Archive for the Resensi Buku Category

Mewujudkan Mimpi Jadi nyata

Posted in Resensi Buku on September 9, 2009 by erikpurnama

Selasa, 25 Agustus 2009 (Koran Jakarta)

Jangan pernah sekalipun meremehkan kekuatan mimpi. Kalimat bernada motivasi itu akhir-akhir ini sangat populer didengungkan semua orang dari berbagai lapisan yang ada di masyarakat.

Bahkan dalam lagu Laskar Pelangi yang dinyanyikan Nidji, mimpi adalah kunci menaklukkan dunia. Maka itu, tak ada salahnya bagi setiap orang untuk memunyai mimpi yang mesti dikejar mengingat tak ada yang melarang seseorang untuk bercita-cita setinggi langit.

Novel Negeri 5 Menara membuktikan bagaimana sebuah mimpi mampu mengantarkan “pemimpi”, yakni enam anak rantau yang sedang menimba ilmu di Pondok Madani, yang berada di pelosok daerah Ponorogo, Jawa Timur.

Novel yang berangkat dari pengalaman nyata penulis yang meraih gelar pascasarjana di George Washington University itu sepertinya mengajak pembaca untuk merajut mimpi sejak kecil.

Mengingat, A. Fuadi merasakan bagaimana kedahsyatan mimpinya yang ingin pergi ke negeri Paman Sam, yang dibangunnya semenjak masih nyantri di Pondok Madani pada akhirnya mampu digapainya. Namun semua itu sekarang disadari penulis sebagai wujud akumulasi mimpinya yang tertanam kuat sejak lama hingga mimpi itu mampu digapainya beberapa tahun kemudian.

Penulis yang mengidentifikasi dirinya sebagai Alif Fikri Chaniago yang berasal dari salah satu daerah pelosok tanah Minangkabau dekat Danau Maninjau Sumatera Barat, memutuskan menempuh pendidikan berbasis agama di Pondok Madani, setelah keinginannya masuk SMA ditolak kedua orangtuanya.

Alif yang hidup dalam pondokan secara tak langsung berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmadjid dari Sumenep Madura, Atang dari Bandung, dan Baso dari Gowa Sulawesi Selatan. Karena sangat akrab dan kemana-mana selalu berenam, yang mempunyai kebiasaan berkumpul di kaki menara masjid yang ada dalam komplek pondokan membuat mereka dijuluki Sahibul Menara.

Aktivitas keseharian keenam santri itu di bawah menara Masjid Jami dengan menatap awan lembayung yang bergerak ke ufuk sambil menunggu datangnya waktu shalat Maghrib menjelma menjadi negara dan benua impian yang setidaknya mesti dikunjungi, hingga membuat mereka saling melontarkan mimpinya masing-masing.

Seperti Alif yang secara tiba-tiba memiliki cita-cita kuliah di Amerika Serikat setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Madani, Atang yang ingin kuliah di Timur Tengah (Arab Saudi), Baso berencana menimba ilmu ke Universitas Al Azhar Mesir, Raja yang berharap dapat kuliah di Eropa, dan Said dan Dulmadjid yang ingin bahu-membahu membangun pesantren di daerahnya.

Namun keenam santri cerdas itu dalam perjalanan waktu tak hanya berkhayal semata, melainkan berusaha menggapainya dengan tekun belajar dan diiringi perjuangan keras tak kenal lelah untuk mewujudkannya.

Karena mereka yakin Sang Pencipta sungguh Maha Mendengar yang akan selalu mengabulkan keinginan hambanya yang taat dan selalu berusaha, seperti motto man jadda wajada.

Seolah sudah jodoh, setelah berpisah setelah selesai menempuh pendidikan di pondok Madani, selang beberapa tahun Alif yang berhasil menamatkan pendidikannya di negeri Paman Sam bertemu dua teman pondoknya di Trafalgar Square London, yakni Atang yang berhasil kuliah hingga jenjang doktoral di Al Azhar, dan Raja yang memutuskan bermukim di London setelah lulus kuliah dari salah satu universitas di Madinah.

Pertemuan bersejarah itu memantik romantisme masa lalu Sahibul Menara dan menguatkan memori ketiga orang itu tentang dahsyatnya kekuatan mimpi. Karena dari hasil reuni tersebut diketahui pula bahwa Baso yang dulu sempat drop out dari Pondok Madani berhasil merealisasikan mimpinya dengan kuliah di Mekkah. Sementara Said dan Dulmadjid sukses berkoalisi mendirikan pesantren modern di Surabaya.

Judul : Negeri 5 Menara
Penulis : A. Fuadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : I, Agustus 2009
Tebal : xiii + 416 halaman
Peresensi : Erik Purnama Putra, adalah Aktivis Pers Bestari Universitas Muhammadiyah Malang

Iklan

Menguak Problem Kota Malang (Resensi Buku)

Posted in Resensi Buku on Agustus 20, 2008 by erikpurnama

Koran Bestari, No.233/Th.XXI/Desember 2007

Malang sejak dulu terkenal dengan sebutan kota Tri Bina Citra, yaitu sebagi kota Pendidikan, Industri, dan Pariwisata sebagai dasar pijakan membangun kota Malang. Ke tiga hal pokok tersebut merupakan cita-cita antara masyarakat dan pemerintah kota (Pemkot) Malang, yang harus dilestarikan guna mewujudkan kota Malang sesuai harapan bersama.

Sebagaimana yang kita tahu, kota Malang sekarang menjelma menjadi sebuah kota metropolis. Banyak sarana dan prasarana yang dibangun pemerintah guna memenuhi segala kebutuhan masyarakat kota. Mulai menjamurnya rumah toko (ruko), pusat perbelanjaan (mal), bahkan sampai pembangunan infrastruktur jembatan layang (fly over) dibangun guna memanjakan masyarakat. Tetapi, semua fasilitas itu menyisakan masalah dikemudian hari.

Banyaknya permasalahan yang terjadi di kota Bunga -julukan bagi kota Malang—menjadi perhatian tersendiri bagi Wahyu Hidayat untuk mengupasnya ke dalam buku yang berjudul Malang, Kota Kita. Buku ini memang tidak berisikan seperti karya ilmiah yang harus berujung kepada kesimpulan. Namun, buku yang content-nya tentang catatan problematika Kota Malang ini, bisa menjadi sebuah pegangan warga Malang untuk menilai permasalahan; seperti problem ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan hidup secara lebih obyektif.

Memang permasalahan yang dihadapi kota Malang, juga dihadapi kota besar lainnya di Indonesia, namun yang menjadi catatan adalah apakah masih relevan jika Kota Malang dikaitkan dengan Tri Bina Citra-nya? Sebuah pertanyaan logis yang mengemuka, bila melihat banyaknya permasalahan yang timbul di kota Malang dewasa ini.

Misal permasalahan banjir, sebenarnya kota Malang secara geografis berbeda dengan kota Jakarta, Surabaya, Tanggerang, dan Kediri yang saat ini ditimpa banjir. Sekarang Malang tak ubahnya seperti kota tersebut, yang mengalami banjir di musim penghujan (hal: 67). Sangat disayangkan, Malang yang berada di dataran tinggi mengalami musibah yang sama dengan kota lainnya yang berada di dataran rendah.

Di samping berbagai permasalahan yang ada di kota Bunga, buku ini juga mengangkat prestasi membanggakan yang diraih kota Malang, yakni mampu mempertahankan piala Adipura atas prestasinya di bidang lingkungan hidup. Program Malang Ijo Royo-royo (MIRR) yang diusung Pemkot Malang mampu menjaga kelestarian lingkungan hidup dan dinilai sebuah sebuah gebrakan bagus yang mampu mengangkat kota Malang.

Ironisnya, di tengah gencarnya Pemkot Malang mengkampanyekan gerakan MIRR, di sisi lain luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) semakin menyusut. Pesatnya pembangunan di Kota Malang, tak diimbangi dengan kemampuan Pemkot untuk mempertahankan area RTH. Sehingga daerah resapan air berkurang dan Banjir akan selalu menggenang setiap hujan turun.

Selain itu, banyak kawasan hijau yang beralih fungsi menjadi bangunan, menyebabkan Pemkot Malang dianggap inkonsisten terhadap peraturan daerah (Perda) nomor 7 tahun 2001, yang mengatur permasalahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang dibuatnya sendiri. Hal itu dilakukan Pemkot karena semata-mata hanya untuk menyenangkan dan menarik investor, tetapi mengorbankan aspek lingkungan. Akibatnya, hal itu semakin menambah daftar panjang masalah kota Malang.

Judul Buku : Malang, Kota Kita

Penulis : Wahyu Hidayat Riyanto

Edisi : Oktober 2007

Penerbit : UMM Press

Peresensi : Erik Purnama Putra

Erik Purnama Putra

Mahasiswa Psikologi UMM