemampuan luar biasa dan dikarunia bakat, serta kemampuan hebat. Tak heran ketika dia menciptakan lagu yang liriknya terkesan asal-asalan, di luar dugaan lagunya dapat diterima seluruh lapisan masyarakat, hingga penjualan ring back tone (RBT) meledak di pasaran.

Memang secara fisik, Mbah Surip jauh dari individu yang memiliki ‘potongan’ wajah artis. Namun dari berbagai hal yang melekat pada diri pria penyuka minuman kopi hitam itu didapat banyak pelajaran penting yang dapat kita jadikan pegangan hidup agar menjadi pribadi positif dan dapat diterima masyarakat. Memang jasadnya sudah terkubur, tetapi karya dan sosok Mbah Surip bakal dikenang masyarakat Indonesia. I Love U Full, Mbah Surip!

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Antara Mbah Surip dan Koruptor

Posted in Humaniora on September 9, 2009 by erikpurnama

Rabu, 12 Agustus 2009 (Jurnal Nasional)

Kematian Mbah Surip mengagetkan publik di seluruh Indonesia. Tak ada yang menyangkan sosok sederhana itu begitu cepat dipanggil oleh Yang Maha Pencipta. Memang dari segi usia. Mbah Surip sudah cukup tua dengan berumur 60 tahun. Tetapi di sisi lain, penggemar berat kopi itu baru merasakan 3 bulan kepopuleran dalam dunia bermusik yang melambungkan namanya.

Lagunya yang berjudul Tak Gendong dan Bangun Tidur menjadi hits diputar di radio maupun stasiun televisi. Bahkan lagu yang liriknya simpel dan enak didengar itu menjadi top favorit yang dipilih masyarakat untuk dijadikan ring back tone, yang konon menurut perhitungan hasil yang bisa diraih Mbah Surip mencapai 80 milyar lebih.

Tetapi Mbah Surip tetaplah orang bersahaja yang tak gampang lupa diri. Meski menjadi orang kaya mendadak dan meraih segala materi duniawi, dia tetap tak berubah. Bahkan, dia berencana untuk mendirikan Bank Artis setelah menerima uang royalti hasil penjualan lagunya. Yang lucu lagi, ketika ditanya untuk apa uang sebanyak itu, Mbah Surip cuma menjawab akan digunakan untuk membeli kopi dan gula masing-masing 1 milyar. Sebuah jawaban luar biasa yang muncul dari sosok yang populer mengucapkan I Love U Full.

Yang menjadi catatan di sini adalah contoh keteladanan yang ditunjukkan Mbah Surip agar manusia tak lupa kacang akan kulitnya. Walaupun sudah kaya dan hidupnya berubah drastis setelah memiliki banyak uang, tetapi pria yang identik berpakaian model reggae itu tak mau membelanjakan uangnya demi kepentingan yang tak perlu, malah akan digunakan untuk membalas jasa bagi orang yang dulu sering dimintanya tolong ketika sedang susah. Tetapi dari aktivitas yang dijalaninya itu Mbah Surip tetap hidup dalam bahagia.

Hal berbeda ditunjukkan koruptor. Pencuri uang rakyat itu ketika sudah mendapatkan uang banyak hasil dari menggelapkan dana rakyat, malah digunakan untuk foya-foya dan uangnya dinikmati untuk memenuhi kepuasannya. Banyak contoh yang terjadi yang membuktikan koruptor mengalami perubahan hidup dan lupa daratan setelah menjadi orang kaya baru, meski itu dari cara yang tak benar.

Koruptor rela menghalalkan cara supaya dapat mengeruk uang sebanyak-banyaknya untuk digunakan kepentingan diri maupun kelompoknya, serta menjadi pribadi yang semkain individualis tak mau memikirkan orang lain di sekitarnya, sehingga membuatnya hidup dalam kegelisahan. Apalagi ketika aparat penegak hukum sudah mulai menemukan bukti korupsi yang dilakukan koruptor bersangkutan, yang akan membuat hidupnya serba tak tentram.

Di situlah letak perbedaan antara Mbah Surip dan Koruptor dalam memandang hidup yang saling bertolakbelakang. Meski sama-sama punya uang banyak, tetapi cara yang ditempuh berbeda dan menyikapi materi secara bereda pula. Yang satu tak mengagungkan uang dan malah akan digunakan untuk membantu kepentingan prang lain sehingga hidupnya damai. Sementara satunya lagi mengempulkan uang demi memuaskan nafus pribadi dan akhirnya dalam kecemasan padahal dikelilingi banyak harta.

Erik Purnama Putra
Pegiat Pers Kampus Bestari UMM

Masyarakat Mengadopsi Budaya Barat

Posted in Humaniora on September 9, 2009 by erikpurnama

Senin, 10 Agustus 2009 (Jurnal Nasional)

SALAH satu tantangan berat yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah serbuan budaya barat yang sangat massif menyerang adat ketimuran masyarakat Indonesia. Padahal kondisi itu berakibat pada menurunnya nilai-nilai yang tertanam pada masyarakat, yang berimplikasi pada pudarnya semangat menjaga identitas bangsa. Hal itu tercermin pada semakin menipisnya nilai-nilai sosial masyarakat sebagai akibat gencarnya serbuan budaya barat.

Fenomena munculnya gaya berbicara yang serba ceplas-ceplos dan hilangnya unggah-ungguh dalam tata karma di kehidupan masyarakat adalah salah satu cerminan bahwa generasi muda sudah mulai tertular arus budaya barat. Pada bagian lainnya, realita generasi muda yang gemar mengadopsi budaya luar dengan alasan lebih trendi dan percaya diri membawa akibat pada hilangnya jati diri masyarakat ketimuran yang memegang adat sopan dalam artian di segala bidang.

Lihat saja, mulai model pakaian yang serba minim, yang membuka aurat bagi wanita, dan model pierching (tindik), tato, dan celana jins model ketat yang lagi ngetrend semuanya mudah dijumpai di masyarakat. Kondisi itu adalah salah satu ciri pemuda dan mayoritas masyarakat hingga ke pedesaan yang secara tak langsung menggunakan atribut barat dalam kesehariannya. Indikator itu masih ditambah life style pemuda yang gemar mabuk-mabukan ke kafe atau club, dan memamadat di tempat dugem, yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran agama.

Tetapi, semua itu gejala itu sekarang ini hampir ke semua orang hingga pelosok desa. Hal itu mengacu pada gaya hidup masyarakat Indonesia yang sudah terkontaminasi budaya barat akibat secata tak langsung menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Padahal peradaban timur sangat bertentangan dengan barat, tetapi akibat arus informasi yang sedemikian cepatanya dari barat yang terus diiklankan melalui media massa membuat mau tak mau masyarakat Indonesia turut terpengaruh untuk mengikuti gaya hidup orang barat.

Akhirnya, warga Indonesia banyak yang mengikuti arus menerapkan keseharian konsumtif dengan berbelanja pakaian bermerk yang serba mahal, meskipun sebenarnya tidak terlalu memerlukan pakaian itu. Asalkan bisa senang dan tak dikatakan ketinggalan zaman maka membeli barang-barang mahal tidak jadi persoalan. Akibatnya saat ini hedonisme menggejala dan marak dipraktikkan.

Kaum kaya pergi ke mal dan makan di restoran, sedangkan warga desa bergaya seperti orang kota dalam hal berpakaian meskipun kadang jika dilihat tidak pantas dan terkesan memaksakan diri. Semua itu jelas menjadi pegangan bagi saya untuk menilai bahwa bangsa Indonesia sedang sakit sebab masyarakatnya meninggalkan budaya timur dengan beralih kebarat-baratan yang tak sesuai dalam berbagai bidang kehidupan.

Maka itu, diperlukan sebuah upaya penanganan agar fenomena itu tak semakin menggejala dan merusak tatanan norma aturan yang selama ini sudah dijadikan acuan masyarakat. Sehingga saya berharap kepada pemerintah dan pihak terkait supaya memberikan pendidikan kepada masyarakat agar sadar, karena sekarang ini Indonesia sudah dijajah secara tak langsung oleh negara barat melalui budaya gaya hidup.

Erik Purnama Putra
Aktivis Universitas Muhammadiyah Malang

Keajaiban Taman Nasional Komodo

Posted in Humaniora on Agustus 20, 2009 by erikpurnama

Rabu, 29 Juli 2009 (Jurnal Nasional)

SAAT ini, organisasi New 7 Wonders yang dipimpin petualang Bernard Weber berpusat di Jenewa Swiss, sedang menggelar perhelatan akbar, di mana setiap orang di dunia bisa turut berpartisipasi dalam kegiatan menentukan tersebut. Kesempatan itu terbuka lebar bagi setiap individu yang ingin ikut berpartisipasi dalam ajang pencarian 7 Keajaiban Alam Baru untuk menggantikan yang 7 Keajaiban Dunia lama melalui metode polling.
Caranya yang ingin menyalurkan suara adalah dengan wajib memberikan dukungan suaranya melalui sambungan telepon maupun internet. Babak final dan pengumuman baru diumumkan pada 2011, sehingga setiap warga negara Indonesia hendaknya turut berpartisipasi. Memang masih lama, tetapi hal itu jangan sampai dilewatkan masyarakat sebab dari 28 finalis tempat New 7 Wonders of Nature terpilih, Indonesia termasuk salah satu kandidatnya.
Adalah Taman Nasional Komodo yang berada di Pulau Komodo menjadi calon New 7 Wonders, yang bakal bersaing dengan tempat menakjubkan lainnya di belahan bumi, seperti Grand Canyon (AS), Black Forest ( Jerman), Moher Cliffs (Irlandia), Gunung Kilimanjaro (Afrika), Kepulauan Galapagos (Ekuador), dan Gunung Matterhorn (Swiss). Beberapa kandidat itu merupakan saingan berat Taman Nasional Komodo yang harus disingkirkan agar Pulau Komodo diakui sebagai 7 Keajaiban Dunia Baru melalui jumlah pengumpulan suara terbanyak.
Ikut berpartisipasi merupakan langkah positif jika ternyata nantinya suara kita mampu membuat Pulau Komodo meraih posisi teratas. Karena jika sampai masuk dalam 7 Keajaiban Alam Baru, maka Indonesia akan banyak mendapatkan keuntungan. Di samping akan dipromosikan oleh dunia internasional, juga keberadaan Taman Asional Komodo akan lebih terawat sebab perlindungan yang didapat semakin ketat. Lingkungan pun akan lebih terawat.
Namun tujuan ikut polling tak hanya sebatas itu, sebab keberadaan hewan Komodo merupakan salah satu hewan yang sanggup bertahan dari kepunahan zaman dan tetap dapat beradaptasi dengan lingkungan modern. Sehingga dapat dikatakan kekayaan alam tak ternilai harganya tersebut berada di bumi Indonesia, yakni komodo yang merupakan hewan reptil purba yang sanggup bertahan dari gejala alam yang mampu memusnahkan peradaban kehidupan zaman dulu.
Tak hanya Nusa Tenggara Timur dan Indonesia, saya yakin masyarakat dunia juga mengakui bahwa keberadaan Taman Nasional Komodo merupakan warisan terbesar yang harus dijaga. Karena seperti perkiraan petugas, saat ini di dunia hanya tinggal 4000 ekor komodo yang masih tersisa. Keberadaannya perlu dilindungi agar tak punah seperti dinosaurus.
Kita tentu masih ingat bahwa Indonesia pernah menjadi bagian dari negara yang memiliki 7 Keajaiban Dunia melalui Candi Borobudur yang terkenal kemegahannya tersebut. Namun sayang, dalam kompetisi 7 Keajaiban Buatan Manusia pada 2007, Borobudur terlempar keberadaannya dan tak termasuk lagi sebagai 7 masterpiece dunia akibat tergeser bangunan lainnya.
Maka itu ketika ada satu kesempatan lagi bagi Indonesia untuk menunjukkan kekayaan alamnya maka tak ada salahnya setiap penduduk negeri ini ikut berpartisipasi aktif menyumbang suara agar Taman Nasional Komodo dapat menjadi bagian 7 Keajaiban Alam Baru. Mengingat tentu merupakan kebahagiaan yang teramat sangat dan sekaligus penghargaan sebab keberadaan Pulau Komodo diakui oleh dunia.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Belajar dari Kasus Manohara

Posted in Humaniora on Juni 13, 2009 by erikpurnama

Rabu, 10 Juni 2009 (Jurnal Nasional)

BANYAK pelajaran berharga yang bisa dipetik masyarakat dari kasus yang menimpa Manohara Odelia Pinot yang diperlakukan semena-mena oleh suaminya yang merupakan putra keempat Sultan Kelantan, yakni Pangeran Tengku Temenggong Muhammad Fakhry Petra. Dari kasus tersebut masyarakat dapat memperoleh gambaran bahwa segala bentuk keduniaan, semacam materi, status, dan kedudukan, ternyata tak selalu indah seperti yang diidam-idamkan banyak orang.

Bayangkan, menjadi pendamping istri seorang pangeran dan hidup di kesultanan dengan beragam kemewahan malah membuat Manohara tak menemukan kebahagiaan sejati dalam menjalani setiap aktivitasnya. Hal itu terjadi karena dia diperlakukan tidak manusiawi dan sebagaimana mestinya sebab selalu mendapatkan perlakuan kasar hingga menjurus penganiayaan yang menimpanya.

Manohara yang menikah di bawah umur selama menjadi seorang istri Pangeran Kelantan Malaysia, bukannya diposisikan sebagai wanita yang layak mendapatkan penghormatan. Namun Manohara hanya sebagai simbol wanita pelengkap derita. Sehingga apa yang menimpa Manohara hendaknya mampu menyadarkan kalangan orangtua bahwa jangan sampai silau dengan posisi seseorang. Karena kebahagiaan itu bukan ditentukan oleh materi dan kedudukan semata, melainkan banyak aspek yang lebih dari sekedar nilai itu semata.

Itu untuk mengingatkan masyarakat, mengingat dalam kasus Manohara, pihak ibunya Diasy Fajarina, yang mengapa sampai bisa menikahkan anaknya yang masih belum cukup umur dan selanjutnya dilepaskan begitu saja dengan suami tanpa adanya kontrol dari orangtua, yang membuat terjadinya kasus penyiksaan.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa Manohara juga menguatkan anggapan bahwa di era modern seperti sekarang masih ada saja individu maupun sekelompok orang tertentu yang menganggap perempuan selalu berada di bawah laki-laki. Apalagi mengingat budaya kesultanan masih bersifat tradisional dan feudal yang kurang menghargai peran wanita, sehingga dengan entengnya pihak kesultanan menjadikan perempuan sebagai obyek kekerasan.

Di satu sisi, peristiwa yang menimpa Manohara masih dapat dikatakan bernasib baik sebab dia diliput media massa sehingga perjuangannya menegakkan keadilan bisa diperjuangkan. Namun bagaimana dengan yang menimpa banyak wanita dari golongan ekonomi rendahan dalam rumah tangga yang mengalami perlakuan buruk dari suaminya yang tak bisa berbuat apa-apa. Atau kasus kekerasan dan penyiksaan yang menimpa TKI di luar negeri, pastinya nasib jelek akan terus dirasakan dan tak ada yang memperjuangkan.

Untuk itu, pernyataan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta yang menilai kasus Manohara tak lepas dari kesalahan orangtua juga perlu diperhatikan. Apalagi orangtua Mano berasal dari keluarga terpelajar dan secara ekonomi mampu. Karenanya sudah menjadi tugas orangtua untuk menjaga anaknya.
Yang tak kalah penting, tindakan biadad yang dilakukan Pangeran Fakhry perlu dikutuk sebab tak memperlakukan wanita secara humanis dan diperlakukan seperti binatang, yang menganggap properti hingga bisa seenaknya untuk dipermainkan dan dianiaya dengan melukai bagian tubuhnya.

Erik PP
Mahasiswa Psikologi UMM
Gedung SC Lt.1 Bestari Kampus III UMM

Peduli Nasib Buruh

Posted in Humaniora on Mei 26, 2009 by erikpurnama

Suara Warga, Koran Pak Oles/Edisi 175/16-31 Mei 2009

Buruh selalu berada dalam kooptasi pemilik perusahaan atau pemodal besar. Sehingga tak jarang buruh harus mendapatkan perlakuan tak semestinya, misal gajinya kecil di bawah Upah Minimum Regional (UMR) hingga mendapatkan perlakuan diskriminasi dari bosnya. Karena itu, sering sekali ditemukan berita dari media massa bahwa keberadaan buruh dalam pabrik selalu direndahkan derajatnya dan tak mendapatkan apresiasi atas jerih payahnya secara setimpal.


Harus diakui kalangan buruh kebanyakan berpendidikan rendah dan tak memiliki kemampuan mencukupi sebagai bekal untuk menjadi nilai tawarnya di pabrik tempat di mana dia bekerja. Padahal kondisi itu yang membuat keadaan buruh semakin merana dan tak kunjung bisa memperbaiki kesejahteraan hidupnya. Apalagi banyak perusahaan mempekerjakan buruh di luar batas hingga tenaganya habis terkuras, sementara upahnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Sehingga yang terjadi hampir semua buruh tak berani melawan kesewenang-wenangan bosnya dan memilih diam daripada dipecat, yang tentunya malah akan memperburuh kondisi ekonominya.


Masalah buruh tak hanya itu. Saat ini beberapa perusahaan nakal yang besar menggunakan sistem kontrak pada buruh sehingga tak membebani perusahaan. Kondisi itu berakibat jutaan buruh tak memiliki asuransi kesehatan maupun kecelakaan kerja, yang membuat jika sewaktu-waktu terjadi hal buruk pada tubuhnya maka buruh harus menanggung pengobatan sendiri. Belum lagi tunjangan dihapus dan tak memperoleh pesangon akibat sistem kontrak membuat kehidupan buruh berada dalam lingkaran setan.


Kondisi itu bukannya tak disadari pemerintah. Namun hingga kini penguasa lebih berpihak pada pemilik modal besar dan kurang peka dengan jeritan buruh yang terus mengumandangkan perubahan nasibnya. Buktinya, ketika ada PHK besar-besaran akibat dampak resesi global, pemerintah lebih memilih jalan menyelamatkan makro ekonomi dengan menggelontorkan paket stimulus yang membuat orang kaya betah berinvestasi di Indonesia. Sedangkan pemerintah tak bereaksi keras saat beberapa perusahaan melakukan PHK yang membuat pengangguran dari kalangan buruh semakin merajalela.


Moment hari buruh wajib dijadikan ajang konsolidasi dan titik balik bagi buruh untuk bersatu melawan segala bentuk pelecehan yang kerap diterima dari pemimpin perusahaan. Diharapkan setiap buruh memiliki spirit tinggi untuk dapat mengeluarkan unek-uneknya ketika demo di jalanan agar penguasa negeri ini melihhat realitanya di lapangan.
Tak ada alasan bagi pemerintah untuk tak memperjuangkan nasib buruh dan menindak pihak swasta yang sering mengintimidasi buruh. Jika tidak, buruh akan meluapkan kemarahannya kepada penguasa yang dinilai tak responsif dalam menegakkan aturan ketenagakerjaan. Mengingat sejauh ini kelompok buruh tak pernah mengenyam kehidupan enak sebab gajinya sangat kecil. Alhasil, kita tunggu saja perjuangan buruh dalam menyampaikan tuntutannya pada ajang Mayday lalu. Tetap semangat dan pantang menyerah saya sampaikan kepada buruh atas usahanya tak kenal lelah berjuang!


(Komentar: Erik Purnama Putra, aktivis Pers Koran Kampus Bestari UMM
Gedung SC Lt.1 Bestari Kampus III Unmuh Malang
)