Archive for the Pendidikan Category

Jangan Terpukau Promosi PT

Posted in Pendidikan on Agustus 20, 2009 by erikpurnama

Jumat, 7 Agustus 2009 (Jurnal Nasional)

SEKARANG ini, banyak siswa SMA yang sudah lulus berjuang mencari perguruan tinggi (PT) untuk menempuh jenjang pendidikan selanjutnya. Biasanya di saat seperti itu adalah masa di mana banyak perguruan tinggi swasta (PTS) saling berlomba mengiklankan diri guna menarik minat mahasiswa sebanyak mungkin agar kuliah ditempat PT bersangkutan pascapenerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) ditutup.

Biasanya yang melakukan jor-joran memasang iklan adalah PTS tertentu yang memiliki kemampuan financial cukup, mengingat untuk PT negeri tak masalah karena sudah pasti dijubeli calon mahasiswa. Karena itu, pada masa inilah dapat dikatakan sebagai momen yang paling rawan bagi calon mahasiswa yang akan menuntut jenjang pendidikan di kampus. Pasalnya jika sampai mereka salah pilih universitas, maka hal itu bisa menimbulkan sebuah penyesalan yang berkepanjangan.

Banyak PT yang mengiklankan diri tujuan utamanya adalah untuk menjaring mahasiswa sebanyak-banyaknya.
Banyak segala hal yang dijual PT tersebut yang kadang hal itu terasa berlebihan, dan salah satunya adalah menjual bangunan secara fisik sebagai penarik agar calon mahasiswa tertarik kuliah di tempat itu. Maka itu, kadang yang diiklankan tak sesuai dengan realita yang ada ketika mahasiswa sudah kuliah di situ. Biasanya pada awal masuk kuliah mahasiswa akan disambut dengan senyum ramah, tetapi ketika masa penerimaan mahasiswa baru (maba) berakhir mereka akan dilayani apa adanya.

Di sinilah letak permasalahannya, biasanya banyak lulusan SMA yang langsung terpukau dengan iklan yang ditawarkan PTS. Memang mahasiswa yang masih minim referensi tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas kondisi itu. Tetapi dengan makin gencarnya PTS yang mengiklankan diri di media massa (elektronik dan cetak) membuat banyak calon mahasiswa yang tertarik hingga memilih kuliah di situ.

Program promosi yang dilakukan PTS biasanya sangat beragam, mulai dari kualitas pendidikan dosennya, output yang dihasilkan, saran dan prasarana yang dimiliki, potongan biaya masuk gedung, tawaran beasiswa, hingga jualan gelar nama dosen terkenal, yang tentu saja hal itu pasti memikiat banyak calon maba untuk kuliah di PT tersebut.

Padahal PTS yang baik bukan hanya dilihat dari aspek itu-itu saja. Melainkan juga masih banyak faktor lain yang membuat sebuah PT dapat dikatakan memiliki keunggulan akademik. Pengalaman dari tahun lalu yang banyak memakan korban, di mana banyak mahasiswa yang setelah kuliah di PT yang bersangkutan akhirnya mengeluh karena segala sarana yang dijanjikan selama promosi ternyata tak didapatkan selama kuliah berlangsung.

Karena sudah banyak mahasiswa yang akhirnya hanya bertahan satu semester di PTS karena apa yang diterimanya selama kuliah ternyata tidak sama dengan apa yang dijanjikan selama promosi. Kita tak bisa menyalahkan sepenuhnya PT bersangkutan, sehingga dari diri sendiri yang sekarang harus berhati-hati dan tak mudah percaya dengan segala penawaran promosi yang disedikan PT. Boleh-boleh saja PT menjual nama dosen terkenal atau guru besarnya, namun hal itu bukan merupakan sebuah jaminan mutu seratus persen bahwa di PT tersebut kualitasnya memang baik dan layak untuk anda kuliah di situ.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

Iklan

Sarjana Nganggur Akibat Kelalaian Semasa Kuliah

Posted in Pendidikan on Agustus 20, 2009 by erikpurnama

Selasa, 4 Agustus 2009 (Surabaya Post)

Data Dirjen Dikti Depdiknas tahun 2008 menyebutkan bahwa jumlah pengangguran terdidik di Indonesia mencapai 2 juta orang. Angka itu terdiri 1,2 juta bergelar sarjana, dan diploma berjumlah 800 ribu. Angka itu dianalisis banyak pakar ekonomi akan terus bertambah seiring resesi global yang membuat pertembuhan ekonomi negeri ini menurun akibat nilai investasi, baik asing maupun dalam negeri yang menanamkan modalnya di Indonesia berkurang dibanding tahun sebelumnya.

Kondisi mengerikan yang membuat banyak sarjana maupun calon sarjana menjadi ketakutan sebab ternyata lapangan kerja yang tersedia jumlahnya tak sebanding dengan angkatan kerja yang jumlahnya terus meningkat. Maka itu tak salah saya menilai bahwa sudah saatnya bagi mahasiswa yang belum menjadi sarjana agar semasa kuliah mampu memaksimalkan segala waktunya untuk meningkatkan skill sebagai bekal mengarungi dunia kerja setelah lulus nanti.

Hal itu penting dilakukan supaya mahasiswa tak kaget dengan dunia kerja yang sangat jauh berbeda dengan dunia kampus. Mengingat saat ini tuntutan industri semakin berat dan hanya pencari kerja yang memiliki kualifikasi sesuai yang bakal terserap dunia kerja. Dan supaya skill yang dimiliki mahasiswa sinkron dengan tuntutan pasar kerja maka mahasiswa harus menempa dirinya dengan berbagai usaha selama masih berstatus mahasiswa.

Bukannya seperti selama ini, seperti pengalaman yang saya jumpai, di mana semasa masih mahasiswa banyak individu hanya terlibat perkuliahan semata. Setelah aktivitas proses belajar mengajar di kelas dengan dosen selesai banyak yang ltak menempa dirinya aktif di organisasi. Padahal tak sedikit pula yang ketika mengikuti perkualihan hanya duduk dan pasif mendengarkan dosen berbicara panjang lebar. Sehingga ilmu yang didapat tak maksimal.

Kondisi bertambah parah ketika melihat fenomena mahasiswa datang ke kampus hanya untuk mengikuti rutinitas perkuliahan. Namun di luar itu, waktu senggangnya hanya diisi dengan kegiatan nongkrong sambil bicara ngalor ngidul dengan sesama temannya. Sementara untuk sekedar meluangkan waktu berkunjung ke perpustakaan sebagai gudang ilmu tak sempat dilakukan.
Waktu luangnya pun tidak untuk digunakan dengan diisi berbagai kegiataan bermanfaat seperti aktif di organisasi, mengikuti berbagai seminar atau forum kajian ilmiah yang termasuk kegiatan positif. Yang terjadi semasa mahasiswa hanya bersenang-senang dan tak mempedulikan tujuannya untuk mendapatkan ilmu bermanfaat sebagai bekal mengarungi dunia kerja setelah meraih titel sarjana.

Maka itu, ketika sudah mengantongi gelar akademik yang cukup bergengsi sekali pun sering terjadi seseorang masih kesulitan mendapatkan kerja sebab tak punya skill mumpuni yang menjadi tuntutan mutlak dunia kerja. Jika seperti itu, tak ada lagi yang bisa diperbuat karena semuanya sudah terlambat. Dan kondisi itu yang sekarang ini dialami banyak sarjana ketika memasuki dunia kerja dengan modal ijazah semata, yang membuat pengangguran bertambah. Di waktu bersamaan, banyak pula perusahaan yang kesulitan mendapat tenaga kerja akibat minimnya skill yang dimiliki tenaga kerja.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang
erikeyikumm@yahoo.co.id

Hindari Tayangan Televisi Tak Bermanfaat

Posted in Pendidikan on Agustus 20, 2009 by erikpurnama

Senin, 3 Agustus 2009 (Jurnal Nasional)

Indonesia dijuluki sebagai surga sinetron. Tak salah jika karakter masyarakat Indonesia mendayu-dayu dan mudah terhanyut dalam situasi emosional seperti yang ditunjukkan artis di televisi. Akibatnya, budaya masyarakat Indonesia sangat permisif dan terlihat terlalu mudah merasa kasihan dengan orang lain, bahkan kepada koruptor pun kadang masyarakat tak tega melihat mereka di penjara setelah kamera televisi menyorot raut muka koruptor yang kelihatan menandakan penyesalan.

Boleh saja analisis saya dianggap terlalu prematur dan menggenalisir, tetapi faktanya seperti itu. Lihat saja, tak sedikit masyarakat sampai terbawa emosi melihat akting artis dalam menjalankan perannya di sinetron. Bahkan dalam tayangan reality show, tak sedikit pula penonton sampai ikut menahan marah atau jengkel mengikuti alur cerita yang disetting sedemikian rupa oleh produser yang membuat antarpemain saling bertentangan hingga kadang sampai berkelahi.

Tetapi menggelikannya, penonton antara sadar atau tidak terus saja mengikuti perkembangan acara televisi dan tak mau barang satu episode pun ketinggalan tak menonton. Hal itu semakin membuat banyak masyarakat lupa daratan dan terkenang-kenang acara televisi yang dilihatnya tersebut, baik sinetron, reality show, maupun telenovela, yang semuanya tak jauh dari hiburan yang tak mendidik.

Akibatnya, saat ini banyak terjadi perubahan dalam diri masyarakat yang mudah sekali berubah penilaian terhadap orang, yang penilainnya kadang hanya berdasar pada apa yang dilihat. Misalnya, koruptor yang jelas-jelas menggelapkan uang rakyat yang tertangkap, malah dikasihani dengan alasan kasihan atau tidak tega melihat orang itu di penjara. Gawatnya lagi, anak muda yang sudah terlanjur menjadi penggemar berat acara televisi banyak yang mempraktikkan tingkah laku sang idola atau adegan cerita dalam televisi, mulai percintaan, gaya hidup mewah, hingga memaki-maki orang lain. Yang kesemuanya tak ada sisi positifnya bagi diri sendiri maupun orang lain. Namun fenomena itu sudah menggejala dan sulit dipisahkan dari masyarakat Indonesia.

Dari sekian banyak acara yang ditampilkan televisi, sinetron mendapatkan perhatian paling banyak dari pemirsa, dan itu dapat dibuktikan dengan rating tertinggi yang selalu diraih tayangan sinetron khususnya percintaan. Bukti lainnya adalah gencarnya sinetron yang ditayangkan mulai pagi ketika orang akan beraktivitas hingga malam saat orang akan beristirahan, yang ditayangkan terus-menerus tanpa jeda.

Tidak berlebihan kondisi itu terjadi sebab sebagian besar stasiun televisi menayangkan sinetron yang kebanyakan ceritanya tak dapat dilogikan dan jauh dari realita di masyarakat. Kondisi itu merupakan cerminan tayangan tidak mendidik bagi masyarakat Indonesia yang kebanyakan pendidikannya masih rendah sehingga gampang menerima sugesti dari sinetron tanpa mencerna terlebih dulu kebenarannya.

Maka itu, saya khawatir jika sinetron dan semacamnya tidak dibatasi akan memberikan dampak negatif bagi masyarakat, yang pikirannya cuma diisi hiburantak mendidikan sebab melulu melihat acara sampah. Karena itu, saya sarankan mulai sekarang agar masyarakat peduli dan sadar bahwa tayangan seperti itu semua tak ada gunanya dan lebih baik mematikan televisi daripada terus dibohongi acara hiburan yang tak bermanfaat.

Erik Purnama Putra
Pelajar Psikologi UMM

PAUD, Sarana Mencetak Generasi Emas

Posted in Pendidikan on Agustus 20, 2009 by erikpurnama

Jumat, 31 Juli 2009 (Jurnal Nasional)

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia masih belum banyak mendapatkan perhatian. Berkat informasi yang kurang gencar tersebut keberadaan PAUD menjadi tidak familiar di masyarakat.Karena itu jarang sekali ditemukan orangtua yang peduli untuk memberikan PAUD kepada anaknya sebelum menginjak pendidikan sekolah dasar (SD).

Di negeri ini, banyak orangtua yang masih belum paham akan pentinganya pendidikan bagi anak ketika masih kecil (balita). Padahal kondisi itu tak bisa diremehkan. Mengingat pendidikan semasa di usia dini akan berpengaruh terhadap perkembangan anak. Kita tentu mengenal istilah golden age (masa emas), artinya pada rentang umur di bawah lima tahun anak perlu mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan karakternya. Pendidikan yang bukan hanya mengedepankan aspek kognitif (daya pikir) semata, melainkan psikomotor (berkaitan hasil karya) dan afektif (respon, sikap, dan minat) yang selama ini terabaikan.

Pasalnya, pendidikan anak yang berkembang saat ini cuma berkutat pada pembelajaran kognitif. Dan hasilnya ketika menginjak dewasa mereka tak bisa menjadi pribadi sukses dan condong berorientasi pada satu bidang akademik saja. Fakta itu tentu sudah menggejala dan banyak terjadi pada generasi muda, baik siswa maupun mahasiswa yang bangga dengan nilai tinggi, tetapi kurang mampu mengembangkan skill lain yang sebenarnya lebih dibutuhkan sebagai modal mengarungi kompetisi belajar atau kehidupan.

Karenanya sebelum kesalahan terjadi lebih jauh, sudah sepatutnya pihak sekolah dan pengawas pendidikan mengupayakan pembentukan satuan kurikulum yang mampu mewadahai segala aspek kemampuan anak didik. Itu penting agar perkembangan anak PAUD bisa lebih maksimal dan merata di semua aspek pendidikan. Padahal tujuan pendidikan yang mulai bukan seperti itu, melainkan harus memenuhi banyak aspek seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara.

Untuk itu, pentinganya setiap orangtua menyekolahkan anaknya sebelum masuk sekolah formal dengan berbagai keuntungan psoitif yang bakal didapat. Menyiapkan mental sebelum menempuh pendidikan di SD sangat penting dan tak boleh ditinggalkan begitu saja. Alangkah baiknya jika orangtua turut memperhatikan pendidikan anak di PAUD supaya mampu lebih siap ketika menghadapi pendidikan di SD.

Karena kesuksesan program PAUD bukan diukur dari banyaknya siswa yang mampu menyelesaikan soal tes akademik, melainkan semua kompetensi berkaitan dengan kemampuan daya kritis, rasa sosial, dan kasih sayang terhadap teman-temannya. Karena apalah artinya berhasil di bidang akademik namun dalam perkembangannya si anak tak mempunya rasa kepekaan sosial dan individualis dalam menjalani kehidupannya. Sehingga selepas dari PAUD, setidaknya ketika memasuki gerbang sekolah dapat memiliki kemampuan lebih.

Berpatokan itu, anak kecil adalah calon generasi penerus bangsa yang akan menggantikan generasi sekarang. Tentu dengan memberikannya pendidikan cukup dan sesuai dengan karakteristiknya akan mampu membuatnya menjadi pribadi yang berkembang benar dan menjadi generasi yang sehat pikirannya.

Erik Purnama Putra
Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang
Gedung SC Bestari Kampus III UMM

Pendidikan Gratis Harus Dikawal

Posted in Pendidikan on Mei 26, 2009 by erikpurnama

Senin, 18 Mei 2009 (Jurnal Nasional)

BEBERAPA hari terkahir di media massa gencar sekali diiklankan mengenai program pendidikan gratis selama 9 tahun oleh pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Bahkan, tak tanggung-tanggung, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo, turut serta menjadi tokoh dalam iklan yang menyuarakan agar anak-anak bisa sekolah. Hal itu bisa digunakan pegangan bahwa pemerintah memang serius mengupayakan terciptanya pendidikan gratis mulai jenjang SD hingga SMP agar bisa terealisir.

Kondisi itu patut disyukuri oleh seluruh masyarakat Indonesia karena dinilai dari sudut manapun penyelenggaraan pendidikan gratis pasti bagus dan bakal menuai dampak positif bagi kehidupan manusia. Lihat saja sekarang, kehidupan masyarakat yang mengenyam pendidikan dan yang tak pernah merasakan pendidikan hidupnya sangat bertolak belakang.

Bisa dikatakan malah berbeda total, di mana yang pernah memperoleh pendidikan hidupnya lebih tertata dan memiliki cara pandang luas, serta hidupnya jauh lebih baik. Sedangkan yang tak pernah mengenyam pendidikan tetap terkukung dalam kemiskinan dan pemikirannya tetap terbelakang. Memang tidak semuanya seperti itu, namun harus diakui secara keseluruhan kenyataannya seperti itu. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan akan membawa dampak perubahan bagi aktivitas manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Tetapi ada saru catatan yang harus diperhatikan Depdiknas menyangkut biaya penarikan uang administrasi oleh pihak sekolah. Karena jika pendidikan gratis sudah diterapkan, sedangkan di sisi lain pihak sekolah dengan dalih beragam tetap menarik iuran dan melakukan pungutan biaya gedung atau semacamnya, seperti pembelian baju sekolah baru dan buku pelajaran maka itu sama saja sebagai bentuk pemerasan. Sehingga pendidikan gratis baru dalam tahap wacana karena antara kebijakan dan pelaksanaan tidak saling sinkron. Karena selama ini sudah banyak kejadian semacam itu, tak terkecuali program BOS, yang di mana siswa tetap ditarik biaya aneh-aneh yang membuat program BOS tak dirasakan manfaatnya oleh siswa.

Untuk itu kebijakan program gratis 9 tahun harus dikawal dan jika ditemukan pelanggaran di tingkat sekolah maka Depdiknas bisa turun tangan untuk melakukan tindakan semestinya sebagai upaya agar memberikan pelajaran bergarga pada sekolah lainnya supaya tak melakukan tindakan bandel. Karena sangat disayangkan bila pemerintah sudah menghabiskan biaya besar dengan gembar-gembor iklan, tetapi dalam kenyataannya pendidikan gratis hanya sebatas gaung yang tak dilaksanakan setiap komite sekolah SD maupun SMP.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa UMM

Gedung SC Lt.1 Bestari Kampus III Unmuh Malang

Mengapresiasi Pendidikan Gratis

Posted in Pendidikan on Mei 15, 2009 by erikpurnama

Suara Konsumen, Sabtu, 2 Mei 2009 (Surabaya Post)

Baru-baru ini di televisi gencar ditayangkan iklan yang memuat rencana pemerintah melalui Depdiknas yang mengumumkan bahwa mulai 2010, seluruh siswa sekolah dapat menempuh pendidikan gratis selama 9 tahun (SD dan SMP). Pernyataan yang disampaikan Mendiknas Bambang Sudibyo boleh dibilang sebagai kebijakan sensasional dan merupakan kabar gembira bagi masyarakat di tengah tertatihnya dunia pendidikan Tanah Air.

Pasalnya, sudah menjadi rahasia umum jika selama ini masyarakat kelas bawah kesulitan untuk mengakses pendidikan sehingga terkesan yang mampu menikmati pendidikan hanya golongan menengah atas. Karena itu dampaknya bagi bangsa Indonesia kurang baik sebab tak semua anak bisa sekolah. Di sisi lain jumlah siswa yang harus putus sekolah di tengah jalan semakin meningkat. Maka itu, tindakan Depdiknas menggratiskan biaya sekolah di tingkat SD dan SMP perlu didukung seluruh elemen bangsa sebagai upaya mengatasi permasalahan pendidikan Indonesia.

Hebatnya, kabar bagusnya tak berhenti sampai di situ, karena nantinya siswa juga dibiayai segala perlengkapan kebutuhan sekolah melalui program Biaya Operasional Sekolah (BOS). Selain itu, Depdiknas mesti mengawal penyaluran dana hingga ke tingkat sekolah dan membuat aturan bahwa pihak komite sekolah tak boleh menarik iuran apapun dari siswa. Hal itu supaya tak memberatkan orangtua. Dan jika ketahuan melanggar, Depdiknas jangan segan untuk menghukum oknum bersangkutan sesuai aturan berlaku.

Karena pengalaman sebelumnya meskipun pemerintah telah menggelontor sekolah melalui program BOS, tetapi terkesan pihak sekolah menyiasatinya dengan membuat aturan lain yang memberatkan siswa. Dampaknya, BOS diberikan, namun tetap saja biaya sekolah yang harus dibayarkan orangtua tetap banyak karena harus membayar berbagai administrasi dan buku yang dijual sekolah.

Berkaca dari beratnya biaya yang harus ditanggung siswa membuat semakin banyak jumlah yang putus sekolah akibat biaya mahal. Diharapkan pemerintah harus mengawal program pendidikan gratis supaya tak menyimpang dari ketentuan. Sehingga pendidikan gratis bisa benar-benar diwujudkan di Indonesia secara merata dari Sabang hingga Merauke.

Meskipun ada beberapa pihak menilai langkah pemerintah itu hanya untuk menaikkan popularitas Presiden SBY. Namun tak bisa dielakkan dan wajib diakui jika kebijakan pemerintah menggratiskan biaya sekolah selama 9 tahun merupakan langkah progresif guna mewujudkan generasi penerus lebih terdidik dan bermutu.

Itu penting sebagai modal bangsa ini meningkatkan derajatnya agar dipandang sebagai negara berpengaruh sebab jika masyarakat kita tak terdidik maka Indonesia akan ditinggalkan dalam percaturan global. Belajar dari pengalaman, semoga kali ini gebrakan pemerintah yang propendidikan bisa berefek luas bagi peningkatan mutu dunia pendidikan Tanah Air.

Erik Purnama Putra

Mahasiswa UMM

erikeyikumm@yahoo.co.id

Tragedi Malang, Cerminan Pejabat Abai Pendidikan

Posted in Pendidikan on Mei 15, 2009 by erikpurnama

Suara Pembaca, Selasa, 14 April (Surabaya Pagi)

Dunia pendidikan Tanah Air pada 2009 sedang berbahagia karena untuk pertama kalinya sejak bangsa Indonesia merdeka anggaran pendidikan dalam APBN dipenuhi sesuai amanat konstitusi sebesar 20 persen. Sehingga dapat disebut jika pemerintah ingin memanjakan pendidikan dengan memberikan porsi dana belanja paling besar dibanding bidang lainnya. Tujuan pemerintah meningkatkan alokasi bidang pendidikan supaya kesejahteraan guru terangkat dan dikuti peningkatan kualitas proses pengajaran transfer ilmu kepada muridnya hingga menciptakan peningkatan kualitas akademik siswa.

Sayangnya, kebijakan bagus pemerintah pusat tak diikuti pemerintah Kabupaten Malang (Pemkab) Malang. Buktinya, di saat pemerintah pusat getol membelajankan anggaran untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan, Pemkab Malang malah berbuat sebaliknya. Sehingga yang terjadi adalah ketidaksinkronan dan saling bertabrakan antara kebijakan pemerintah pusat dengan daerah. Efeknya, nasib dunia pendidikan tak kunjung beranjak membaik.

Adalah kasus diangkutnya kembali mebelir di beberapa sekolah dasar negeri (SDN) di wilayah Kabupaten Malang, oleh pihak pengrajin menjadi akar persoalannya. Karena merasa tidak puas atas tak dibayarnya hasil kerjanya, maka produsen bangku dan kursi sekolah mengangkut kembali barangnya yang sudah dua tahun ini ditempatkan di 33 kecamatan yang ada di daerah Kabupaten Malang. Kejadian itu patut disesalkan mengingat proses pengambilan bangku dan kursi siswa dilakukan di saat jam pelajaran kelas masih aktif.

Setelah ditelusuri peristiwa itu terjadi karena pengrajin merasa diperlakukan tak adil dengan tak kunjung juanya Pemkab Malang membayar melalui rekanan yang ditunjuk, yang akhirnya pihak pembuat mebelir muntab dan mengambil bangku serta kursi saat murid SD sedang belajar di kelas. Sehingga banyak siswa yang sampai menangis karena berusaha mempertahankan tempat duduknya. Padahal mereka itu masih kecil dan harus berjuang melawan tenaga orang dewasa, yang membuat saya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan siswa SD yang bangkunya diambil dengan paksa.

Menyikapi itu, Bupati Malang, Sujud Pribadi, seolah tak ambil pusing dengan kejadian yang mencoreng institusi yang dipimpinnya. Faktanya, orang nomor satu di lingkungan pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Malang, malah tak kunjung mengeluarkan kebijakan yang dapat menenangkan hati masyarakat, khususnya siswa dan guru SD yang sudah menjadi korban tidak responsinya Pemkab Malang hingga sarana pendukung kegiatan pembelajaran di kelas diangkut pengrajin. Padahal kasus yang mencoreng muka dunia pendidikan itu sudah berlangsung dua minggu lebih dan sampai saat ini belum ada langkah konkret yang diambil bupati.

Yang mengkhawatirkan, ketika kalangan pecinta pendidikan dan akademi menyuarakan keprihatinannya dan membantu dengan memberikan pinjaman bangku sekolah, Sujud Pribadi saat kejadian itu masih ramai diperbincangkan masyarakat malah meninggalkan Kabupaten Malang demi memenuhi undangan kampanye partai pendukungnya di Jember. Berkaca dari itu, masyarakat bisa dengan fair menilai jika penguasa Kabupaten Malang tak peduli dengan nasib yang dialami siswa SD, karena lebih mengedepankan kepentingan pribadinya daripada mengurusi persoalan yang saya nilai lebih mendesak sebab wajib membutuhkan penanganan segera.

Lebih gawat lagi, di saat tak kunjung juga menemukan solusi atas nasib tak terurusnya siswa SD di Ampelgading dan Bulululawang yang bangku maupun kursi di kelasnya diambil paksa oleh produsen mebel, Sujud Pribadi beserta jajaran bawahannya masih sempat-sempatnya akan meninggalkan wilayahnya dengan alasan akan melakukan balasan kunjungan studi banding ke salah satu kabupaten baru hasil pemekaran di Sumatera Utara. Kenyataan itu menimbulkan sikap antipati masyarakat yang semakin membuncah kepada bupati yang dinilai tak punya nurani dan etika dalam menjabat sebagai kepala daerah.

Mungkin karena berpikir cekak, sebelumnya Sujud Pribadi dengan entengnya berkomentar yang isinya sangat tak apresiatif untuk mencari jalan keluar atas masalah yang mengguncang psikologis calon generasi bangsa itu. Pasalnya, bukannya membuat kebijakan produktif di tengah keadaan mendesak, bupati malah menebar ancaman ke pihak pengrajin akan membawa kasus itu ke ranah hukum. Dan bilang jika masyarakat tak tahu secara pasti akar persoalan yang sebenarnya sehingga banyak yang berlebihan menyikapi kasus penarikan bangku sekolah.

Sehingga sangat wajar bila publik tambah geregetan dengan sikap Sujud Pribadi yang dinilai mokong dan tak punya rasa tanggungjawab. Pasalnya, masyarakat sekarang sedang menunggu kebijakan solutif yang dibuat Pemkab Malang melalui Dinas Pendidikan (Diknas) guna mencegah ekses buruk terhadap murid SD. Idealnya Pemkab Malang bisa segera mengambil tindakan tegas dan solutif untuk mengatasi masalah tersebut agar tak semakin banyak siswa lainnya yang mengalami peristiwa tak mengenakkan tersebut. Bukannya sibuk mengumbar komentar yang tak perlu ke pihak lain tanpa mencari solusi. Itu penting supaya kasus penyitaan bangku tak semakin membuat murid SD tertekan dan tak selamanya belajar hanya beralaskan tikar atau duduk di atas tanah yang dilapisi karpet.

Saya sendiri sangat jengkel ketika bupati beserta wakilnya tak sekali pun menyinggung bahwa masalah yang terjadi itu telah mencoreng citra mereka dan menganggap semua itu hanya masalah kecil. Jika benar pikiran pemimpin Pemkab Malang seperti itu, maka dapat saya simpulkan jika penguasa tak memiliki pemikiran yang bagus dan bijka. Dan sebaliknya, menunjukkan betapa rendah dan tak berkualitasnya cara berpikir yang bersangkutan dalam menangani masalah yang benar-benar mencoreng dunia pendidikan. Karena hingga sekarang bupati terkesan tak mendengar aspirasi publik yang getol mengkritiknya, yang dibiarkannya berlalu begitu saja.

Di samping itu, masyarakat juga seperti dikibuli oleh pemimpinnya mengingat saat kampanye pemilihan bupati dulu Sujud pernah berjanji akan memajukan pendidikan di wilayah Kabupaten Malang jika kembali terpilih. Namun sayang, dia tak ingat dengan ucapannya sendiri ketika sudah duduk di kursi empuknya. Sehingga dapat disebut jika Pemkab Malang, khususnya bupati dan wakilnya tak bisa menyelesaikan permasalahan mebelir dengan baik, yang dibuktikan dengan tak ambil pusingnya pejabat Pemda Kabupaten Malang yang membiarkan masalah tersebut berlarut-larut hingga saat ini.

Erik Purnama Putra

Pelajar Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang dan Aktif Bergiat di Pers Kampus Bestari