Archive for the Pertanian Category

Negeri Agraris Terancam Krisis Pangan

Posted in Pertanian on Mei 2, 2009 by erikpurnama

Suara Konsumen, Rabu, 11 Maret 2009 (Surabaya Post)

Indonesia pernah dijuluki sebagai negeri zamrud khatulistiwa berkat kesuburan tanahnya. Apapun biji yang ditanam di tanah pasti akan hidup dan berkembang. Hal itu adalah membuktikan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki potensi besar untuk menjadi bangsa yang maju dan mamur. Pasalnya dengan segala kekayaan alamnya sebenarnya Indonesia mampu untuk menyejahterakan rakyatnya.

Sayangnya, segala potensi yang ada itu telah melenakan penguasa selaku pemimpin tertinggi bangsa ini. Kesuburan tanah yang dipunyai Indonesia tak digarap dan dimaksimalkan secara serius yang berdampak pada makin sulitnya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Kondisi itu terjadi karena saat ini dunia sedang dilanda krisis pangan dan mengancam setiap negara yang tak memiliki kekuatan pangan nasional memadai guna menghadapi badai krisis pangan tersebut. Dan salah satu negara yang berpotensi terkena krisis pangan itu adalah Indonesia.

Aneh tapi nyata. Indonesia yang disebut sebagai negeri agraris ternyata harus pontang-panting menghadapi gejolak krisis pangan yang tengah melanda dunia. Krisis pangan yang bakalan mengancam kelangsungan hidup penduduk bumi sudah di depan mata. Di samping harga pangan dunia yang melonjak drastis, juga dibarengi dengan makin sulitnya masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok. Semua itu terjadi karena pemerintah kita yang tak tanggap dengan isu global tentang gejolak krisis pangan yang menjadi ancaman utama penduduk bumi di samping krisis energi.

Pemerintah tidak ada upaya untuk melakukan antisipasi dengan melakukan kebijakan deversifikasi kebijakan pangan. Sehingga ketika harga pangan melambung tinggi dan banyak rakyat miskin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan perutnya, pemerintah hanya sanggup melakukan operasi pasar atau membuat kebijakan yang itu sifatnya parsial dan tidak menyelesaikan masalah.

Sangat disayangkan jika Tanah Air ini harus menaggung beban berat akibat krisis pangan global. Seandainya pemerintah memiliki wawasan yang cukup futuristik dan visioner, Indonesia bakalan tak kalang kabut menyikapi krisis pangan global, karena dengan alamnya yang subur pasti Indonesia akan dapat mencukupi kebutuhan pangan rakyat.

Memang saat ini pemerintah mengumumkan Indonesia sudah swasembada beras. Namun bencana demi bencana yang terus terjadi membuat stok beras menjadi berkurang drastis sebab banyak petani yang akhirnya gagal panen. Ditambah banyak barang kebutuhan pokok lainnya yang harus diimpor pemerintah guna mencukupi kebutuhan dalam negeri membuat ancaman krisis pangan semakin nyata. Apalagi harga sembilan kebutuhan pokok yang didengungkan pemerintah turun, ternyata dari waktu ke waktu terus melambung membuat penderitaan rakyat di negeri ini semakin bertambah. Konsekuensinya, jumlah rakyat yang melarat makin bertambah dan penderitaan yang ditanggung juga makin besar.

Menyikapi kondisi itu, pemerintah harus secepatnya turun tangan untuk meringankan beban kehidupan masyarakat kelas bawah. Sudah seharusnya pemerintah melakukan gerakan revitalisasi pertanian yang selama ini diabaikan. Bayangkan saja, sejak awal kemerdekaan hingga sekarang nasib dan kesejahteraan petani terus terpuruk karena tak adanya perhatian dari pemerintah. Namun walaupun selalu dianaktirikan, golongan petani tetap saja bercocok tanam.

Dari asumsi di atas dapat dikatakan bahwa sektor pertanian merupakan sektor yang penting untuk dijadikan sebagai basis membangun negara. Di tengah kenaikan harga pangan dan ancaman krisis pangan, pemerintah Indonesia diharapkan melirik kembali sektor pertanian untuk dikembangkan dan dijadikan sebagai sektor andalan mengatasi kemiskinan dan pengangguran.

Tak bisa ditawar lagi, fakta di lapangan membuktikan kenaikan harga pangan dunia bisa disiasati dengan menggelorakan masyarakat untuk mengoptimalkan lahan pertanian. Pasalnya sangat memalukan jika Indonesia yang menyandang sebutan negara maritim harus terpuruk dalam masalah krisis pangan. Karena itu, sebagai negara yang diberkahi alam subur sudah sepatutnya Indonesia mawas diri dan menjadikan pertanian sebagai pondasi utama dalam pembangunan.

Erik Purnama Putra

Jurnalis Koran Bestari UMM

Iklan

Perhatikan Nasib Petani

Posted in Pertanian on November 24, 2008 by erikpurnama

Forum Pembaca, Selasa, 25 November 2008  (Duta Masyarakat)petani-protes

Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia sudah musim penghujan. Bagi petani, yang kebanyakan menanam padi, kondisi itu dijadikan tanda bahwa masa tanam telah tiba. Sehingga mereka harus segera ke sawah untuk mulai menanam bibit.

Sayangnya, seperti tahun sebelumnya, petani selalu mengalami masalah terkait datangnya musim tanam itu. Yaitu, kendala sulitnya mendapatkan pupuk sebagai syarat menanam bibit. Karena tanpa pupuk mustahil bagi petani untuk bisa mengharapkan bibit tanamannya dapat tumbuh maksimal untuk mendapatkan hasil bagus ketika panen.

Masalah kelangkaan pupuk di setiap masa tanam sebenarnya persoalan klise yang terus berulang setiap tahunnya. Banyak faktor yang membuat pupuk sulit ditemukan di pasaran. Di samping alur distribusi yang kurang lancar dan tidak adanya pengawasan ketat dari piha berwenang, juga banyak distributor yang sengaja menimbun pupuk demi mencari keuntungan semata.

Karena itu, ketika musim tanam tiba, pupuk sulit ditemukan di pasaran. Namun, jika kondisinya sudah seperti itu, para spekulan pupuk akan melemparkan stok pupuk yang sudah ditimbunnya itu untuk dijual ke petani dengan harga lebih tinggi dari Harga Eceran Tertinggi (HET) ketika petani sudah terdesak untuk segera memberikan pupuk kepada tanaman bibitnya.

Karena tidak ingin terjadi puso (gagal panen), petani mau tidak mau harus membeli pupuk di atas HET sesuai harga yang ditetapkan pemerintah. Hal itu jelas merugikan petani yang selalu menjadi korban permainan makelar penyalur pupuk. Pasalnya, petani tidak bisa berbuat apa pun, sementara pemerintah daerah (pemda) sendiri terkesan kurang tanggap dengan permasalahan di lapangan. Sehingga baru memasuki musim panen saja petani sudah harus keluar ongkos banyak demi menjalankan pekerjaan mulianya. Yaitu, menanam bibit di sawah.

Seperti yang terjadi di Malang dan Madiun. Banyak petani yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi. Jika pun ada, harganya di tingkat kios sudah tidak terjangkau kocek petani. Hal itu menyebabkan petani harus menanggung beban berat, karena belum-belum sudah terkendala melangitnya harga pupuk. Tetapi, dengan terpaksa petani tetap harus membeli pupuk mahal tersebut demi menghindari resiko kerugian lebih besar.

Kondisi itu jelas merupakan beban berat bagi banyak petani di Tanah Air. Di samping biaya produksi bakal meningkat, sulitnya petani mendapatkan pupuk di setiap musim tanam membuat mereka harus pontang-panting mendapatkan gizi tanaman tersebut.

Padahal, Indonesia adalah negeri agraris yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani. Namun, kebijakan pemerintah yang masih belum berpihak pada petani membuat mereka harus senantiasa tabah menghadapi cobaan hidup.

Meskipun pemerintah berkuasa saat ini sudah mengeluarkan aturan yang pro petani, namun dalam implementasinya kadang banyak menemui jalan terjal. Sehingga kebijakan itu ketika sampai di tataran petani tingkat bawah banyak yang tidak mendapatkan manfaat positif kebijakan itu sama sekali.

Tengok saja masalah langkanya pupuk di pasaran saat musim tanam tiba. Hal itu jelas merupakan preseden buruk bagi petani yang sudah menanam bibit. Sehingga meskipun pemerintah sudah berupaya membuat daftar HET jenis pupuk, namun petani tetap tidak merasakan manfaatnya karena faktanya harga pupuk jauh melambung tinggi.

Meskipun begitu, banyak petani yang tetap gigih menggeluti pekerjaannya dan tidak menyerah dengan keadaan yang sering tidak berpihak padanya. Karena itu, perjuangan petani yang terus konsisten dalam melawan segala hambatan pada musim tanam tersebut patut diapresiasi.

Petani adalah profesi mulia yang selama ini kurang dilirik pemerintah, karena lebih mengistimewakan sektor industri. Sudah saatnya pemerintah mendengar keluh kesah petani dan jangan sekali pun mengabaikan tuntutan mereka. Karena petani merupakan produsen dan penyuplai makanan bagi seluruh penduduk Indonesia.

Erik Purnama Putra

Anggota Forum Diskusi Ilimiah UMM

Gedung SC Lt.1 Bestari UMM, Malang

e-Mail: erikeyikumm@yahoo.co.id